Tampilkan postingan dengan label b2w. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label b2w. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 Juni 2010

Buatkan Fasilitas bagi Pesepeda


http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/06/16/04373252/buatkan.fasilitas.bagi..pesepeda
Buatkan Fasilitas bagi Pesepeda
Disiplin Berlalu Lintas Perlu Diperbaiki
Rabu, 16 Juni 2010 | 04:37 WIB

Jakarta, Kompas - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta harus mulai menyediakan jalur khusus sepeda karena jumlah pengguna sepeda terus bertambah. Jika kesulitan mencari lahan, Pemprov DKI dapat memanfatkan lahan tepian sungai dan jalan di perkampungan sebagai jalur sepeda.

Ketua Umum Bike to Work (B2W) Toto Sugito, Selasa (15/6) di Jakarta Pusat, mengatakan, jumlah anggotanya di Jakarta naik pesat dari 150 orang (2004) menjadi 6.000 orang (2010). Jumlah pesepeda di Jakarta jauh lebih besar karena tidak semua menjadi anggota B2W.

Peningkatan jumlah pesepeda seharusnya difasilitasi dengan penyediaan jalur untuk sepeda. Penyediaan jalur khusus makin mendesak untuk mencegah pesepeda menjadi korban kecelakaan, seperti yang menimpa Adi Nagara (27), saat bersepeda di Parung, Bogor, pekan lalu.

”Jika Pemprov DKI menyediakan jalur khusus sepeda, jumlah pesepeda akan naik lagi secara drastis. Jangan menyediakan jalur setelah jumlah pesepeda mencapai satu juta orang seperti janji Gubernur Fauzi Bowo beberapa waktu lalu,” kata Toto.



Direktur Lalu Lintas Kepolisian Daerah Metro Jaya Komisaris Besar Condro Kirono secara terpisah mengakui, infrastruktur bagi pesepeda masih belum memadai. ”Infrastruktur yang ada belum mampu menampung volume kendaraan, termasuk juga pesepeda,” kata Condro, kemarin.

Ia menyarankan agar pemerintah daerah setempat membuat jalur khusus sepeda di lokasi-lokasi jalan yang memungkinkan dibuat jalan khusus itu.

Secara umum, polisi akan terus menyosialisasikan tata cara berlalu lintas yang baik dan benar bagi semua moda transportasi, baik sepeda maupun pejalan kaki.

Mereka harus tertib mematuhi aturan berlalu lintas di jalan. Setiap kecelakaan itu didahului pelanggaran lalu lintas. Condro mengingatkan, pengguna jalan yang lebih lambat harus berada di sisi paling kiri badan jalan.

Dampak positif

Bertambahnya jumlah pengguna sepeda, kata Toto, berdampak positif bagi keuangan pemerintah, pengurangan polusi udara, dan kemacetan. Beralihnya pengguna kendaraan pribadi ke sepeda akan menurunkan subsidi bahan bakar minyak yang membebani APBN.

Pihaknya menyadari tak semua jalan dapat diisi jalur sepeda karena terlalu sempit. Namun, sebagai langkah awal, Pemprov DKI dapat memakai bantaran sungai sebagai jalur sepeda.

Jalan-jalan kampung juga dapat digunakan sebagai jalur sepeda, tetapi harus dipetakan dulu agar memudahkan pengguna sepeda. Masyarakat kampung yang dilalui harus dibina agar mendukung kawasan mereka menjadi jalur sepeda.

Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Udar Pristono sudah menyelesaikan kajian tentang pembangunan jalur sepeda. Jalur sepeda dibagi menjadi tiga tipe, bergantung pada kondisi jalan yang ada.

Tipe jalur sepeda adalah jalur khusus atau eksklusif untuk sepeda (bike path), jalur sepeda di badan jalan tetapi dapat bercampur dengan moda kendaraan lain (bike lane), dan rute sepeda yang hanya dipandu rambu (bike route). Dari ketiganya, bike path paling ideal tetapi sulit direalisasikan. Bike route paling mudah direalisasikan, tetapi masih membahayakan pesepeda.

Menurut Pristono, meski sudah mempunyai kajian, pihaknya belum dapat merealisasikan jalur sepeda di Jakarta karena masih menunggu prioritas anggaran dan kebutuhan warga.

”Jika gubernur dan DPRD menyatakan jalur sepeda menjadi prioritas utama, kami akan menjalankannya. Jika belum dianggarkan, kami belum dapat merealisasikan,” kata Pristono.

Faktor sepeda yang belum menjadi alat transportasi untuk bekerja bagi banyak orang membuat dishub memandang kebutuhannya masih sedikit.

(ECA/TRI)

Selasa, 25 Agustus 2009

Pengelola Mal Janji Sediakan Parkiran Sepeda

http://koran.kompas.com/read/xml/2009/08/26/04531469/pengelola.mal.janji.sediakan.parkiran.sepeda
Rabu, 26 Agustus 2009 | 04:53 WIB

JAKARTA, KOMPAS - Pengelola pusat perbelanjaan di Indonesia, terutama di Jakarta dan sekitarnya, berjanji akan menyediakan tempat parkir sepeda.

”Saya sepakat dengan komunitas pesepeda bahwa pengelola gedung-gedung di Jakarta dan sekitarnya perlu menyediakan tempat parkir khusus sepeda. Kami berjanji menyediakannya dan itu tidak sulit,” kata Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Stefanus Ridwan kepada Kompas, Selasa (25/8).

Namun, Stefanus berharap dapat bertemu, duduk bersama, dan berdiskusi dengan sejumlah komunitas pesepeda di Jabodetabek. ”Sebab yang menjadi persoalan bagi kami adalah soal keamanan sepeda. Bagaimana petugas sekuriti dapat mengenali sepeda ini betul milik A atau B? Bukankah sepeda tidak memiliki nomor polisi? Persoalan keamanan menjadi kepedulian kami karena itu tanggung jawab kami,” katanya.

Menurut Stefanus, peralatan sepeda sekarang mudah dipreteli. ”Ini yang membuat kami harus lebih hati-hati dalam soal parkiran sepeda,” lanjutnya.

Stefanus menegaskan kembali komitmen para pengelola pusat belanja untuk menyediakan tempat parkir khusus sepeda. ”Tempatnya tidak terlalu luas. Tarif parkirnya pun tidak semahal mobil dan motor,” katanya.

Sementara itu Direktur Komunikasi Hotel Borobudur Jakarta Fika Kansil mengatakan, hotel di kawasan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, itu sejak dua tahun terakhir ini sudah menyediakan lahan parkir sepeda.

”Parkiran sepeda menjadi satu dengan parkiran sepeda motor di area parkir yang merupakan fasilitas hotel. Bersih, lengkap dengan atap agar tidak kepanasan dan kehujanan. Petugas sekuriti mencatat sepeda yang masuk dan keluar dengan cermat,” kata Fika Kansil.

Sebelumnya, seorang sepeda, Nugroho F Yudho, kecewa dengan sikap petugas sekuriti sebuah hotel bintang lima di kawasan Senayan yang melarang sepeda lipatnya masuk ke areal hotel. Padahal, General Manager Humas Kompas Gramedia itu akan bertemu dengan relasinya, warga negara Jepang. Nugroho berharap hotel-hotel lebih ramah kepada pesepeda.

Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo meminta pengelola gedung menyediakan tempat parkir sepeda. Fauzi meminta DPRD DKI mempersiapkan aturan khusus tentang parkiran ini.

