http://koran.kompas.com/read/xml/2009/08/26/04531469/pengelola.mal.janji.sediakan.parkiran.sepeda
Rabu, 26 Agustus 2009 | 04:53 WIB
JAKARTA, KOMPAS - Pengelola pusat perbelanjaan di Indonesia, terutama di Jakarta dan sekitarnya, berjanji akan menyediakan tempat parkir sepeda.
”Saya sepakat dengan komunitas pesepeda bahwa pengelola gedung-gedung di Jakarta dan sekitarnya perlu menyediakan tempat parkir khusus sepeda. Kami berjanji menyediakannya dan itu tidak sulit,” kata Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Stefanus Ridwan kepada Kompas, Selasa (25/8).
Namun, Stefanus berharap dapat bertemu, duduk bersama, dan berdiskusi dengan sejumlah komunitas pesepeda di Jabodetabek. ”Sebab yang menjadi persoalan bagi kami adalah soal keamanan sepeda. Bagaimana petugas sekuriti dapat mengenali sepeda ini betul milik A atau B? Bukankah sepeda tidak memiliki nomor polisi? Persoalan keamanan menjadi kepedulian kami karena itu tanggung jawab kami,” katanya.
Menurut Stefanus, peralatan sepeda sekarang mudah dipreteli. ”Ini yang membuat kami harus lebih hati-hati dalam soal parkiran sepeda,” lanjutnya.
Stefanus menegaskan kembali komitmen para pengelola pusat belanja untuk menyediakan tempat parkir khusus sepeda. ”Tempatnya tidak terlalu luas. Tarif parkirnya pun tidak semahal mobil dan motor,” katanya.
Sementara itu Direktur Komunikasi Hotel Borobudur Jakarta Fika Kansil mengatakan, hotel di kawasan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, itu sejak dua tahun terakhir ini sudah menyediakan lahan parkir sepeda.
”Parkiran sepeda menjadi satu dengan parkiran sepeda motor di area parkir yang merupakan fasilitas hotel. Bersih, lengkap dengan atap agar tidak kepanasan dan kehujanan. Petugas sekuriti mencatat sepeda yang masuk dan keluar dengan cermat,” kata Fika Kansil.
Sebelumnya, seorang sepeda, Nugroho F Yudho, kecewa dengan sikap petugas sekuriti sebuah hotel bintang lima di kawasan Senayan yang melarang sepeda lipatnya masuk ke areal hotel. Padahal, General Manager Humas Kompas Gramedia itu akan bertemu dengan relasinya, warga negara Jepang. Nugroho berharap hotel-hotel lebih ramah kepada pesepeda.
Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo meminta pengelola gedung menyediakan tempat parkir sepeda. Fauzi meminta DPRD DKI mempersiapkan aturan khusus tentang parkiran ini.
Sekretaris Daerah Muhayat menyatakan sedang mempersiapkan tempat parkir sepeda di setiap feeder busway. Beberapa lokasi yang sedang dipersiapkan adalah Kalideres, Lapangan IRTI Monas, Kampung Rambutan, dan Ragunan.
Adapun perumahan yang memiliki jalur sepeda baru Pantai Indah Kapuk di Jakarta Utara. Dalam waktu dekat, BSD menyediakan jalur bagi pesepeda, khusus pada hari Minggu. (KSP)
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Selasa, 25 Agustus 2009
Jumat, 31 Juli 2009
Rahma-Yunara Kayuh Impian dengan Sepeda
http://megapolitan.kompas.com/read/xml/2009/08/01/08533473/Rahma-Yunara.Kayuh.Impian.dengan.Sepeda
Rahma-Yunara Kayuh Impian dengan Sepeda
KOMPAS/DANU KUSWORO
SABTU, 1 AGUSTUS 2009 | 08:53 WIB
MENJADI penyandang tunarungu tak menjadi halangan bagi pasangan suami-istri, Yunara (33) dan Rahma Anggraeni Chibro (28), yang ingin mulai mewujudkan impian untuk keliling Indonesia. Dengan mengayuh sepeda yang terkadang mengeluarkan bunyi ngik-ngik-ngik, mereka mulai gowes dari Bandung, 30 Juni lalu.
Setelah tiga hari di Jakarta, keduanya datang ke Kompas, Kamis (30/7), dengan ditemani Alfa Febriyanto dari Komunitas Pekerja Bersepeda Indonesia, Bike 2 Work Indonesia. Mereka semangat bercerita ingin keliling Indonesia untuk membuktikan penyandang tunarungu pun memiliki kemampuan sama dengan orang normal untuk melakukan segala sesuatu yang luar biasa.
Melewati jalan ramai sepanjang Bandung-Cianjur-Puncak-Bogor-Cibinong-Depok-Jakarta, Rahma ngeri dengan truk, bus, dan sepeda motor yang melaju kencang dan ugal-ugalan. ”Rahma depan. Saya belakang. Truk, bus, angkot (angkutan kota), bemo, sepeda motor tidak bagus. Mobil pribadi bagus (tak ugal-ugalan),” kata Yunara dengan cara bicara kurang lancar.
Selama perjalanan, Rahma-Yunara sering berhenti melihat petunjuk jalan atau bertanya kepada polisi lalu lintas dan pedagang kaki lima untuk mengetahui arah tujuan. Jika tidak ada yang mengerti apa yang mereka tanyakan, Rahma siap dengan pena dan buku. Keduanya terus mengayuh sepeda tanpa sarapan. Jika tiba waktu makan siang, mereka hanya minum air putih dan roti. Makan nasi hanya pada malam hari. ”Kalau sudah gowes, lupa makan,” kata Yunara sambil tersenyum.
Padahal, ransel yang dibawa di pundak lumayan berat karena berisi pakaian, baju pramuka, kaus, sepatu, obat-obatan, vitamin, dan peralatan mandi. Segala macam dokumen penting, seperti ijazah, sertifikat, foto, dan permohonan dukungan moril dan materiil, juga dibawa.
Meski pasangan suami-istri kelahiran Bandung itu masih bisa sayup-sayup mendengar suara klakson, tetap saja tidak luput dari senggolan kendaraan lain. Rahma pernah tertabrak sepeda motor dan Yunara keserempet angkot. Tidak jarang pula keduanya dimaki-maki karena tidak juga minggir meski diklakson berkali-kali. ”Saya bilang maaf, maaf,” kata Rahma.
Rahma-Yunara singgah beberapa hari di Jakarta karena ingin bertemu pejabat. Sejauh ini mereka baru berhasil bertemu Menteri Negara Pemuda dan Olahraga Adhyaksa Dault.
Sulit cari kerja
Ide keliling Indonesia muncul awal tahun ini dan terbentur masalah dana karena baik Rahma maupun Yunara tidak bekerja. Keduanya sehari-hari aktif sebagai pramuka luar biasa tunarungu. Rahma menganggur sejak 6 tahun lalu, sementara Yunara di-PHK 15 tahun lalu.
Kedua mantan atlet nasional kejuaraan khusus penyandang cacat—Rahma atlet lompat jauh dan Yunara atlet lari jarak 100 meter—itu berkali-kali mencoba melamar di pabrik dan ”kerja kantoran”. Namun, mereka selalu ditolak karena perusahaan tidak mau menanggung risiko memiliki karyawan penyandang tunarungu. ”Takut kecelakaan. Tidak dengar,” kata Yunara.
