Tampilkan postingan dengan label discus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label discus. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 31 Oktober 2009

CD Kadri Jimmo the Prinzez of Rhytm-Indonesia Hebat



Album Indonesia Hebat
Tahun 2009
Mappa Records

Tracklist
01-Indonesia Memang Hebat
02-Semua Perasaanku
03-Maaf Cinta Noura
04-Sorry To Say
05-Satoe
06-Symphony Hati
07-Gemintang
08-Bertiga
09-Kosong
10-Secangkir Teh Sebelum Ku Pergi
11-Ocean Half



Kadri Jimmo the Prinzez of Rhytm adalah:
  • Kadri-Vocal
  • Jimmo-Vocal
  • Rifki Rachmat-Guitar 
  • Ken-Bass
  • Fadhil Indra-Keyboard
  • Hayunaji-Drum

Rabu, 05 November 2008

Discus Live in Exclusive Concert at Festival Salihara 2008

Start:     Nov 5, '08 8:00p
Location:     Teater Salihara - Pejaten Pasar Minggu

Photobucket

Kamis, 24 Juli 2008

'Rock' Majemuk Sang Ikan

Dikutip dari tulisan Pengamat Musik Denny Sakrie

Tatanan musik Tot Licht begitu kaya. Inilah album terbaik progressive rock di negeri ini setelah Guruh Gypsy.

Setelah sukses melambungkan sederet grup papan atas seperti Sheila On 7, Padi, dan Cokelat dengan penjualan jutaan keping, kini Sony Music Indonesia punya "mainan" baru: Progressive Sony atau disingkat PRS. PRS adalah sub-label Sony yang menampung grup-grup musik marginal atau "terpinggirkan" alias tidak bermain dalam jalur pop mainstream. Mereka, grup musik yang tak pernah dijamah industri musik karena muatan idealisme yang dianggap berseberangan dengan selera pasar, digamit oleh Sony Music Indonesia.

Produk perdana PRS adalah Discus, grup progressive rock yang pernah dua kali tampil dalam event progressive rock internasional: ProgDay di North Carolina, Amerika Serikat (2000), Baja Prog di Meksiko (2001). Album pertama Discus, Discus 1St, bahkan dirilis secara internasional oleh sebuah label independen Italia, Mellow Record. Selain dirilis di Indonesia oleh PRS Record, album kedua, Tot Licht, juga dirilis di Jepang oleh Gohan Records dan di Prancis oleh Musea Records.

Seperti album pertamanya, Discus 1St (Chicoira Productions, 1999), grup yang dimotori gitaris Iwan Hasan ini masih percaya pada konsep musik fusi: menggabungkan sedemikian banyak style musik. Dengan basis rock, Discus, yang didukung delapan pemusik, mengadon musiknya dengan anasir jazz, klasik, folk, dan etnik Indonesia. Bahkan mereka pun kini terlihat berani dengan menampilkan sentuhan metal. Simak saja riff-riff gitar Iwan Hasan yang tegas, tebal, dan sarat distorsi. Permainan drum Hayunaji yang powerful serta dipertegas dengan growl (teknik nyanyi menggeram yang menjadi ciri musik metal) yang dilakukan oleh Ombat Nasution, penyanyi grup metal Tengkorak, menjadi bintang tamu pada lagu Breathe.

Anasir musik yang beraneka ragam ini tampaknya diperlakukan sebagai simbolisasi. Untuk lagu yang cenderung bertendensi kritik sosial seperti System Manipulation dan Breathe, simbol bunyi itu jatuh pada sentuhan metal, yang memang memiliki kesan anger. Dalam atmosfer yang lain, Discus memberi ruang untuk bunyi-bunyian instrumen etnik dari Bali, Kalimantan, ataupun Toraja. Cerdiknya, Discus tidak berupaya memempelaikan instrumen Barat dan Timur, tapi lebih mementingkan hadirnya instrumen tradisional sebagai elemen bunyi. Tak jauh seperti pemahaman musik yang pernah dilontarkan pemusik I Wayan Sadra: mainkanlah instrumen etnik itu dengan mengabaikan pakem. Sangat berbeda dengan apa yang pernah dilakukan Eberhard Schoener, pemusik Jerman yang mencoba menggabungkan musik rock dengan gamelan Bali pada album Bali Agung (1976), yang terkesan tempelan belaka.