Sekretaris Daerah Muhayat menyatakan sedang mempersiapkan tempat parkir sepeda di setiap feeder busway. Beberapa lokasi yang sedang dipersiapkan adalah Kalideres, Lapangan IRTI Monas, Kampung Rambutan, dan Ragunan.

Adapun perumahan yang memiliki jalur sepeda baru Pantai Indah Kapuk di Jakarta Utara. Dalam waktu dekat, BSD menyediakan jalur bagi pesepeda, khusus pada hari Minggu. (KSP)

Rabu, 24 Juni 2009

Ruang untuk Sepeda

http://www.suarapembaruan.com/index.php?detail=News&id=8790
Tulisan Rahardi Ramelan

Jakarta sebagai ibukota negara menjadi sumber dan pusat berbagai kegiatan, baik ekonomi, politik, entertainment, maupun olahraga. Bundaran Hotel Indonesia (HI) dengan Tugu Selamat Datang sudah menjadi ikon Kota Jakarta sejak 1960-an. Menjelang Asian Games 1962, di samping HI dan Gelora Bung Karno, juga diluncurkan stasiun televisi dan pembangunan Velodrom di Rawamangun. Velodrom adalah tempat latihan dan balap sepeda. Tetapi, nasib perkembangan olahraga sepeda sama dengan olahraga lainnya. Hanya dengan memiliki fasilitas stadion, tidak menjadi jaminan bahwa olahraga akan maju. Itulah kenyataan yang dihadapi bangsa ini.

Akhir-akhir ini, olahraga bersepeda diminati banyak penduduk Jakarta dan telah menjadi fashion. Politisi, selebriti, pengusaha, pengurus partai politik, dan lain-lainnya memanfaatkan olahraga bersepeda sebagai cara menunjukkan kedekatannya dengan rakyat. Bundaran HI, Monas, dan Gelora Bung Karno, selain tempat yang paling strategis untuk mengadakan demonstrasi, juga menjadi tempat strategis dalam acara bersepeda. Kelompok-kelompok bersepeda pun bermunculan, seperti Bike to Work, Bike to School, dan Kelompok Sepeda Ontel. Kegemaran bersepeda ini ditunjang oleh perkembangan teknologi dan industri sepeda. Beberapa merek lokal telah berkembang pesat, walupun harus bersaing dengan produk dari Tiongkok dan Taiwan. Sepeda jadul, sepeda ontel, mulai mendapat tempat kembali, mirip peran mobil antik atau vintage.

Sepeda dapat terjangkau oleh semua lapisan, karena harganya sangat bervariasi, dari ratusan ribu sampai puluhan juta rupiah. Berbagai bentuk dan model sepeda berkembang. Bagi rakyat biasa sepeda masih menjadi alat angkut vital untuk menunjang ekonomi mereka, seperti penjual roti, bakso, tukang jahit, dan ojek sepeda. Oleh karena itu, Pemprov DKI Jakarta pernah mempunyai rencana membuat jalur khusus sepeda. Car free day telah dilaksanakan di ruas-ruas jalan tertentu setiap hari Minggu, mulai pukul 06.00 sampai 09.00. Hanya sayangnya, kebebasan bersepeda pada hari itu masih dihantui oleh perilaku pengendara sepeda motor dan mobil, yang tidak mempunyai tenggang rasa. Apakah jalur khusus untuk sepeda akan menjadi solusi?

Kenyataan lainnya yang dihadapi pengendara sepeda, tidak tersedianya tempat penempatan sepeda, baik dekat warung, rumah makan, maupun kafe. Demikian juga di pusat belanja tidak ada fasilitas untuk penempatan sepeda. Penulis pernah dipaksa oleh satpam untuk memindahkan sepeda yang ditempatkan di depan kafe yang menghadap ke jalan di sebuah mal di sekitar Semanggi. Akhirnya hanya diizinkan untuk menempatkan sepeda di tempat penitipan sepeda motor, yang tidak dapat terlihat.


Kantor Publik

Pemda harus tegas meminta pengelola mal, pusat belanja, kafe, restoran, sekolah, kampus, kantor wali kota, kecamatan, dan kelurahan untuk menyediakan fasilitas penempatan sepeda. Semua kantor yang melayani publik, seperti kepolisian, kantor pos, dan kantor pajak, juga harus menyediakan tempat penyimpanan sepeda.

Akan lebih rasional kalau pengembangan jalur sepeda dimulai di daerah permukiman. Mulailah dengan Menteng, Jakarta Pusat, di sekitar rumah dinas gubernur dan rumah dinas wakil presiden, atau di lingkungan tempat tinggal resmi menteri dan anggota DPR. Lingkungan permukiman elite, seperti Kebayoran Baru, Pondok Indah, Kelapa Gading, dan Pluit, harus menjadi contoh. Gubernur dan wali kota harus secara proaktif membuat perencanaan dan pengaturannya. Pemerintah daerah harus mengeluarkan peraturan agar para pengembang permukiman yang besar wajib menyediakan jalur sepeda. Jangan hanya menyelenggarakan sepeda santai dalam rangka HUT Kota Jakarta atau menjelang pilgub, pilpres untuk mencari simpati pemilih.

Kelompok bersepeda di Jakarta dan sekitarnya sedang berkembang dengan pesat. Mungkin saat ini dirasakan lebih merupakan trend dan fesyen. Bersepeda juga bukan hanya kebugaran dan berolahraga, melainkan bagian dari program mengurangi polusi udara dan suara. Bersepeda berarti juga mendukung dan bagian dari program Jakarta Hijau. Janganlah yang dimanjakan hanya pengendara kendaraan bermotor. Nasib dan kenyamanan pejalan kaki, gerobak dorong, dan pengendara sepeda, sudah saatnya juga mendapatkan perhatian serius.

Saatnya menata ulang peran jalan raya bagi semua pengguna. Kita tunggu keberanian Gubernur DKI bersama wali kota dalam merealisasikan gagasan meningkatkan budaya bersepeda di Jakarta. Masyarakat sudah lama menunggu.

Selamat HUT ke-482 Kota Jakarta.


Penulis mantan Menperindag

Senin, 01 Juni 2009

In The Land of Giant




Seperti biasa, hari senin selalu bersemangat untuk gowes ke kantor, dengan alasan untuk menghilangkan penyakit malas paska weekend an.
Berangkat dari Sumur Batu pukul 5.45 dan telah sampai di parkiran kantor pukul 7.10.
Setelah memarkir my yellow submarine, segera keruangan kerja, mendinginkan badan sambil browsing, setelah itu mandi seger.
Karena belum sarapan dari rumah sekitar pukul 7.30 turun kembali untuk sarapan, dan sempat melihat di halaman parkir sepeda kuning kesayangaku sendirian kejepit diantara puluhan motor yang terparkir.

Minggu, 31 Mei 2009

Bersepeda "Membelah" Jakarta

http://megapolitan.kompas.com/read/xml/2009/05/30/05245594/bersepeda.membelah.jakarta
Bersepeda "Membelah" Jakarta
Oleh ADI PRINANTYO

KOMPAS.com - Lima tahun silam, Toto Sugito (45) praktis sendirian bersepeda sejauh 33,4 kilometer dari rumahnya di Cibubur ke kantornya di Tebet. Tetapi, kini, ia punya sekitar 11.000 ”teman seperjuangan”.