Rahma segera menambahkan, ”Tunanetra kerja bagus. Cacat fisik ada kerja. Tunarungu tidak ada kerja. Saya ingin kerja,” kata Rahma geregetan. Rahma dan Yunara berharap hasil dari keliling Indonesia ini bisa dipakai sebagai modal usaha menjahit.
Berbekal Rp 250.000, keduanya memulai perjalanan. Sebelum berangkat, mereka menitipkan anaknya, Fadhilah Dzulfiani (3), kepada saudara sekaligus pemilik rumah kontrakan mereka di Jalan Jati Menak C4-7 RT 03 RW 06, Margaasih, Bandung.
Jika kangen Zulfi, mereka tinggal mengetik SMS dan mengaktifkan video call di telepon genggam low end karena tidak bisa memanfaatkan fasilitas suara. Keduanya bisa berkomunikasi dengan bahasa isyarat melalui video call dengan teman sesama penyandang tunarungu yang ikut membantu menjaga anak mereka. ”Bisa lihat Zulfi,” kata Rahma yang kerap menuliskan kalimat yang sulit dipahami lawan bicara.
Selain pembuktian diri, Rahma juga ingin mencari ayahnya, Suvenir Chibro, yang tak diketahui kabarnya lagi sejak 2000. Rahma hanya tahu ayahnya kini bekerja di kantor kejaksaan tinggi di Papua. ”Dua puluh tahun ditinggal ayah, ketemu sekali tahun 2000,” tutur Rahma yang ditinggal ayahnya ketika ia berusia 2 tahun. Sepeninggal ayahnya, Rahma demam tinggi dan kehilangan pendengaran.
Rahma-Yunara berharap bisa selesai keliling 33 provinsi selama 1,5-2 tahun. Impian Rahma tak hanya berakhir di situ. Setelah keliling Indonesia, ia ingin mengayuh sepeda hingga ke luar negeri. ”Mau ketemu Obama (Presiden AS Barack Obama). Lama ya. Mungkin 7 tahun ya naik sepeda ke Amerika,” kata Rahma dengan tawa berderai. (LUKI AULIA)
Neil, dari Spanyol Menebar Tawa
http://megapolitan.kompas.com/read/xml/2009/08/01/0912081/Neil..dari.Spanyol.Menebar.Tawa
Neil, dari Spanyol Menebar Tawa
KOMPAS/AMIR SODIKIN
Alvaro Neil
SABTU, 1 AGUSTUS 2009 | 09:12 WIB
Bersama Karma, nama sepedanya, yang membawa beban bagasi 80 kilogram, dia sudah menjelajahi 54 negara. Dari Spanyol, Alvaro Neil menapaki Amerika Selatan, Afrika Selatan, Timur Tengah, dan kini di Asia. Tepatnya di Jakarta.
Misinya satu: membuat orang-orang tersenyum dan tertawa tanpa beban. Baginya, ”dokter spesialis” yang bisa membuat orang bisa tertawa adalah badut.
Ya, Alvaro Neil adalah badut. Dialah badut bersepeda atau bahasa Spanyol-nya, bici clown (www.biciclown.com). Biciclown.com adalah situs web pribadinya.
Dari Malaysia, Neil merapat ke Indonesia lewat Sumatera. Kedatangan Neil di Indonesia menggunakan kapal, dia catat rapi di bukunya, 12 Juni 2009.
Dia menyempatkan diri ke Pulau Nias, menemui dua sahabatnya, kemudian menjelajahi daratan Sumatera yang berbukit-bukit. Barulah, Selasa (28/7), dia sampai di Jakarta.
Di Jakarta, Neil menginap di rumah presenter televisi dan penyiar Radio Motion, Jakarta, Arie Dagienkz. Arie memang khusus menyediakan tempat untuk para pengelana bersepeda.
Rabu (29/7) pagi lewat Radio Motion, Alvaro Neil sudah ikutan mengocok perut para pendengar. Ceplas-ceplos, gaya bicara yang ramai, membuat penyiarnya juga terkekeh-kekeh.
Acara itu adalah yang pertama di Jakarta. Rencananya, dia menggelar pertunjukan badut gratis di Jakarta untuk orang-orang tak beruntung, misalnya narapidana, pasien, dan para anak yatim.
”Tapi, saya tidak punya kontak di Jakarta, jadi belum ada pertunjukan. Kedutaan (Spanyol) tak bisa memberi bantuan banyak,” kata Neil, yang telah menggelar 50 kali pertunjukan di beberapa negara.
Di Indonesia, dia akan tinggal lima hingga enam bulan. Dari Jakarta, ia akan bergerak ke timur menelusuri Pulau Jawa menuju Timor Leste. ”Dari Timor Leste ke Sulawesi, kemudian Filipina, setelah itu Kalimantan,” katanya.
Dia tak punya preferensi politik atau kecenderungan ideologi tertentu. Baginya, misi bersepeda ini mengalir saja.
Apakah ada rencana mengunjungi daerah tertentu? ”Tak ada rencana. Dalam perjalanan, rencana saya adalah tak ada rencana. Apa pun bisa terjadi besok,” katanya.
Mantan pengacara
Sebagian orang, bahkan termasuk ibunya, menganggap apa yang dilakukan Neil itu gila. Namun, dia bersikukuh menjalani proyek pribadi yang diberinya nama MOSAW (Miles of Smiles Around the World) dengan target waktu 10 tahun, 2004-2014.
Dia adalah mantan pengacara yang sudah berpraktik selama lima tahun di Madrid. Lelaki yang mempelajari ilmu hukum dan juga ilmu badut ini menyadari, kekayaan tak berarti apa-apa karena hidup begitu singkat. Ia merasa harus melakukan sesuatu.
Alvaro Neil memilih bersepeda. Dia mulai berkelana ke Swiss dan Amerika Selatan tahun 2001. Seusai menjelajahi 10 negara di Amerika Selatan, pada 2004 ia memutuskan keliling dunia. Ia menjual mobil dan menguras tabungan untuk proyeknya.
Salah satu ”keahlian” Neil adalah mampu bertahan hidup dengan biaya murah. ”Saya tak menginap di hotel, tetapi tinggal di rumah penduduk lokal atau memasang tenda,” katanya.
”Saya hanya makan makanan lokal. Kadang penduduk lokal memberi saya makan, dan donasi,” tambahnya. Mulai dari tempat dingin bersalju hingga panas menyengat, seperti gurun, sudah ia lalui bersama Karma.
Baginya, kecepatan sepeda selaras dengan kecepatan manusia. Apa pun yang terjadi pada kecepatan itu bisa tetap dinikmati. Lalu, apa artinya bersepeda baginya?
”Bersepeda itu cara saya mengerti hidup. Ini adalah cara saya untuk hidup, untuk melihat dunia. Orang banyak membantu saya karena sepeda,” katanya.
Dengan bersepeda, dia merasa bisa mencium bau tanah, merasakan cuaca, dan dekat dengan alam. ”Saya tak suka kecepatan, tak suka kendaraan polutif,” katanya.
Takut bus
Dia tak takut melewati daerah berbahaya, juga tak takut akan kelaparan. ”Jika kita takut penderitaan, kita akan menderita ketakutan selamanya,” ujarnya.