Menyimak musik Discus di album ini, kita seperti tengah menaiki roller coaster. Nyaris tidak ada ruang untuk bernapas. Rhythm dan komposisi melodinya padat. Beat berubah-ubah. Tapi toh mereka tak menampakkan kesan pamer kemampuan. Bahkan dinamika ritme, melodi, dan beat yang tidak konstan ini sepertinya memang diupayakan untuk mendramatisasi tema lirik. Teror musikal semacam ini memang mengingatkan kita pada upaya yang sering dilakukan Frank Zappa. Musik Discus yang bermain tanpa batas musik ini—berlari dari rock, jazz, hingga klasik—memang tak jauh dari apa yang pernah dilakukan pemusik 70-an seperti Frank Zappa ataupun Canterbury Scene, gerakan pemusik Inggris yang berasal dari Canterbury seperti National Health, Egg, Khan, Soft Machine, Matching Mole, yang bereksperimen menampilkan rock dengan dimensi majemuk.

Satu-satunya lagu yang agak menyempal di album ini adalah P.E.S.A.N, yang justru bercorak ear candy. Harmonisasi vokalnya terasa bagai kelompok PAHAMA. Paling tidak, di lagu yang dilatari petikan gitar akustik ini, kebetulan lagu ini ditempatkan pada pertengahan dari susunan 6 lagu album Tot Licht, bisa dijadikan jeda setelah dibombardir deretan lagu yang njelimet. Pada komposisi Music 4.5 Players, Discus menampilkan dialog instrumen biola (Eko Partitur), gitarharpa 21 senar (Iwan Hasan), dan klarinet (Anto Praboe). Sebuah chamber music yang bernuansa kontemporer dan mengingatkan kita pada Dixie Dregs, grup progressive rock-nya gitaris Steve Morse.

Dibanding album sebelumnya, di album Tot Licht ini, selain ingin menyajikan tatanan musik yang kaya dan majemuk, Discus juga ingin serius dalam menggarap tema lirik. Mereka ingin melakukan ekspansi tema, tidak ingin terjebak dalam tema-tema mitologi atau fiksi ilmiah seperti yang menjadi tipikal kelompok-kelompok progressive-rock mainstream di era 70-an seperti Yes atau Genesis. Kritik terhadap perilaku korup, yang masih jadi isu nasional sekarang ini, termaktub dengan lugas dan gamblang pada lagu System Manipulation:

    Ethical manipulation gets justified as such
    Contextual proposition, considered absolute
    You  thinks you're such a noble, you're just another clown
    Manipulate, take advantage, twist meanings as you wish....

Discus pun merasa perlu membolak-balik catatan dua wanita yang tertindas dengan konteks yang berbeda: R.A. Kartini, wanita Jawa yang terbelenggu nilai adat, dan Anne Frank, gadis Jerman Yahudi yang melarikan diri dari holocaust Nazi dan meninggal di Kamp Konsentrasi Belsen pada usia 16 tahun. Dari buku Habis Gelap Terbitlah Terang yang berisikan kumpulan surat-surat Kartini, lalu muncul lagu "Verso Kartini - Door Duisternis tot Licht!". Sedangkan buku harian Anne Frank yang legendaris itu menjadi gagasan utama lagu Anne, yang berdurasi 19,23 menit. Liriknya digarap oleh Fadhil Indra, sang pemencet bilah-bilah kibor.

Kedua lagu ini disajikan dalam gaya naratif dan sedikit berkesan operatic. Lagu ini rasanya punya potensi kuat untuk dikembangkan menjadi semacam opera rock seperti Tommy (Pete Townshend) atau Jesus Christ Superstar (Andrew Lloyd Weber & Tim Rice). Sayangnya, kedua lagu ini terasa sangat mubazir. Padatnya narasi harus tumpang tindih dengan music score yang juga sangat padat. Terlalu menjelas-jelaskan. Sepertinya, Discus tidak begitu yakin pesan dari tema lagu tersebut bisa dipahami pendengarnya. Padahal, dengan hanya menggunakan bunyi-bunyian musik sebagai idiom, sebetulnya Discus mampu bertutur tentang pedihnya penderitaan yang dialami Kartini ataupun Anne Frank, tanpa harus bertutur secara verbal.