Toto, yang kini memimpin Komunitas Pekerja Bersepeda (Bike to Work Community— B2W) dengan 11.000 anggota, harus rela menerima cibiran dan ”dentuman” perta - nyaan dari lingkungan terdekat saat pertama kali hendak bersepeda ke kantor.

”Istri saya pada awalnya tidak setuju saya ber-B2W karena, selain bahaya lalu lintas yang semrawut, kebetulan dia—yang mempelajari ilmu kesehatan masyarakat —tahu benar bahaya polusi udara bagi kesehatan,” ujar Toto awal pekan ini.

Direktur PT Anggara Architeam, sebuah perusahaan konsultan arsitektur di Tebet Barat, ini tak sekadar bersepeda dari rumah ke kantor, tetapi ke mana pun aktivitasnya setelah berada di kantor. Jika ada rapat siang hari di kawasan Jalan Merdeka Selatan, maka rute Tebet- Merdeka Selatan juga ditempuh dengan sepeda.

Motivasinya? Yang pasti, bersepeda membuatnya terbebas dari stres akibat kemacetan yang setiap saat dan di mana pun bisa terjadi di Jakarta. ”Manfaat lainnya jadi lebih hemat, karena tidak perlu mengeluarkan dana bahan bakar kendaraan. Selain itu, dari sisi lingkungan, kita berperan aktif mengurangi emisi gas buang kendaraan bermotor yang memperparah polusi udara,” kata Toto.

Meski sejak 2005 ia pindah domisili ke Tebet Utara sehingga jarak ke kantornya hanya 2 kilometer, ia tetap konsisten bersepeda minimal 18 kilometer per hari, sepanjang ia bisa.

”Seperti saya bilang, bersepeda bukan hanya dari rumah ke kantor, tetapi selama jarak itu bisa saya tempuh dengan sepeda, saya akan pakai sepeda. Begitu pula soal frekuensi. Kalau bisa ber-B2W tiga hari sepekan, ya saya lakukan. Kalau bisa lebih sering dari itu, kenapa tidak,” tutur Ketua Umum Bike to Work Indonesia itu.

Segala lapisan

”Demam” bersepeda, sebagai bagian dari upaya mengatasi kemacetan, ingin lebih sehat, dan ingin ikut serta mengurangi polusi, pada akhirnya lekas menjalar ke berbagai kalangan. Menurut Ketua Bike to Work Indonesia Ozy F Sjarindra, anggota B2W Indonesia sudah mencapai 11.000 orang, tersebar di seluruh Indonesia. Angka itu merefleksikan pertumbuhan anggota yang pesat karena, pada 2004, anggotanya baru sebatas 150 orang.

Anggotanya sangat beragam, mulai dari office boy sampai kalangan pemilik atau direktur perusahaan besar. Mayoritas anggota berusia 25-40 tahun dan tinggal di beberapa wilayah mulai dari Depok, Tangerang, hingga Bekasi, dan kebanyakan berkantor di pusat Kota Jakarta. Dari kalangan tokoh masyarakat, ada pula beberapa pencandu kegiatan bersepeda, seperti aktor Mathias Muchus, Juru Bicara Kepresidenan Dino Patti Djalal, dan tokoh olahraga otomotif Soebronto Laras.

Makin banyaknya warga Jabodetabek yang naik sepeda juga sedikit banyak didongkrak oleh makin maraknya kegiatan sepeda gembira atau fun bike. Kegiatan fun bike dalam rangka ulang tahun ke-10 harian Warta Kota belum lama ini, misalnya, diikuti 2.500 peserta, setelah panitia menolak ratusan peserta lain yang terlambat mendaftar.

Geliat B2W di beberapa kota luar Jakarta juga sudah berhasil mengupayakan fasilitas bersepeda, seperti di Bandung, yang sukses mempersuasi pemerintah kota untuk membuat lajur khusus sepeda. Ini beda jauh dengan Jakarta, yang belum tentu lima tahun ke depan, atau di era gubernur siapa, bisa punya lajur khusus sepeda.

Ozy menuturkan, keanggotaan B2W tidak eksklusif karena bisa diibaratkan kastanya hanya di ”dengkul”. ”Sepanjang dia mengayuh sepeda untuk menjalankan aktivitas keseharian dengan sepeda, dia anggota B2W. Keanggotaan kami cair sekali karena tidak ada alasan untuk mempersulit penambahan anggota. Makin banyak anggota, artinya Indonesia makin sehat. Kan, sederhananya demikian,” ujar Ozy, Direktur PT Astra International, yang kerap bersepeda dari rumahnya di Bintaro ke kantornya di kawasan Sudirman.

Ia merasakan, setelah sering bersepeda ke kantor, badannya terasa lebih sehat. ”Harus diakui, sebelum aktif bersepeda empat tahun lalu, sedikit-sedikit saya sakit, sedikit-sedikit meriang. Apalagi kalau kena debu,” tutur eksekutif Ibu Kota yang sudah punya hobi bersepeda sejak kuliah S-2 di Amerika Serikat itu. Namun, setelah giat bersepeda, ia kini jarang sakit.

Satu lagi yang menarik, B2W juga bukan monopoli kaum adam. Penggiat sepeda kalangan perempuan juga sudah mulai unjuk gigi. Salah satunya Ita Yulita, Direktur PT Alita Praya Mitra, perusahaan di bidang telekomunikasi dan berkantor di Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan. Ita tak hanya giat berkampanye naik sepeda untuk dirinya, tetapi juga untuk sekitar 200 karyawannya.

Sebagai bagian dari kampanyenya di perusahaan, Ita memberikan fasilitas sepeda gratis kepada semua karyawan. Sepeda itu wajib digunakan untuk pergi ke kantor setiap hari Rabu, yang sejak Oktober 2008 ditetapkan sebagai hari bebas kendaraan bermotor di Alita Praya. Perusahaan itu juga menambah fasilitas shower untuk mandi setelah bersepeda, loker, juga mendirikan bengkel khusus sepeda di kantor.

”Awalnya, banyak karyawan yang ngos-ngosan waktu naik sepeda ke kantor, terutama yang perempuan. Maklum, rumahnya kebanyakan di Cibubur, Depok, dan Bekasi. Tetapi lama-kelamaan mereka bisa menikmati juga,” kata Ita, Jumat (29/5).

Saking ”gila”-nya dengan sepeda, Ita tidak mau karyawannya menyia-nyiakan sepeda gratis itu. Ia akan mengomplain karyawan yang tidak bersepeda pada hari Rabu tanpa alasan yang bisa diterima.

Toto, Ozy, Ita, dan ribuan warga Jabodetabek sudah sekian lama membuktikan, ”membe - lah” Jakarta dengan sepeda banyak faedahnya. Dengan penuh kesabaran mereka melakukan itu meski sering mendapatkan perlakuan yang tidak selayaknya dari pengguna mobil atau sepeda motor. Tetapi, mereka yakin, kesabaran akan menuai buah masa depan: bersepeda makin menjadi gaya hidup.

Selasa, 05 Mei 2009

KOMPAS Cetak : Daisuke Mewujudkan Impiannya


http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/05/02/03304631/daisuke.mewujudkan.impiannya
Daisuke Mewujudkan Impiannya
KOMPAS/AGUS SUSANTO
Sabtu, 2 Mei 2009 | 03:30 WIB



Jika pada hari-hari ini Anda melintas di jalan-jalan di Pulau Jawa, ada kemungkinan Anda bertemu dengan seorang warga negara Jepang yang mengendarai sepeda. Jangan ragu untuk menyapa dia karena Daisuke pasti senang berkenalan dan memperoleh dukungan Anda.