”Saya hanya takut kepada sopir bus dan truk yang ugal-ugalan. Serius, ini menakutkan saya karena ada teman yang meninggal karena tertabrak bus,” katanya.
Apalagi di Indonesia pada umumnya, Neil mengkritik perilaku pengguna jalan yang tak punya rasa hormat kepada pengendara sepeda.
Dengar juga gugatan lainnya. ”Sebagian orang Indonesia itu ramah, tetapi mereka tak peduli lingkungan. Mereka membuang sampah sembarangan. Jakarta yang polutif seperti ini membuat saya sedih,” katanya.
Pesan Neil, jangan remehkan pesepeda. Bagi mereka, bersepeda adalah pilihan ideologi ramah lingkungan dan tak bisa diganggu gugat. Apalagi oleh mereka yang setiap hari mencemari Bumi dengan asap kendaraan.
Ia selalu mencatat kejadian-kejadian unik dan penting, baik di buku harian maupun di situs web. Kabar terbaru dari Neil adalah pertemuannya yang mengejutkan dengan sesama pengelana dunia, Jean Beliveau (www.wwwalk.org).
Beliveau adalah warga Kanada yang juga keliling dunia sejak tahun 2000 dan berencana hingga 2011. Neil pernah bertemu Beliveau di Peru, tujuh tahun lalu. Kini mereka bertemu tak sengaja di warung tegal di daerah Tangerang.
Pengalaman menjengkelkan juga dia ceritakan ketika menapaki jalanan Sumatera dengan tanjakan dan turunan ekstrem. ”Benar-benar tak ada jalan untuk pesepeda,” katanya.
Penduduk lokal juga tak banyak membantu di jalanan Sumatera. Pengendara mobil dan sepeda motor berperilaku buruk. ”Mereka selalu membunyikan klakson setiap saat. Terkadang meneriaki saya saat saya berada di tengah tanjakan,” paparnya.
Di jalan yang dilewati sepanjang 65.089 kilometer, Neil selalu mencatat pengalamannya, baik positif maupun negatif. Sayangnya, di jalan juga, perilaku sesungguhnya sebuah bangsa selalu terkuak. Oleh karena itu, tetaplah tersenyum dan murah hati, jangan ugal-ugalan jika ingin dianggap bangsa yang ramah. (AMIR SODIKIN)
Rabu, 24 Juni 2009
Ruang untuk Sepeda
http://www.suarapembaruan.com/index.php?detail=News&id=8790
Tulisan Rahardi Ramelan
Jakarta sebagai ibukota negara menjadi sumber dan pusat berbagai kegiatan, baik ekonomi, politik, entertainment, maupun olahraga. Bundaran Hotel Indonesia (HI) dengan Tugu Selamat Datang sudah menjadi ikon Kota Jakarta sejak 1960-an. Menjelang Asian Games 1962, di samping HI dan Gelora Bung Karno, juga diluncurkan stasiun televisi dan pembangunan Velodrom di Rawamangun. Velodrom adalah tempat latihan dan balap sepeda. Tetapi, nasib perkembangan olahraga sepeda sama dengan olahraga lainnya. Hanya dengan memiliki fasilitas stadion, tidak menjadi jaminan bahwa olahraga akan maju. Itulah kenyataan yang dihadapi bangsa ini.
Akhir-akhir ini, olahraga bersepeda diminati banyak penduduk Jakarta dan telah menjadi fashion. Politisi, selebriti, pengusaha, pengurus partai politik, dan lain-lainnya memanfaatkan olahraga bersepeda sebagai cara menunjukkan kedekatannya dengan rakyat. Bundaran HI, Monas, dan Gelora Bung Karno, selain tempat yang paling strategis untuk mengadakan demonstrasi, juga menjadi tempat strategis dalam acara bersepeda. Kelompok-kelompok bersepeda pun bermunculan, seperti Bike to Work, Bike to School, dan Kelompok Sepeda Ontel. Kegemaran bersepeda ini ditunjang oleh perkembangan teknologi dan industri sepeda. Beberapa merek lokal telah berkembang pesat, walupun harus bersaing dengan produk dari Tiongkok dan Taiwan. Sepeda jadul, sepeda ontel, mulai mendapat tempat kembali, mirip peran mobil antik atau vintage.
Sepeda dapat terjangkau oleh semua lapisan, karena harganya sangat bervariasi, dari ratusan ribu sampai puluhan juta rupiah. Berbagai bentuk dan model sepeda berkembang. Bagi rakyat biasa sepeda masih menjadi alat angkut vital untuk menunjang ekonomi mereka, seperti penjual roti, bakso, tukang jahit, dan ojek sepeda. Oleh karena itu, Pemprov DKI Jakarta pernah mempunyai rencana membuat jalur khusus sepeda. Car free day telah dilaksanakan di ruas-ruas jalan tertentu setiap hari Minggu, mulai pukul 06.00 sampai 09.00. Hanya sayangnya, kebebasan bersepeda pada hari itu masih dihantui oleh perilaku pengendara sepeda motor dan mobil, yang tidak mempunyai tenggang rasa. Apakah jalur khusus untuk sepeda akan menjadi solusi?
Kenyataan lainnya yang dihadapi pengendara sepeda, tidak tersedianya tempat penempatan sepeda, baik dekat warung, rumah makan, maupun kafe. Demikian juga di pusat belanja tidak ada fasilitas untuk penempatan sepeda. Penulis pernah dipaksa oleh satpam untuk memindahkan sepeda yang ditempatkan di depan kafe yang menghadap ke jalan di sebuah mal di sekitar Semanggi. Akhirnya hanya diizinkan untuk menempatkan sepeda di tempat penitipan sepeda motor, yang tidak dapat terlihat.
Kantor Publik
Pemda harus tegas meminta pengelola mal, pusat belanja, kafe, restoran, sekolah, kampus, kantor wali kota, kecamatan, dan kelurahan untuk menyediakan fasilitas penempatan sepeda. Semua kantor yang melayani publik, seperti kepolisian, kantor pos, dan kantor pajak, juga harus menyediakan tempat penyimpanan sepeda.
Akan lebih rasional kalau pengembangan jalur sepeda dimulai di daerah permukiman. Mulailah dengan Menteng, Jakarta Pusat, di sekitar rumah dinas gubernur dan rumah dinas wakil presiden, atau di lingkungan tempat tinggal resmi menteri dan anggota DPR. Lingkungan permukiman elite, seperti Kebayoran Baru, Pondok Indah, Kelapa Gading, dan Pluit, harus menjadi contoh. Gubernur dan wali kota harus secara proaktif membuat perencanaan dan pengaturannya. Pemerintah daerah harus mengeluarkan peraturan agar para pengembang permukiman yang besar wajib menyediakan jalur sepeda. Jangan hanya menyelenggarakan sepeda santai dalam rangka HUT Kota Jakarta atau menjelang pilgub, pilpres untuk mencari simpati pemilih.
Kelompok bersepeda di Jakarta dan sekitarnya sedang berkembang dengan pesat. Mungkin saat ini dirasakan lebih merupakan trend dan fesyen. Bersepeda juga bukan hanya kebugaran dan berolahraga, melainkan bagian dari program mengurangi polusi udara dan suara. Bersepeda berarti juga mendukung dan bagian dari program Jakarta Hijau. Janganlah yang dimanjakan hanya pengendara kendaraan bermotor. Nasib dan kenyamanan pejalan kaki, gerobak dorong, dan pengendara sepeda, sudah saatnya juga mendapatkan perhatian serius.