Uniknya lagi, Discus menampilkan tematik historis ini dengan interpretasi yang agak nyeleneh. Misalnya, cuplikan surat Kartini terhadap Stella Zeehandelaar dan Ms. Abendanon justru dibacakan oleh suara pria dengan nada geram dan tegas. Atau, gamelan Bali dan kor Kecak menyelimuti aransemen lagu Anne, bukannya musik klasik, musik yang akrab dengan atmosfer Eropa. Dan Tot Licht merupakan album progressive rock terbaik negeri ini setelah Guruh Gipsy, album kolaborasi Guruh Sukarno Putra dengan grup rock Gipsy 27 tahun yang lalu.

* pengamat musik
Majalah Tempo No. 34/XXXII/20 - 26 Oktober 2003

Minggu, 20 Juli 2008

Discus di Jakarta Rock Parade 12 Juli 2008




Jakarta Rock Parade yg disetting jadi acara rock lintas generasi merupakan konsep yg bagus, 4 panggung yang ok (park stage, rock lounge stage, tennis outdoor dan tennis indoor) lighting yang keren, sayang dalam pelaksanaan banyak melesetnya.

Karcis yg cukup mahal (200 rb harian + 200 rb special stage) mungkin menjadi salah satu faktor sepinya penonton.
Gw pribadi juga melihat tiadanya magnet besar yg bisa menarik massa (bayangin kalo Iron Maiden bisa hadir...hehehehe ngimpi bener gw....), yg membuat orang segen dateng ke even ini.
melihat lineup Gw cuman pingin dateng di hari ke 3 Minggu 13 Juli, cuman pas Sabtu kok kebetulan anak-anak dan orang rumah pada nonton Dinos Alive di plaza tenggara, jadi ya sekalian aja nonton di Sabtu 12 Juli.
Terjadi stagnasi antar panggung, akibat beberapa band batal tampil. Cuman gw masih puas dengan tampilnya Tengkorak, Trauma, The SIGIT, Lain, Ucok AKA dan Discus yang tampil tanpa Kiki Caloh.
Karena gak bawa kamera, ini ambil beberapa gambar Discus hasil jepretan rekan Troy Norman.

CD Discus-...tot licht!



Album ...tot licht!
Tahun 2003
Interpid Music
Produced by Andi Julias, except "Music 4.5 Players" by Iwan Hasan & Andi Julias

01 System Manipulation
02 "Breathe" feat Ombat Nasution (Tengkorak)-Growl
03 P.E.S.A.N feat Andy Julias
04 Verso Kartini -Door Duisternis Tot Licht!-
05 Music 4.5 Players
06 Anne (adopted by the diary of Anne Frank/Dagboekopen)
07 Misfortune Lunatic feat Godfried L. Tobing on Vocals         

Discus:
  • Fadhil Indra
  • Iwan Hasan
  • Kiki Caloh
  • Anto Praboe
  • Eko Partitur
  • Hayunaji
  • Krisna Prameswara
  • Nonnie

CD Discus-1st


Album 1st
Tahun 1999
Executive production by Mauro Moroni for M.M.Records Productions LTD. and Mellow Records

01 Lamentation & Fantasia Gamelantronique
02 For This Love
03 Doc's Tune
04 Condissonance
05 Dua Cermin
06 Wujudkan!
07 Violin Metaphysics
08 Anugerah
09 Contrasts
    a. Opening & Mediation
    b. Gambang Suling
    c. Q/A & Odd Time Improvisations
    d. Ostinato (metal Attack!)
    e. Lydian Piano Theme & Minor Dance
    f. Gambang Suling

Discus:
  • Iwan Hasan
  • Anto Praboe
  • Eko Partitur
  • Fadhil Indra
  • Hayunaji
  • Kiki Caloh
  • Krisna Prameswara
  • Nonnie