Sosok Daisuke Nakanishi, begitu nama lengkapnya, tak sulit dikenali. Tubuhnya langsing dan liat dengan warna kulit lebih gelap dibandingkan umumnya orang Asia Timur. Topi tak pernah lepas dari kepala, melindungi wajahnya yang mulai dimakan usia dari terpaan sinar matahari. Namun, ciri paling jelas untuk mengenalinya adalah setengah lusin tas yang bertumpuk dan terikat bergelantungan di sepedanya.

Berbekal sepeda itu, Daisuke mewujudkan impiannya mengelilingi dunia. Sejak meninggalkan Osaka, 23 Juli 1998, Daisuke mengayuh sepedanya melewati pegunungan bersalju dan gurun tandus, melintasi batas negara dan benua. Tak hanya sekali, sarjana ekonomi lulusan Universitas Osaka ini telah dua kali mengelilingi bumi.

Indonesia adalah negara ke-125 yang disinggahi Daisuke. Saat mendarat di Jakarta, Jumat (24/4), setelah menempuh perjalanan laut selama 27 jam dari Batam, alat pengukur jarak di sepedanya menunjukkan angka 144.165 kilometer.

Sejauh itu pula dia mengayuh sepedanya selama hampir 11 tahun. Selama itu, hanya tiga kali Daisuke pulang ke Jepang. ”Ketiganya karena berurusan dengan bank,” ujarnya.

Buat sebagian orang, yang dilakukan Daisuke adalah ulah orang kurang kerjaan yang mencari sensasi. Tetapi, Daisuke punya alasan sendiri menjalani pilihan hidup yang tidak biasa ini.

”Saya suka naik sepeda. Saya senang bertemu orang dan mengenal kebudayaan mereka. Saya bermimpi untuk memiliki satu juta teman di seluruh dunia. Itulah yang saya jalani sampai sekarang,” ujarnya.

Mencari teman

Misi yang dibawa Daisuke pun sederhana, yaitu mencari teman sebanyak-banyaknya. Untuk mewujudkan itu, tak jarang dia harus berhadapan dengan situasi sulit yang mengancam jiwanya.

Di Kenya, misalnya, Daisuke terserang penyakit malaria. Beruntung, saat dia terbaring sendirian, pertolongan medis datang tepat waktu. Pada lain kesempatan, di dataran tinggi Patagonia, Amerika Selatan, Daisuke harus bertahan menghadapi embusan angin dingin yang membekukan.

Namun, pengalaman yang paling menakutkan dialaminya adalah saat berkemah di tengah padang gurun di Namibia. Dua heyna berkeliaran di luar tendanya dan baru menyingkir sekitar dua jam kemudian.

”Penduduk setempat bercerita, heyna bisa membunuh manusia. Saya takut setengah mati dan hanya bisa duduk terpaku. Senjata saya hanya sebilah pisau kecil yang biasa saya pakai untuk memasak. Malam itu saya tak bisa tidur,” katanya.

Beberapa kali Daisuke juga kehilangan miliknya karena dicuri orang, termasuk kehilangan sandal di kapal dalam pelayaran menuju Jakarta. ”Someone stole my sandals on the boat,” tulisnya dalam situs www.daisukebike.be.

Semua pengalaman unik itu berawal dari kesukaan Daisuke pada sepeda. Lahir di Kawanishi, kota kecil dekat Osaka, 6 Maret 1970, Daisuke belajar naik sepeda pada usia 10 tahun. Didorong sang ayah, Ikuo Nakanishi, Daisuke mulai bersepeda bersama kakak laki-lakinya hingga Kyoto atau Nara.

Kegemaran ini berlanjut pada masa kuliah. Dia bergabung pada klub sepeda di universitas dan kerap berkeliling Jepang. Tahun 1990, Daisuke untuk pertama kali bersepeda di luar negeri, dari Los Angeles ke New York, AS, selama 48 hari.

Dalam perjalanan itu, panas terik di tengah Gurun Mojave membuat Daisuke kelelahan dan kehilangan kesadaran. Beruntung, seorang pria yang hanya dikenalnya sebagai Mr Don melintas dan memberinya minum. Keramahan orang-orang yang ditemuinya di jalan membuat Daisuke ketagihan. Dia pun membuat empat ekspedisi lain mengunjungi 19 negara dan memancang targetnya mengelilingi dunia.

Selepas kuliah tahun 1992, Daisuke bekerja di perusahaan konstruksi selama enam tahun. Setelah berhasil mengumpulkan 50.000 dollar AS dan memesan sebuah sepeda touring, dia meninggalkan Jepang menuju Anchorage, Alaska, untuk memulai perjalanan.

Dimulai dari Alaska

Dari Alaska, Daisuke bersepeda ke selatan hingga Peru, kemudian terbang ke Swedia untuk berkeliling Eropa Barat. Dia melanjutkan perjalanan sampai Afrika Selatan, lalu terbang ke Thailand, Australia, dan Selandia Baru, sebelum kembali ke Amerika Selatan.

Kali ini Daisuke menetap cukup lama dan mengeksplorasi Amerika Selatan selama empat tahun sehingga membuat dia fasih berbahasa Spanyol. Dari sini dia kembali ke pantai timur AS, disusul Eropa Timur, Afrika Utara, Timur Tengah, India, dan Asia Tenggara.

Daisuke mengaku bukan perencana yang baik, tetapi selalu menyusun rencana untuk perjalanannya. Rencana perjalanan disusun bermodalkan peta, masukan dari sesama pengeliling dunia, atau warga setempat.

Misi yang sederhana membuat Daisuke tak terlalu berambisi bertemu para pejabat dan orang penting dalam perjalanannya. Namun, dengan bantuan para sahabat baru yang ditemuinya di jalan, dia bisa bertemu sejumlah tokoh, seperti pendaki pertama Everest, Sir Edmund Hillary di Selandia Baru, legenda sepak bola Pele di Brasil, mantan Presiden AS Jimmy Carter, pelari maraton ternama Haile Gebrselassie di Etiopia, dan mantan Presiden Polandia Lech Walesa.

Pilihan Daisuke untuk mengelilingi dunia dengan sepeda bukannya tak mendapat tantangan keluarga. Meski mendukung kegemaran anaknya bersepeda, Ikuo kerap meminta Daisuke pulang dan menetap di Jepang.

”Ayah bekerja 40 tahun di perusahaan yang sama, jadi mengelilingi dunia dengan sepeda dianggapnya terlalu berisiko. Saya memang tak punya rumah, pekerjaan, dan keluarga. Tetapi inilah impian saya dan saya bisa mewujudkannya. Ini cara saya menjalani hidup. Akhirnya, dia bisa juga menerima,” ujar Daisuke.

Dengan kerja keras dan pengorbanan, Daisuke mampu mewujudkan mimpinya. ”Saya kasihan pada orang yang hanya sekadar menjalani hidup dan tak punya mimpi. Hidup hanya satu kali dan itu harus dimanfaatkan dengan baik,” ujarnya.

Meski demikian, selalu ada akhir untuk semuanya. Setelah bersepeda menuju Yogyakarta dan Bali, Daisuke berencana mengunjungi beberapa negara Asia Tenggara lain, seperti Filipina, Myanmar, dan Laos sebelum mengakhiri perjalanannya tahun ini.