Saatnya menata ulang peran jalan raya bagi semua pengguna. Kita tunggu keberanian Gubernur DKI bersama wali kota dalam merealisasikan gagasan meningkatkan budaya bersepeda di Jakarta. Masyarakat sudah lama menunggu.
Selamat HUT ke-482 Kota Jakarta.
Penulis mantan Menperindag
Tulisan Rahardi Ramelan
Jakarta sebagai ibukota negara menjadi sumber dan pusat berbagai kegiatan, baik ekonomi, politik, entertainment, maupun olahraga. Bundaran Hotel Indonesia (HI) dengan Tugu Selamat Datang sudah menjadi ikon Kota Jakarta sejak 1960-an. Menjelang Asian Games 1962, di samping HI dan Gelora Bung Karno, juga diluncurkan stasiun televisi dan pembangunan Velodrom di Rawamangun. Velodrom adalah tempat latihan dan balap sepeda. Tetapi, nasib perkembangan olahraga sepeda sama dengan olahraga lainnya. Hanya dengan memiliki fasilitas stadion, tidak menjadi jaminan bahwa olahraga akan maju. Itulah kenyataan yang dihadapi bangsa ini.
Akhir-akhir ini, olahraga bersepeda diminati banyak penduduk Jakarta dan telah menjadi fashion. Politisi, selebriti, pengusaha, pengurus partai politik, dan lain-lainnya memanfaatkan olahraga bersepeda sebagai cara menunjukkan kedekatannya dengan rakyat. Bundaran HI, Monas, dan Gelora Bung Karno, selain tempat yang paling strategis untuk mengadakan demonstrasi, juga menjadi tempat strategis dalam acara bersepeda. Kelompok-kelompok bersepeda pun bermunculan, seperti Bike to Work, Bike to School, dan Kelompok Sepeda Ontel. Kegemaran bersepeda ini ditunjang oleh perkembangan teknologi dan industri sepeda. Beberapa merek lokal telah berkembang pesat, walupun harus bersaing dengan produk dari Tiongkok dan Taiwan. Sepeda jadul, sepeda ontel, mulai mendapat tempat kembali, mirip peran mobil antik atau vintage.
Sepeda dapat terjangkau oleh semua lapisan, karena harganya sangat bervariasi, dari ratusan ribu sampai puluhan juta rupiah. Berbagai bentuk dan model sepeda berkembang. Bagi rakyat biasa sepeda masih menjadi alat angkut vital untuk menunjang ekonomi mereka, seperti penjual roti, bakso, tukang jahit, dan ojek sepeda. Oleh karena itu, Pemprov DKI Jakarta pernah mempunyai rencana membuat jalur khusus sepeda. Car free day telah dilaksanakan di ruas-ruas jalan tertentu setiap hari Minggu, mulai pukul 06.00 sampai 09.00. Hanya sayangnya, kebebasan bersepeda pada hari itu masih dihantui oleh perilaku pengendara sepeda motor dan mobil, yang tidak mempunyai tenggang rasa. Apakah jalur khusus untuk sepeda akan menjadi solusi?
Kenyataan lainnya yang dihadapi pengendara sepeda, tidak tersedianya tempat penempatan sepeda, baik dekat warung, rumah makan, maupun kafe. Demikian juga di pusat belanja tidak ada fasilitas untuk penempatan sepeda. Penulis pernah dipaksa oleh satpam untuk memindahkan sepeda yang ditempatkan di depan kafe yang menghadap ke jalan di sebuah mal di sekitar Semanggi. Akhirnya hanya diizinkan untuk menempatkan sepeda di tempat penitipan sepeda motor, yang tidak dapat terlihat.
Kantor Publik
Pemda harus tegas meminta pengelola mal, pusat belanja, kafe, restoran, sekolah, kampus, kantor wali kota, kecamatan, dan kelurahan untuk menyediakan fasilitas penempatan sepeda. Semua kantor yang melayani publik, seperti kepolisian, kantor pos, dan kantor pajak, juga harus menyediakan tempat penyimpanan sepeda.
Akan lebih rasional kalau pengembangan jalur sepeda dimulai di daerah permukiman. Mulailah dengan Menteng, Jakarta Pusat, di sekitar rumah dinas gubernur dan rumah dinas wakil presiden, atau di lingkungan tempat tinggal resmi menteri dan anggota DPR. Lingkungan permukiman elite, seperti Kebayoran Baru, Pondok Indah, Kelapa Gading, dan Pluit, harus menjadi contoh. Gubernur dan wali kota harus secara proaktif membuat perencanaan dan pengaturannya. Pemerintah daerah harus mengeluarkan peraturan agar para pengembang permukiman yang besar wajib menyediakan jalur sepeda. Jangan hanya menyelenggarakan sepeda santai dalam rangka HUT Kota Jakarta atau menjelang pilgub, pilpres untuk mencari simpati pemilih.
Kelompok bersepeda di Jakarta dan sekitarnya sedang berkembang dengan pesat. Mungkin saat ini dirasakan lebih merupakan trend dan fesyen. Bersepeda juga bukan hanya kebugaran dan berolahraga, melainkan bagian dari program mengurangi polusi udara dan suara. Bersepeda berarti juga mendukung dan bagian dari program Jakarta Hijau. Janganlah yang dimanjakan hanya pengendara kendaraan bermotor. Nasib dan kenyamanan pejalan kaki, gerobak dorong, dan pengendara sepeda, sudah saatnya juga mendapatkan perhatian serius.
Saatnya menata ulang peran jalan raya bagi semua pengguna. Kita tunggu keberanian Gubernur DKI bersama wali kota dalam merealisasikan gagasan meningkatkan budaya bersepeda di Jakarta. Masyarakat sudah lama menunggu.
Selamat HUT ke-482 Kota Jakarta.
Penulis mantan Menperindag
Kamis, 24 Juli 2008
'Rock' Majemuk Sang Ikan
Dikutip dari tulisan Pengamat Musik Denny Sakrie
Tatanan musik Tot Licht begitu kaya. Inilah album terbaik progressive rock di negeri ini setelah Guruh Gypsy.
Setelah sukses melambungkan sederet grup papan atas seperti Sheila On 7, Padi, dan Cokelat dengan penjualan jutaan keping, kini Sony Music Indonesia punya "mainan" baru: Progressive Sony atau disingkat PRS. PRS adalah sub-label Sony yang menampung grup-grup musik marginal atau "terpinggirkan" alias tidak bermain dalam jalur pop mainstream. Mereka, grup musik yang tak pernah dijamah industri musik karena muatan idealisme yang dianggap berseberangan dengan selera pasar, digamit oleh Sony Music Indonesia.
Produk perdana PRS adalah Discus, grup progressive rock yang pernah dua kali tampil dalam event progressive rock internasional: ProgDay di North Carolina, Amerika Serikat (2000), Baja Prog di Meksiko (2001). Album pertama Discus, Discus 1St, bahkan dirilis secara internasional oleh sebuah label independen Italia, Mellow Record. Selain dirilis di Indonesia oleh PRS Record, album kedua, Tot Licht, juga dirilis di Jepang oleh Gohan Records dan di Prancis oleh Musea Records.
Seperti album pertamanya, Discus 1St (Chicoira Productions, 1999), grup yang dimotori gitaris Iwan Hasan ini masih percaya pada konsep musik fusi: menggabungkan sedemikian banyak style musik. Dengan basis rock, Discus, yang didukung delapan pemusik, mengadon musiknya dengan anasir jazz, klasik, folk, dan etnik Indonesia. Bahkan mereka pun kini terlihat berani dengan menampilkan sentuhan metal. Simak saja riff-riff gitar Iwan Hasan yang tegas, tebal, dan sarat distorsi. Permainan drum Hayunaji yang powerful serta dipertegas dengan growl (teknik nyanyi menggeram yang menjadi ciri musik metal) yang dilakukan oleh Ombat Nasution, penyanyi grup metal Tengkorak, menjadi bintang tamu pada lagu Breathe.
Anasir musik yang beraneka ragam ini tampaknya diperlakukan sebagai simbolisasi. Untuk lagu yang cenderung bertendensi kritik sosial seperti System Manipulation dan Breathe, simbol bunyi itu jatuh pada sentuhan metal, yang memang memiliki kesan anger. Dalam atmosfer yang lain, Discus memberi ruang untuk bunyi-bunyian instrumen etnik dari Bali, Kalimantan, ataupun Toraja. Cerdiknya, Discus tidak berupaya memempelaikan instrumen Barat dan Timur, tapi lebih mementingkan hadirnya instrumen tradisional sebagai elemen bunyi. Tak jauh seperti pemahaman musik yang pernah dilontarkan pemusik I Wayan Sadra: mainkanlah instrumen etnik itu dengan mengabaikan pakem. Sangat berbeda dengan apa yang pernah dilakukan Eberhard Schoener, pemusik Jerman yang mencoba menggabungkan musik rock dengan gamelan Bali pada album Bali Agung (1976), yang terkesan tempelan belaka.
Menyimak musik Discus di album ini, kita seperti tengah menaiki roller coaster. Nyaris tidak ada ruang untuk bernapas. Rhythm dan komposisi melodinya padat. Beat berubah-ubah. Tapi toh mereka tak menampakkan kesan pamer kemampuan. Bahkan dinamika ritme, melodi, dan beat yang tidak konstan ini sepertinya memang diupayakan untuk mendramatisasi tema lirik. Teror musikal semacam ini memang mengingatkan kita pada upaya yang sering dilakukan Frank Zappa. Musik Discus yang bermain tanpa batas musik ini—berlari dari rock, jazz, hingga klasik—memang tak jauh dari apa yang pernah dilakukan pemusik 70-an seperti Frank Zappa ataupun Canterbury Scene, gerakan pemusik Inggris yang berasal dari Canterbury seperti National Health, Egg, Khan, Soft Machine, Matching Mole, yang bereksperimen menampilkan rock dengan dimensi majemuk.
Satu-satunya lagu yang agak menyempal di album ini adalah P.E.S.A.N, yang justru bercorak ear candy. Harmonisasi vokalnya terasa bagai kelompok PAHAMA. Paling tidak, di lagu yang dilatari petikan gitar akustik ini, kebetulan lagu ini ditempatkan pada pertengahan dari susunan 6 lagu album Tot Licht, bisa dijadikan jeda setelah dibombardir deretan lagu yang njelimet. Pada komposisi Music 4.5 Players, Discus menampilkan dialog instrumen biola (Eko Partitur), gitarharpa 21 senar (Iwan Hasan), dan klarinet (Anto Praboe). Sebuah chamber music yang bernuansa kontemporer dan mengingatkan kita pada Dixie Dregs, grup progressive rock-nya gitaris Steve Morse.
Dibanding album sebelumnya, di album Tot Licht ini, selain ingin menyajikan tatanan musik yang kaya dan majemuk, Discus juga ingin serius dalam menggarap tema lirik. Mereka ingin melakukan ekspansi tema, tidak ingin terjebak dalam tema-tema mitologi atau fiksi ilmiah seperti yang menjadi tipikal kelompok-kelompok progressive-rock mainstream di era 70-an seperti Yes atau Genesis. Kritik terhadap perilaku korup, yang masih jadi isu nasional sekarang ini, termaktub dengan lugas dan gamblang pada lagu System Manipulation:
Ethical manipulation gets justified as such
Contextual proposition, considered absolute
You thinks you're such a noble, you're just another clown
Manipulate, take advantage, twist meanings as you wish....
Discus pun merasa perlu membolak-balik catatan dua wanita yang tertindas dengan konteks yang berbeda: R.A. Kartini, wanita Jawa yang terbelenggu nilai adat, dan Anne Frank, gadis Jerman Yahudi yang melarikan diri dari holocaust Nazi dan meninggal di Kamp Konsentrasi Belsen pada usia 16 tahun. Dari buku Habis Gelap Terbitlah Terang yang berisikan kumpulan surat-surat Kartini, lalu muncul lagu "Verso Kartini - Door Duisternis tot Licht!". Sedangkan buku harian Anne Frank yang legendaris itu menjadi gagasan utama lagu Anne, yang berdurasi 19,23 menit. Liriknya digarap oleh Fadhil Indra, sang pemencet bilah-bilah kibor.
Kedua lagu ini disajikan dalam gaya naratif dan sedikit berkesan operatic. Lagu ini rasanya punya potensi kuat untuk dikembangkan menjadi semacam opera rock seperti Tommy (Pete Townshend) atau Jesus Christ Superstar (Andrew Lloyd Weber & Tim Rice). Sayangnya, kedua lagu ini terasa sangat mubazir. Padatnya narasi harus tumpang tindih dengan music score yang juga sangat padat. Terlalu menjelas-jelaskan. Sepertinya, Discus tidak begitu yakin pesan dari tema lagu tersebut bisa dipahami pendengarnya. Padahal, dengan hanya menggunakan bunyi-bunyian musik sebagai idiom, sebetulnya Discus mampu bertutur tentang pedihnya penderitaan yang dialami Kartini ataupun Anne Frank, tanpa harus bertutur secara verbal.
Uniknya lagi, Discus menampilkan tematik historis ini dengan interpretasi yang agak nyeleneh. Misalnya, cuplikan surat Kartini terhadap Stella Zeehandelaar dan Ms. Abendanon justru dibacakan oleh suara pria dengan nada geram dan tegas. Atau, gamelan Bali dan kor Kecak menyelimuti aransemen lagu Anne, bukannya musik klasik, musik yang akrab dengan atmosfer Eropa. Dan Tot Licht merupakan album progressive rock terbaik negeri ini setelah Guruh Gipsy, album kolaborasi Guruh Sukarno Putra dengan grup rock Gipsy 27 tahun yang lalu.
* pengamat musik
Majalah Tempo No. 34/XXXII/20 - 26 Oktober 2003
Setelah sukses melambungkan sederet grup papan atas seperti Sheila On 7, Padi, dan Cokelat dengan penjualan jutaan keping, kini Sony Music Indonesia punya "mainan" baru: Progressive Sony atau disingkat PRS. PRS adalah sub-label Sony yang menampung grup-grup musik marginal atau "terpinggirkan" alias tidak bermain dalam jalur pop mainstream. Mereka, grup musik yang tak pernah dijamah industri musik karena muatan idealisme yang dianggap berseberangan dengan selera pasar, digamit oleh Sony Music Indonesia.