”Bekal saya sudah menipis. Lagi pula, akhir tahun ini ada peringatan 30 tahun Kelompok Petualang Bersepeda Jepang dan mereka meminta saya hadir,” ujarnya.

Setelah impiannya terwujud, apa rencana Daisuke berikutnya?

”Saya belum tahu. Mungkin menulis buku tentang perjalanan ini atau membuat pameran foto yang saya kumpulkan. Tetapi yang pasti saya harus mencari kerja. Setelah itu, mungkin membuat mimpi yang baru,” ujarnya.

Senin, 13 April 2009

Hari Bebas Kendaraan Bermotor




Minggu 12 April 2009, Jl. Letjen Suprapto mulai dari Galur sampai Coca Cola ditutup bagi kendaraan bermotor dijalur cepatnya.
Jalur Busway dan jalur lambat tetap bisa dilalui angkutan umum.
Seolah menemukan oase di padang tandus, warga sekitar memanfaatkan untuk beraktifitas menghirup udara segar.
ada yg nyepeda, main futsal, badminton, senam dll.
Efek samping?
Jalur Sumur Batu macet parah, orang kebingungan mau lewat mana...
yach... enjoy Jakarta....

Selasa, 17 Februari 2009

Nyepedah di KB Ragunan

Kebun Binatang Ragunan merupakan salah satu tempat jalan-jalan favorit kami sekeluarga dengan pertimbangan:
  • Tiket murah Rp 4.000,- untuk orang dewasa dan Rp 3.000,- untuk anak-anak.
  • Mendidik anak-anak untuk dapat cinta terhadap lingkungan
  • akses yang mudah, apabila tidak menggunakan kendaraan pribadi, dapat menggunakan transjakarta (busway) jurusan Kuningan-Ragunan yang berakhir tepat di depan kebun binatang ini, dengan ongkos Rp 3.500,-

Jika jalan kesana sebaiknya:
  • membawa persediaan air minum yang cukup, karena untuk melihat binatang yang satu dan yang lain cukup jauh berjalan kaki.
  • Siapkan topi atau payung untuk melindungi dari sinar matahari/ hujan.

Jika capek berjalan juga tersedia rental sepeda dengan harga yang cukup terjangkau.

Terakhir kami ke Ragunan kami mencoba berkeliling menggunakan 2 sepeda tandem. Berempat kami mengitari kawasan Ragunan sampai area yang cukup jauh.
Sungguh terasa menyegarkan....


yukkkk mari, olahraga sambil rekreasi... 

Senin, 12 Januari 2009

Jakarta Sudah Habis ---Sepanjang Jalan Genangan

Seperti biasa, hari Selasa adalah jadwal B2W. Dan hari ini sejak subuh jakarta diguyur hujan ekstrim.
Setelah persiapkan sepeda (hari ini pilih orange Federal) dan perlengkapan (Pakaian Kerja, Handuk) segera sruput air madu hangat racikan istri dan memancal sepeda kearah Juanda.

Sepanjang jalan banyak terdapat genangan (Angkasa, Gg. Kelinci, Juanda III), mungkin karena lebatnya hujan serta pengaruh air pasang laut yang menurut prakiraan BMG terjadi pada tanggal 12 Januari 2008.

Beberapa orang sibuk mengorek got, mengangkat sampah yang tersangkut.....(yachhhhh memang got dan kali di Jakarta selalu menjadi tempat sampah raksasa).
Jadi kalo banjir ya karena ulah kita sendiri......

Terngiang bait lagu dua dari album Hijau Iwan Fals..

Jakarta sudah habis
Musim kemarau api
Musim penghujan banjir

Jakarta tidak bersahabat
Api dan airnya bencana
Entah karena kebodohan kecerobohan
Atau keserakahan
..................
....................


kring...kringgggg

Jumat, 02 Januari 2009

1 tahun Gowes ke Kantor

Tanggal 2 Januari 2009 ini meskipun libur, saya menyempatkan diri ke Kantor karena Ada stock opname dan cash opname di kantor, serta persiapan closing Laporan Keuangan. Hari itu pula, saya ber B2W mengendarai yellow hot rod kesayangan saya.
Ya tanggal 2 Januari setahun lalu, saya mulai ber B2W setelah berhasil meyakinkan istri saya tentang manfaat nyepeda dengan mengajak ke booth B2W di ICE 2007-Senayan.
Mula-mula jadwalnya 2 kali seminggu, meningkat jadi 4-5 kali seminggu (meskipun akhir-akhir ini balik ke 2 kali seminggu lagi, menunggani yellow hot rod dan orange federal).

Kalo manfaat udah gak diragukan lagi:
  • Alhamdulillah badan jadi sehat dan seger;
  • Hemat BBM (biasanya ngisi 80 ltr pertamax/shell perbulan, dengan B2W jadi cuman 40 ltr untuk 2 bulan, jadi budgetnya bisa dialihkan ke yg lain.
  • Jadi banyak wisata kuliner di jalur sepeda
Saat paling disukai bersepeda adalah saat hujan mengguyur kota Jakarta, udara terasa lebih seger, jalanan terasa lebih lengang.

Komentar yang didapat (baik dari rekan kerja, tetangga, maupun orang yg gak dikenal dijalan):
  • kurang kerjaan aja.......;
  • pingin ngirit banget sih.......;
  • wuih ada pembalap dari mana nih?..... (ngomentarin karena pake helm, sarung tangan, masker meskipun gowesnya nyante banget);
  • Mau jualan lampu nih?.......(sepeda, back pack dan helm saya kalo malem kelap-kelip lampu warna merah);
  • Sehat nih pak.....(Alhamdulillah)
  • wuih, klambine murup (Ibu-ibu mengomentari jersey ijo pupus yg nyala kayak posfor, ditimpa lampu)
  • Hore Bapak udah dateng...(teriakan anak-anak dari dalam rumah, tiap saya kring-kring sesampainya di gerbang rumah)
yach, semuanya diterima dengan sabar, nikmat  dan senyum. Memang nyepeda di Jakarta banyak mengajarkan untuk bersabar menghadapi crowdednya lalu lintas dan banyaknya orang stress di Jalan. Kalo nurutin emosi, bisa bertukar makian, pukulan bahkan mau balikin Bajaj yg nylonong seenaknya.

Hari ini tanpa terasa setahun sudah ber B2W, bahkan sudah ada 2 teman kerja yang keracunan untuk ikut ber B2W. Gak mikir muluk-muluk untuk menyelamatkan lingkungan dari polusi, mikirnya cuman mulai dari diri sendiri, nikmatin manfaatnya buat diri sendiri, syukur-syukur banyak yang mau ngikutin, sehingga berdampak secara berbarengan.
Dan Insya Allah, saya terus semangat gowes...

kring-kring.....i want to ride my bicycle, iwant to ride my bike......




Senin, 22 Desember 2008

Soto Brutu

Pagi ini, sesuai Jadwal setiap Selasa dan Jum'at saya biasanya ber B2W ke kantor. Saat siap-siap tiba-tiba gerimis rata turun membasahi bumi. Segera ambil raincoat warna Ijo Pupus dan merapikan backpack, dan memasukkan baju kedalam box.
Sepeda, hmmm karena hujan saya pilih sepeda Federal yang sudah berumur 18 tahun, untuk tunggangan hari ini, dengan pertimbangan Federal ini terpasang ban yang cocok dengan kondisi jalan yang basah (hehehehe, emang Lewis Hamilton doang yang pake ban basah, ban kering).
Setelah minum air madu hangat racikan Istri, segera gowes perlahan menyusuri jalan basah. Sepanjang perjalanan gerimis rata membasahi muka, berulangkali terpaksa berhenti untuk ngelap kaca mata (coba kalo kacamata ada wipernya), angin dingin terasa kencang membawa butiran gerimis menerjang badan.


Sesampainya Juanda III, mampir ke Warung Soto, dan segera memesan :
  • 1 porsi "Soto Brutu",
  • setengah porsi nasi putih,
  • 1 tusuk sate telor puyuh dan
  • segelas teh tawar hangat.

Rasa brutu nya, kenyil-kenyil mak nyusss, ditimpa kuah soto panas sungguh mantabbbb ditengah udara dingin pagi.

Soto ini dilidah saya sungguh cocok..., kalo mau nyoba silahkan mampir ke Jl. Juanda III di depan Bayu Buana Travel.

Buka setiap hari dari jam 6.00 WIB sampai sekitar jam 14.00 WIB. Kecuali hari minggu tutup.

Nyepeda dan Nyoto memang paduan yang pas...

Kamis, 18 Desember 2008

Sosok. Om Toto Sugito-Antipemanasan Global


http://cetak.kompas.com/sosok
Toto, Antipemanasan Global

Kompas
Kamis, 18 Desember 2008

NINOK LEKSONO

Pada masa lalu, tak banyak yang bisa diceritakan tentang aktivitas bersepeda. Sebagai moda transportasi, dulu, bersepeda merupakan hal yang wajar karena belum banyak kendaraan bermotor dan jarak yang harus ditempuh relatif tak jauh sehingga dari segi waktu pun bersepeda nyaman saja. Popularitas bersepeda turun seiring tersedianya transportasi kendaraan bermotor. Kini, bersepeda justru tampil dengan nilai dan kearifan lain.

Bersepeda tak saja menghadirkan gaya hidup sehat, tetapi juga menyampaikan pesan prolingkungan. Itu karena bersepeda berkontribusi pada pengurangan penggunaan bahan bakar minyak (BBM). Bahkan, lebih jauh, bersepeda itu merespons anjuran untuk menanggulangi pemanasan global karena aktivitas tanpa BBM berarti tak melepaskan gas rumah kaca yang menjadi biang utama fenomena pemanasan global.

Alasan yang bersifat praktis, bersepeda lebih lincah dalam menembus kemacetan lalu lintas di kota-kota besar.

Itulah yang diamati Toto Sugito (45), Ketua Umum Bike to Work (B2W), komunitas pengguna sepeda ke kantor (atau kegiatan lain).

Landasan aktivitas yang logis dari sejumlah argumen tersebut membuat anggota komunitas terus bertambah. Kelompok ini pun tak hanya eksis di Jakarta, tetapi juga di kota-kota lain di Indonesia. Menurut Toto, anggota B2W di berbagai kota mencapai 10.000-an.

Bersepeda pada satu sisi lalu tampak sebagai suatu gaya hidup modern. Di sini juga tersirat niat tulus untuk bersikap baik terhadap Sang Bumi.

Menengok kembali awal B2W, Toto yang untuk kiprahnya mendapat penghargaan dari Swiss Contact dan ”Indonesia Berprestasi” dari XL ini mengatakan, ide pendirian B2W muncul setelah ia semakin prihatin dengan kondisi polusi udara, keterbatasan tempat parkir, dan kemacetan. Toto—sebelumnya ia pencinta sepeda gunung—lalu mencoba moda transportasi alternatif untuk ke kantor. Jalur Cibubur-Tebet, Jakarta Selatan, lalu menjadi rute hariannya sejak 2004.

Pada awalnya, sang istri keberatan Toto bersepeda ke kantor karena alasan polusi udara sangat tinggi. Jalan keluarnya, Toto memakai masker yang bermutu baik.

Setelah merasakan manfaatnya, Toto kemudian memperkenalkan ”bersepeda ke kantor” tersebut kepada teman-teman dekatnya. Ternyata sambutan mereka positif. Oleh karena itu pula, tahun 2005 Toto lalu menghimpun komunitas pekerja bersepeda dalam B2W.

Tidak butuh waktu lama, komunitas ini berkembang menjadi tren baru di kalangan eksekutif muda. Malah berikutnya, gaya hidup bersepeda ini meluas pula di kalangan remaja, bahkan juga ke kalangan mereka yang berusia lanjut.

Keluarga dari sebagian anggota komunitas ini, yang semula sempat meragukan, kini justru ikut pro terhadap aktivitas bersepeda yang dipelopori Toto. Kendaraan utama anak pertama dia yang belakangan kuliah di Bandung juga sepeda. Adapun kedua anak Toto yang lain baru menggunakan sepeda sebagai alat olahraga.

Penitipan sepeda

Toto memimpikan B2W dapat berkembang menjadi komunitas serupa yang sukses seperti di Kanada dan banyak negara Eropa, khususnya Belanda. Di negara-negara itu, meski sarana transportasi bermotor pribadi dan umum sangat baik, banyak warga yang memilih menggunakan sepeda untuk menunjang aktivitas sehari-hari mereka.

Di dekat stasiun kereta api, banyak terlihat area parkir sepeda. Selain pertimbangan kesehatan dan nonpolusi, secara transportasi, sepeda pun bisa menjadi pengumpan (feeder) bagi aktivitas commuting (ulang-alik, pergi-pulang, rumah-tempat bekerja yang cukup jauh).

Bukankah peran serupa juga masuk akal bagi busway yang belakangan dipromosikan di kota-kota besar Indonesia? Tentu saja masih diperlukan penyediaan fasilitas penitipan sepeda yang bisa diandalkan, bila hal tersebut hendak dikembangkan di Indonesia. Namun secara ide, hal itu masuk akal.

Berbicara tentang tolok ukur kesuksesan B2W di Indonesia, hal ini, menurut Toto, tidak semata bisa dicerminkan oleh banyaknya anggota komunitas, tetapi juga seberapa jauh bersepeda dapat menjadi gaya hidup masyarakat Indonesia.

”Artinya, masyarakat kita menjadi sadar betul akan masalah polusi udara dan hubungannya dengan perubahan iklim, juga bagaimana energi atau BBM yang ada bisa dihemat untuk generasi selanjutnya,” kata Toto.

Bila kesadaran tersebut telah dipahami masyarakat luas, tentu tidak akan sulit untuk menambah anggota komunitas bersepeda.

B2W dalam hal ini mengajak masyarakat menggunakan sepeda tidak hanya sebagai alat olahraga dan/atau rekreasi, tetapi juga sebagai alat transportasi yang ramah lingkungan sekaligus menyehatkan bangsa.

Dalam posisi ini, sepeda memang tergolong unik karena peran mendukung mobilitas muncul seiring dengan peran menyehatkan, sekaligus peran memelihara lingkungan.

Jalur khusus

Toto yang sehari-hari bekerja sebagai direktur di sebuah perusahaan konsultan arsitektur ini punya cara mudah dalam mengampanyekan kegiatan bersepeda, yakni melalui 3M.

”3M itu maksudnya: Mulai bersepeda dari diri sendiri, Mulai bersepeda dari jarak terdekat, dan Mulai bersepeda sekarang juga.”