Produk perdana PRS adalah Discus, grup progressive rock yang pernah dua kali tampil dalam event progressive rock internasional: ProgDay di North Carolina, Amerika Serikat (2000), Baja Prog di Meksiko (2001). Album pertama Discus, Discus 1St, bahkan dirilis secara internasional oleh sebuah label independen Italia, Mellow Record. Selain dirilis di Indonesia oleh PRS Record, album kedua, Tot Licht, juga dirilis di Jepang oleh Gohan Records dan di Prancis oleh Musea Records.
Seperti album pertamanya, Discus 1St (Chicoira Productions, 1999), grup yang dimotori gitaris Iwan Hasan ini masih percaya pada konsep musik fusi: menggabungkan sedemikian banyak style musik. Dengan basis rock, Discus, yang didukung delapan pemusik, mengadon musiknya dengan anasir jazz, klasik, folk, dan etnik Indonesia. Bahkan mereka pun kini terlihat berani dengan menampilkan sentuhan metal. Simak saja riff-riff gitar Iwan Hasan yang tegas, tebal, dan sarat distorsi. Permainan drum Hayunaji yang powerful serta dipertegas dengan growl (teknik nyanyi menggeram yang menjadi ciri musik metal) yang dilakukan oleh Ombat Nasution, penyanyi grup metal Tengkorak, menjadi bintang tamu pada lagu Breathe.
Anasir musik yang beraneka ragam ini tampaknya diperlakukan sebagai simbolisasi. Untuk lagu yang cenderung bertendensi kritik sosial seperti System Manipulation dan Breathe, simbol bunyi itu jatuh pada sentuhan metal, yang memang memiliki kesan anger. Dalam atmosfer yang lain, Discus memberi ruang untuk bunyi-bunyian instrumen etnik dari Bali, Kalimantan, ataupun Toraja. Cerdiknya, Discus tidak berupaya memempelaikan instrumen Barat dan Timur, tapi lebih mementingkan hadirnya instrumen tradisional sebagai elemen bunyi. Tak jauh seperti pemahaman musik yang pernah dilontarkan pemusik I Wayan Sadra: mainkanlah instrumen etnik itu dengan mengabaikan pakem. Sangat berbeda dengan apa yang pernah dilakukan Eberhard Schoener, pemusik Jerman yang mencoba menggabungkan musik rock dengan gamelan Bali pada album Bali Agung (1976), yang terkesan tempelan belaka.
Menyimak musik Discus di album ini, kita seperti tengah menaiki roller coaster. Nyaris tidak ada ruang untuk bernapas. Rhythm dan komposisi melodinya padat. Beat berubah-ubah. Tapi toh mereka tak menampakkan kesan pamer kemampuan. Bahkan dinamika ritme, melodi, dan beat yang tidak konstan ini sepertinya memang diupayakan untuk mendramatisasi tema lirik. Teror musikal semacam ini memang mengingatkan kita pada upaya yang sering dilakukan Frank Zappa. Musik Discus yang bermain tanpa batas musik ini—berlari dari rock, jazz, hingga klasik—memang tak jauh dari apa yang pernah dilakukan pemusik 70-an seperti Frank Zappa ataupun Canterbury Scene, gerakan pemusik Inggris yang berasal dari Canterbury seperti National Health, Egg, Khan, Soft Machine, Matching Mole, yang bereksperimen menampilkan rock dengan dimensi majemuk.
Satu-satunya lagu yang agak menyempal di album ini adalah P.E.S.A.N, yang justru bercorak ear candy. Harmonisasi vokalnya terasa bagai kelompok PAHAMA. Paling tidak, di lagu yang dilatari petikan gitar akustik ini, kebetulan lagu ini ditempatkan pada pertengahan dari susunan 6 lagu album Tot Licht, bisa dijadikan jeda setelah dibombardir deretan lagu yang njelimet. Pada komposisi Music 4.5 Players, Discus menampilkan dialog instrumen biola (Eko Partitur), gitarharpa 21 senar (Iwan Hasan), dan klarinet (Anto Praboe). Sebuah chamber music yang bernuansa kontemporer dan mengingatkan kita pada Dixie Dregs, grup progressive rock-nya gitaris Steve Morse.
Dibanding album sebelumnya, di album Tot Licht ini, selain ingin menyajikan tatanan musik yang kaya dan majemuk, Discus juga ingin serius dalam menggarap tema lirik. Mereka ingin melakukan ekspansi tema, tidak ingin terjebak dalam tema-tema mitologi atau fiksi ilmiah seperti yang menjadi tipikal kelompok-kelompok progressive-rock mainstream di era 70-an seperti Yes atau Genesis. Kritik terhadap perilaku korup, yang masih jadi isu nasional sekarang ini, termaktub dengan lugas dan gamblang pada lagu System Manipulation:
Ethical manipulation gets justified as such
Contextual proposition, considered absolute
You thinks you're such a noble, you're just another clown
Manipulate, take advantage, twist meanings as you wish....
Discus pun merasa perlu membolak-balik catatan dua wanita yang tertindas dengan konteks yang berbeda: R.A. Kartini, wanita Jawa yang terbelenggu nilai adat, dan Anne Frank, gadis Jerman Yahudi yang melarikan diri dari holocaust Nazi dan meninggal di Kamp Konsentrasi Belsen pada usia 16 tahun. Dari buku Habis Gelap Terbitlah Terang yang berisikan kumpulan surat-surat Kartini, lalu muncul lagu "Verso Kartini - Door Duisternis tot Licht!". Sedangkan buku harian Anne Frank yang legendaris itu menjadi gagasan utama lagu Anne, yang berdurasi 19,23 menit. Liriknya digarap oleh Fadhil Indra, sang pemencet bilah-bilah kibor.
Kedua lagu ini disajikan dalam gaya naratif dan sedikit berkesan operatic. Lagu ini rasanya punya potensi kuat untuk dikembangkan menjadi semacam opera rock seperti Tommy (Pete Townshend) atau Jesus Christ Superstar (Andrew Lloyd Weber & Tim Rice). Sayangnya, kedua lagu ini terasa sangat mubazir. Padatnya narasi harus tumpang tindih dengan music score yang juga sangat padat. Terlalu menjelas-jelaskan. Sepertinya, Discus tidak begitu yakin pesan dari tema lagu tersebut bisa dipahami pendengarnya. Padahal, dengan hanya menggunakan bunyi-bunyian musik sebagai idiom, sebetulnya Discus mampu bertutur tentang pedihnya penderitaan yang dialami Kartini ataupun Anne Frank, tanpa harus bertutur secara verbal.
Uniknya lagi, Discus menampilkan tematik historis ini dengan interpretasi yang agak nyeleneh. Misalnya, cuplikan surat Kartini terhadap Stella Zeehandelaar dan Ms. Abendanon justru dibacakan oleh suara pria dengan nada geram dan tegas. Atau, gamelan Bali dan kor Kecak menyelimuti aransemen lagu Anne, bukannya musik klasik, musik yang akrab dengan atmosfer Eropa. Dan Tot Licht merupakan album progressive rock terbaik negeri ini setelah Guruh Gipsy, album kolaborasi Guruh Sukarno Putra dengan grup rock Gipsy 27 tahun yang lalu.