Toto menyadari bahwa aktivitas bersepeda di perkotaan bukannya bebas dari tantangan. Selain udara penuh debu, banyak kota besar di Indonesia belum atau tidak punya jalur khusus sepeda. Bahkan, kata dia, sudah ada pengendara sepeda yang menjadi korban kecelakaan lalu lintas karena berbagi jalan dengan kendaraan bermotor besar dan kecil.

Maka, wajarlah kalau salah satu harapan komunitas B2W adalah tersedianya jalur khusus untuk sepeda.

Jalur yang akan membuat aktivitas bersepeda bisa dilakukan dengan aman sehingga menjadi insentif bagi mereka yang ingin bergabung dalam komunitas ini, tetapi masih meragukan keamanan aktivitas bersepeda.

Di luar tantangan yang ada, Toto yakin, ide bersepeda besar faedahnya tidak saja bagi individu bersangkutan, tetapi juga untuk masyarakat, bahkan bagi kelestarian lingkungan Bumi.

Panitia ”Indonesia Berprestasi Awards” menilai, apa yang dilakukan Toto Sugito memiliki kekhasan yang relevan dengan permasalahan yang tidak saja dihadapi masyarakat Indonesia, dalam hal ini terkait dengan lalu lintas perkotaan yang semakin macet dan terkena polusi, tetapi juga dengan upaya bersama seluruh umat manusia untuk menanggulangi pemanasan global yang berakibat mengerikan.

Jumat, 28 November 2008

Cegatan Plombir

Kalimat ini dulu saat saya masih SD di Solo menjadi momok bagi saya dan teman-teman kala sedang bersepeda.

Plombir (kalo di Padang disebut "Peneng", merupakan sticker jadul yang bisa ditempel di Sepeda setelah direndam dengan air. Mempunyai nomor seri, dikeluarkan oleh Pemda dan dimaksudkan sebagai pajak terhadap kepemilikan sepeda .

Jika ada cegatan plombir (razia), maka kami terpaksa blusukan keluar masuk sawah/kebun untuk menghindarinya.

Di Tokyo yang banyak warganya menggunakan Sepeda sebagai alat transportasi ternyata ada juga plombirnya (lihat foto).



Gak tahu apakah plombir ini sekarang masih ada di Indonesia, meskipun sepeda masih lumayan bersliweran. (Sepeda saya sendiri gak ada plombirnya, kalo masih ada mau juga beli dan pakai).

Kalo Sepeda di kasih plombir, mungkin duit yang terkumpul bisa dipakai oleh Pemda buat bikin jalur khusus Sepeda.....

Minggu, 12 Oktober 2008

detikNews : situs warta era digital | Ribuan Warga Yogya Bersepeda ke Sekolah dan Kantor

http://www.detiknews.com/read/2008/10/13/105043/1019095/10/ribuan-warga-yogya-bersepeda-ke-sekolah-dan-kantor
Kapan di Jkt kayak gini yach?......
gpp meskipun lone rider tetep Nyepedah ke kantor..
salut u/ Jogja.....

Yogyakarta -
Pelajar dan karyawan di Yogyakarta mencanangkan gerakan bersepeda ke kantor dan sekolah. Pencanangan gerakan ini diikuti oleh ribuan pelajar dan karyawan di kota tersebut.

Gerakan bersepeda ke kantor dan sekolah itu dinamakan Sego Segawe yang merupakan singkatan dari kalimat Sepeda Kanggo Sekolah lan Nyambut Gawe (sepeda untuk bersekolah dan bekerja). Peluncuran gerakan tersebut dipusatkan di Alun Alun Utara Yogyakarta, Senin (13/10/2008).

Acara yang digagas oleh Walikota Yogyakarta, Herry Zudianto itu diresmikan oleh Gubernur Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X. Acara juga dihadiri oleh Wakil Walikota Haryadi Suyuti, Sekda DIY Tri Harjin Ismadji serta sejumlah pejabat Kota Yogyakarta dan Pemkot Yogyakarta. Para peserta yang terdiri dari pelajar SLTP, SLTA, guru, anggota TNI/Polri dan berbagai komunitas sepeda di Yogyakarta berkumpul di Alun Alun Utara Yogyakarta, sejak pukul 06.00 WIB.

Peresmian acara ini juga dilakukan cukup unik. Tidak ada suara sirine memekakan telinga yang biasanya dilakukan pada peresmian-peresmian berbagai acara. Peluncuran Sego Segawe ini ditandai dengan membunyikan bel sepeda ontel oleh Sri Sultan di atas sebuah panggung.

Herry Zudianto dalam sambutannya mengatakan, program Sego Segawe merupakan langkah nyata mengurangi polusi di Kota Yogyakarta dan pemanasan global. Dia juga menegaskan, bersepeda bukan identik dengan kemiskinan melainkan suatu kegiatan yang menyehatkan dan menyenangkan.

"Ini sebagai langkah nyata kita sebagai bentuk mewujudkan keistimewaan Kota Yogyakarta. Bersepeda juga mengurangi dampak pemanasan global di sekitar lingkungan kita," katanya.

Seusai pembukaan, Herry Zudianto bersama wakil walikota Haryadi Suyuti dan rombongan pegawai Pemkot Yogyakarta berombongan menuju kantor di Balaikota Timoho yang berjarak sekitar 5 kilomter dengan bersepeda. Hal yang sama dilakukan para peserta lainnya menuju sekolah dan kantor masing-masing.

Konvoi panjang pengendara sepeda sempat memadati semua ruas jalan di Kota Yogyakarta. Sambil mengayuh sepeda mereka tak lupa membunyikan bel. Kring, kring, kring....(bgs/djo)

Senin, 15 September 2008

Kota Ramah Sepeda


tulisan dikutip dari:
http://www.kompas.com/read/xml/2008/09/15/01100025

Senin, 15 September 2008 | 01:10 WIB

Oleh NIRWONO JOGA

Jakarta harus segera mencari solusi yang dapat mengatasi kemacetan di hampir semua sudut jalan kota, sekaligus mengurangi pencemaran udara. Pertumbuhan kendaraan bermotor pribadi berbanding terbalik dengan penyediaan angkutan massal. Kota perlu perubahan alternatif baru.

Adakah solusi jitu mengurangi benang kusut kemacetan dan pencemaran udara berbiaya murah dengan teknologi sederhana, tetapi berdampak positif luas (low cost, low tech, high impact)?

Ada! Sediakan jalur pejalan kaki dan jalur pesepeda yang nyaman!

Dalam perencanaan kota, peruntukan lahan ruang terbangun, dan ruang terbuka hijau (RTH), sistem transportasi publik, sirkulasi pejalan kaki dan sepeda harus mampu bersinergi dengan baik. Pemerintah kota harus mengembangkan kawasan-kawasan kota yang mudah untuk dijelajahi dengan transportasi publik ramah lingkungan (bus trans, monorel, kereta api), bersepeda, dan berjalan kaki. Kawasan pejalan kaki dan sepeda sebagai ruang sosial dan jiwa kota yang sesungguhnya karena berjalan kaki dan bersepeda merupakan hak asasi manusia yang paling hakiki dalam budaya berkota dan beradab.