* pengamat musik
Majalah Tempo No. 34/XXXII/20 - 26 Oktober 2003
Menyeruaknya Psychedelia Pop
Dikutip dari tulisan pengamat musik Denny Sakrie
Efek Rumah Kaca juga geram pada musik pop yang banyak menyanyikan cinta.
Tahun ini adalah tahun invasi band-band dalam industri musik (pop) Indonesia. Sayangnya, sebagian besar justru terjebak dalam keseragaman. Kulminasinya adalah mencuatnya "inflasi" musik pop hingga penikmat musik mengalami kesukaran membedakan antara satu band dan band yang lain.
Hal itu mengingatkan kita pada dasawarsa 1970-an, yang juga disesaki banyaknya band setelah keran yang dibuka Koes Plus mengalir deras. Saat itu, keseragaman identitas pun terjadi, baik dari struktur penulisan lagu maupun lirik. Remy Silado sempat melontarkan kritik bahwa lagu-lagu pop (band) saat itu sarat dengan kata "mengapa" yang menteror kuping.
Tak jauh beda dengan yang terjadi belakangan ini. Simaklah lirik lagu-lagu dari selaksa band yang dijejali kata-kata "selingkuh", "kekasih gelap", "bagai bintang", "bukan pujangga".
Dan seperti yang telah terjadi, di tengah keseragaman itu toh tetap ada yang berupaya untuk mengikisnya dengan menjejalkan karya-karya yang oleh sebagian khalayak awam dianggap menyimpang. Tapi bukan tak mungkin, ketika keseragaman mencapai titik nadir, suguhan musik pengimbangnya yang kerap beroposisi bisa berubah menjadi trend-setter.
Di tengah maraknya keseragaman, menyeruaklah beberapa band yang kebetulan tercerabut dari komunitas indie, yang mencoba menawarkan konsep yang sebetulnya bukan hal baru: psychedelia pop. Konsep ini merebak di Inggris dan Amerika Serikat di paruh dasawarsa 1960-an. Tersebutlah tiga band indie, yaitu Vox, Zeke and The Popo, dan Efek Rumah Kaca, yang masing-masing baru saja merilis album debut tahun ini.
Vox, band asal Surabaya yang terdiri atas Joseph Sudiro (bas, vokal), Vega Antares Setianegra (vokal, gitar), Donnie Setiohandono (keyboard, vokal), dan Gabriel Mayo Riberu (drum, vokal), merilis album Pada Awalnya (Aksara Records). Zeke and The Popo dari Jakarta, yang terdiri atas Khaseli "Zeke" Gumelar (vokal, keyboard), Iman "Babyfaced" Putra Fattah (gitar, sound device), Leonardo "Mugeni" Ringo (gitar), Yudhi "Sideburns" Harry Noor (bas), dan Amir "Kuro" (drum), meluncurkan album Space in the Headline. Adapun Efek Rumah Kaca, yang terdiri atas Cholil (vokal, gitar), Adrian (bas), dan Akbar (drum), muncul dengan album bertajuk Efek Rumah Kaca, yang mengingatkan kita pada penemuan ilmuwan Joseph Fourier pada 1824, yaitu proses atmosfer memanaskan sebuah planet.
Tak jelas kenapa banyak band indie kini yang terpukau pada atmosfer psychedelia, genre yang condong pada gerakan kultur era 1960-an. Psychedelia adalah fenomena bawah tanah kala itu yang kemudian berubah menjadi overground, terutama setelah nama-nama sohor, seperti The Beatles, mulai menyelusupkan elemen psychedelic dalam album Revolver (1966) dan mencapai puncak dengan Sgt Pepper's Lonely Hearts Club Band (1967). Juga harmoni vokal The Beach Boys dalam album Pet Sounds (1966), yang menjadi inspirasi anak band.
Tak bisa dimungkiri kehadiran elemen psychedelic yang beratmosfer trippy atau alam bawah sadar memang banyak bergumul dalam kitaran efek bunyi-bunyian yang membalut struktur lagu yang memang diakui catchy. Jika ingin mengendus aroma psychedelic dalam sebuah lagu, dipastikan bisa dijumpai anasir seperti suara sitar, glockenspiel, fuzz guitars, efek tape, hingga backward guitar (bunyi gitar yang diputar terbalik).
Simaklah introduksi lagu Jalang, yang dibawakan Efek Rumah Kaca, yang menampilkan sebuah backward dari interlude lagunya. Tata musik kelompok ini memang jelas bermuatan anasir psychedelia, apalagi mereka rasanya juga banyak terpengaruh post-rock ataupun shoegaze, subgenre yang berakar kuat pada gerakan psychedelia 1960-an. Efek Rumah Kaca pun cukup cerdas menuliskan lirik. Misalnya, dalam lagu Di Udara, yang bertutur tentang aktivis Munir:
Kubisa tenggelam di lautan
Aku bisa diracun di udara
Aku bisa terbunuh di trotoar jalan
Tapi aku tak pernah mati
Sebuah paparan lirik yang tak ditemui dalam rimbunnya band-band sekarang, yang hanya menyitir tema cinta yang dangkal. Bahkan trio ini pun geram dengan kondisi industri musik kita sekarang ini dalam lagu Cinta Melulu:
Nada nada yang minor
Lagu perselingkuhan
Atas nama pasar semuanya begitu klise
Vox bahkan lebih memilih tema persahabatan dalam lagu Ingatkah Pertama:
Ingatkah pertama kau terhenti
Dan berjanji untuk mencoba kembali?
Dan Vox sangat terpukau dengan supremasi Beach Boys dan The Beatles. Simaklah nuansa lagu Pada Awalnya, yang mengingatkan kita pada Wouldn't Be Nice-nya Beach Boys (album Pet Sounds). Pada Oh Well, dengan cerdik Vox kembali menyulam aura God Only Knows-nya Beach Boys. Petikan slide gitar pada lagu ini mengingatkan kita pada jati diri George Harrison. Lalu di coda kita diberi ilusi seolah terjebak deja vu All You Need is Love-nya The Beatles dengan tumpukan bunyi-bunyian instrumen tiup yang dimainkan Indra Aziz.
Lagi-lagi aura The Beatles era psychedelic tercium pada lagu Professor Komodo pada album perdana Zeke and The Popo. Kelompok ini sangat tekun menggarap musik, meski terkadang terasa agak berlebihan. Simak saja susupan tiupan saksofon Indra Aziz pada Unrescued World Supposed to Rescued World. Bahkan mereka pun memasukkan unsur orkestral pada interlude yang diarahkan Addie M.S. Sebuah komposisi yang membuat pendengar melayang kehilangan gravitasi. Kemurungan dan keterasingan ala Pink Floyd hingga Radiohead terasa di beberapa komposisi.
Tampaknya Zeke and The Popo memang telah memilih psychedelia sebagai cetak biru musikalnya. Mereka pun menorehkan tag-line pada kemasan albumnya: "an album for lonely people, and for those who are looking for loneliness".
Nah, jika Anda ingin mengasingkan diri dari cengkeraman musik pop (seragam) dari band yang jumlahnya tak terhitung itu, suguhan album dari ketiga band tersebut--Vox, Zeke and The Popo, dan Efek Rumah Kaca--layak disimak.
Denny Sakrie, pengamat musik
Koran Tempo Minggu, 21 Oktober 2007
Tahun ini adalah tahun invasi band-band dalam industri musik (pop) Indonesia. Sayangnya, sebagian besar justru terjebak dalam keseragaman. Kulminasinya adalah mencuatnya "inflasi" musik pop hingga penikmat musik mengalami kesukaran membedakan antara satu band dan band yang lain.
Hal itu mengingatkan kita pada dasawarsa 1970-an, yang juga disesaki banyaknya band setelah keran yang dibuka Koes Plus mengalir deras. Saat itu, keseragaman identitas pun terjadi, baik dari struktur penulisan lagu maupun lirik. Remy Silado sempat melontarkan kritik bahwa lagu-lagu pop (band) saat itu sarat dengan kata "mengapa" yang menteror kuping.
Tak jauh beda dengan yang terjadi belakangan ini. Simaklah lirik lagu-lagu dari selaksa band yang dijejali kata-kata "selingkuh", "kekasih gelap", "bagai bintang", "bukan pujangga".
Dan seperti yang telah terjadi, di tengah keseragaman itu toh tetap ada yang berupaya untuk mengikisnya dengan menjejalkan karya-karya yang oleh sebagian khalayak awam dianggap menyimpang. Tapi bukan tak mungkin, ketika keseragaman mencapai titik nadir, suguhan musik pengimbangnya yang kerap beroposisi bisa berubah menjadi trend-setter.
Di tengah maraknya keseragaman, menyeruaklah beberapa band yang kebetulan tercerabut dari komunitas indie, yang mencoba menawarkan konsep yang sebetulnya bukan hal baru: psychedelia pop. Konsep ini merebak di Inggris dan Amerika Serikat di paruh dasawarsa 1960-an. Tersebutlah tiga band indie, yaitu Vox, Zeke and The Popo, dan Efek Rumah Kaca, yang masing-masing baru saja merilis album debut tahun ini.
Vox, band asal Surabaya yang terdiri atas Joseph Sudiro (bas, vokal), Vega Antares Setianegra (vokal, gitar), Donnie Setiohandono (keyboard, vokal), dan Gabriel Mayo Riberu (drum, vokal), merilis album Pada Awalnya (Aksara Records). Zeke and The Popo dari Jakarta, yang terdiri atas Khaseli "Zeke" Gumelar (vokal, keyboard), Iman "Babyfaced" Putra Fattah (gitar, sound device), Leonardo "Mugeni" Ringo (gitar), Yudhi "Sideburns" Harry Noor (bas), dan Amir "Kuro" (drum), meluncurkan album Space in the Headline. Adapun Efek Rumah Kaca, yang terdiri atas Cholil (vokal, gitar), Adrian (bas), dan Akbar (drum), muncul dengan album bertajuk Efek Rumah Kaca, yang mengingatkan kita pada penemuan ilmuwan Joseph Fourier pada 1824, yaitu proses atmosfer memanaskan sebuah planet.
Tak jelas kenapa banyak band indie kini yang terpukau pada atmosfer psychedelia, genre yang condong pada gerakan kultur era 1960-an. Psychedelia adalah fenomena bawah tanah kala itu yang kemudian berubah menjadi overground, terutama setelah nama-nama sohor, seperti The Beatles, mulai menyelusupkan elemen psychedelic dalam album Revolver (1966) dan mencapai puncak dengan Sgt Pepper's Lonely Hearts Club Band (1967). Juga harmoni vokal The Beach Boys dalam album Pet Sounds (1966), yang menjadi inspirasi anak band.
Tak bisa dimungkiri kehadiran elemen psychedelic yang beratmosfer trippy atau alam bawah sadar memang banyak bergumul dalam kitaran efek bunyi-bunyian yang membalut struktur lagu yang memang diakui catchy. Jika ingin mengendus aroma psychedelic dalam sebuah lagu, dipastikan bisa dijumpai anasir seperti suara sitar, glockenspiel, fuzz guitars, efek tape, hingga backward guitar (bunyi gitar yang diputar terbalik).
Simaklah introduksi lagu Jalang, yang dibawakan Efek Rumah Kaca, yang menampilkan sebuah backward dari interlude lagunya. Tata musik kelompok ini memang jelas bermuatan anasir psychedelia, apalagi mereka rasanya juga banyak terpengaruh post-rock ataupun shoegaze, subgenre yang berakar kuat pada gerakan psychedelia 1960-an. Efek Rumah Kaca pun cukup cerdas menuliskan lirik. Misalnya, dalam lagu Di Udara, yang bertutur tentang aktivis Munir:
Kubisa tenggelam di lautan
Aku bisa diracun di udara
Aku bisa terbunuh di trotoar jalan
Tapi aku tak pernah mati
Sebuah paparan lirik yang tak ditemui dalam rimbunnya band-band sekarang, yang hanya menyitir tema cinta yang dangkal. Bahkan trio ini pun geram dengan kondisi industri musik kita sekarang ini dalam lagu Cinta Melulu:
Nada nada yang minor
Lagu perselingkuhan
Atas nama pasar semuanya begitu klise
Vox bahkan lebih memilih tema persahabatan dalam lagu Ingatkah Pertama:
Ingatkah pertama kau terhenti
Dan berjanji untuk mencoba kembali?
Dan Vox sangat terpukau dengan supremasi Beach Boys dan The Beatles. Simaklah nuansa lagu Pada Awalnya, yang mengingatkan kita pada Wouldn't Be Nice-nya Beach Boys (album Pet Sounds). Pada Oh Well, dengan cerdik Vox kembali menyulam aura God Only Knows-nya Beach Boys. Petikan slide gitar pada lagu ini mengingatkan kita pada jati diri George Harrison. Lalu di coda kita diberi ilusi seolah terjebak deja vu All You Need is Love-nya The Beatles dengan tumpukan bunyi-bunyian instrumen tiup yang dimainkan Indra Aziz.
Lagi-lagi aura The Beatles era psychedelic tercium pada lagu Professor Komodo pada album perdana Zeke and The Popo. Kelompok ini sangat tekun menggarap musik, meski terkadang terasa agak berlebihan. Simak saja susupan tiupan saksofon Indra Aziz pada Unrescued World Supposed to Rescued World. Bahkan mereka pun memasukkan unsur orkestral pada interlude yang diarahkan Addie M.S. Sebuah komposisi yang membuat pendengar melayang kehilangan gravitasi. Kemurungan dan keterasingan ala Pink Floyd hingga Radiohead terasa di beberapa komposisi.
Tampaknya Zeke and The Popo memang telah memilih psychedelia sebagai cetak biru musikalnya. Mereka pun menorehkan tag-line pada kemasan albumnya: "an album for lonely people, and for those who are looking for loneliness".
Nah, jika Anda ingin mengasingkan diri dari cengkeraman musik pop (seragam) dari band yang jumlahnya tak terhitung itu, suguhan album dari ketiga band tersebut--Vox, Zeke and The Popo, dan Efek Rumah Kaca--layak disimak.
Denny Sakrie, pengamat musik
Koran Tempo Minggu, 21 Oktober 2007
Langganan:
Postingan (Atom)