Ruang jalan yang didominasi kendaraan bermotor harus dikelola ulang menjadi ruang publik yang ramah lingkungan untuk berjalan kaki dan bersepeda. Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), kemacetan lalu lintas, pencemaran udara, dan isu pemanasan global membuat banyak penduduk kota dunia di Amerika Serikat, Kanada, Eropa Barat, dan Jepang beralih ke kendaraan nonmotor. Kendaraan ini diyakini lebih ramah lingkungan dan sehat, seperti bersepeda dan atau berjalan kaki.

Berjalan kaki dan bersepeda adalah salah satu jenis alat transportasi paling murah, sehat, dan ramah lingkungan. Warga didorong membiasakan diri berjalan kaki 15 menit atau bersepeda 15 menit-30 menit ke tempat tujuan sekitar yang letaknya tidak terlalu jauh. Ada lima keuntungan bersepeda ke tempat kerja, yakni berolahraga, menghemat energi, ikut melestarikan lingkungan, sehat, dan rekreasi. Budaya berjalan kaki dan bersepeda adalah penanda bagaimana modernisasi dan perkembangan kota dapat berjalan secara humanis.

Kota Amsterdam, Belanda, adalah kota ramah sepeda terbaik di dunia. Kota Boulder, Colorado, mempunyai hampir 500 kilometer jalan kota yang dilengkapi jalur khusus sepeda. Kota Curitiba (Brasil) dan Bogota (Kolombia) membangun jalur pejalan kaki dan pesepeda sejajar jalur koridior bus transkota. Kota Singapura menyediakan jalur pesepeda yang panjang dalam bentuk jejaring taman penghubung kota (urban park connector/UPC).

UPC berupa koridor jalur pedestrian dan jalur hijau kota (bantaran sungai, tepi rel kereta api, tepi pantai) dalam bentuk taman dan jalur hijau (untuk berjalan kaki dan bersepeda) yang terhubungkan satu sama lain secara berkesinambungan ke seluruh kawasan kota. Koridor dapat diperluas untuk menghubungkan tempat tujuan orang untuk bekerja, berekreasi, berganti moda transportasi dan berolahraga (bersepeda, joging) sehingga mengurangi penggunaan kendaraan bermotor/pribadi, memperbaiki perilaku dan kualitas masyarakat dalam budaya berkota.

Penataan jalur
Bagaimana dengan Jakarta? Untuk menstimulasi sosialisasi kampanye Jakarta kota ramah sepeda diperlukan penataan jalur pesepeda yang aman dari kendaraan bermotor, berdampingan atau bersinggungan dengan koridor bus transjakarta dan stasiun kereta api, bersebelahan atau bersatu dengan jalur pejalan kaki dan jarak tempuh relatif sedang.

Bagaimana membuat jalur sepeda dengan murah dan sederhana? Pada jalur pedestrian lebar lebih dari 2,5 meter. Lantai pedestrian cukup dicat (spotlight) simbol telapak kaki (sepatu) dan sepeda (pilih warna kuning, putih, atau oranye). Untuk jalur pedestrian dengan lebar kurang dari 2,5 meter, lantai dicat simbol telapak kaki dan membuat marka jalur sepeda di jalan aspal berupa simbol sepeda, garis lurus dan garis putus-putus (di setiap persimpangan). Di ujung jalan utama dipasang rambu jalur khusus pejalan kaki dan atau sepeda (gambar telapak sepatu dan sepeda) serta rambu larangan sepeda motor. Jadi di sini tidak memerlukan pekerjaan konstruksi berat.

Permukaan jalan yang dapat diakses oleh para pejalan kaki (termasuk orang cacat difabel, lansia, anak-anak). Kontinuitas fasilitas terhadap penyeberangan jalan dilengkapi dengan marka jalan, rambu dan lampu lalu lintas, pembatasan kecepatan kendaraan bermotor pada persimpangan, fasilitas pengamanan (bollard, pos pengatur lalu lintas, jalur pengaman, warning block, paving khusus untuk orang cacat), dan kenyamanan (pohon peneduh, bangku, tempat sampah, boks telepon, halte bus, papan informasi, dan ramp).

Ke depan, fasilitas yang diperlukan adalah parkir sepeda, tempat penyewaan sepeda, dan ekotoilet umum di terminal, halte perpindahan dan halte strategis bus transjakarta (dan monorel), stasiun kereta api, taman-taman strategis, gedung perkantoran dan pusat perbelanjaan. Toko aksesori dan bengkel sepeda (tempat istirahat sejenak) disediakan di beberapa titik strategis jalur sepeda.

Kawasan mana yang memungkinkan sebagai proyek percontohan? Kawasan Menteng, Kebayoran Baru, Kuningan, CBD Sudirman, Pasar Baru-Lapangan Banteng-Monas, dan koridor Blok M-Kota.

Mengapa? Ruas jalan, jalur pedestrian, dan median jalur hijau cukup luas, teduh, dan sudah terkoneksi. Kawasan yang dicakup cukup besar dan strategis. Tidak perlu mengubah atau menambah fasilitas secara fisik yang bisa menimbulkan konflik dengan sarana yang sudah terbangun, dan tidak memerlukan subsidi besar.

Pengembangan jalur sepeda mempertimbangkan kawasan berpenduduk dengan populasi tinggi, sebagian di pinggir/luar kota, sebagian besar tempat bekerja terpusat di perkotaan, padatnya kendaraan bermotor/memenuhi ruas-ruas jalan, dan minimnya fasilitas jalur pejalan kaki sebagai jaring penghubung perjalanan manusia.

Penataan jalur sepeda perlu didukung oleh koordinasi yang baik antara dinas pertamanan dan unit-unit kerja terkait, seperti dinas perhubungan, dinas pekerjaan umum, dinas penerangan jalan umum, badan pengendalian dampak lingkungan hidup daerah, dinas pariwisata, dan wali kota, serta partisipasi masyarakat, terutama dari komunitas seperti Bike to Work (B2W), onthel tua, kereta api mania, masyarakat transjakarta sebagai pengguna jalur pejalan kaki dan sepeda.

Sinergi pembangunan transportasi massal terpadu yang ramah lingkungan, infrastruktur jalur pejalan kaki dan pesepeda yang nyaman, pembatasan pergerakan kendaraan pribadi, menyediakan ruang terbuka hijau yang luas, dan memperbanyak pohon kota akan membuat udara kota lebih bersih, segar, dan sehat. Oleh sebab itu, perlu suatu kebijakan gubernur, pemerintah daerah, dan DPRD yang luar biasa (political will) untuk dapat mewujudkan kota ramah sepeda terhadap kondisi yang sudah telanjur kongesti di Jakarta.

Kring-kring-kring, ada (jalur) sepeda....

NIRWONO JOGA Arsitek Lanskap

Minggu, 07 September 2008

Gowes Ramadhan

Tanpa terasa ibadah saum sudah berjalan seminggu. Selama Ramadhan tahun ini saya berketetapan tetap ngantor ber B2W.
Selama Ramadhan, berangkat ngantor dari rumah sekitar pukul 5.30, dengan gowesan yg konstan (gear 2 depan 3 belakang) perjalanan terasa santai dan menyegarkan tubuh. Efek yg terjadi adalah selama jam kerja tetep fresh dan gak ngantuk.

Hari ini gowesan terasa berbeda dengan minggu lalu. Hujan yang mengguyur sekujur Jakarta dari malam hingga subuh terasa begitu menyegarkan.
Berangkat dari rumah disambut dengan segarnya udara Jakarta. Polusi yang biasanya terasa menyesakkan, hari ini tersapu oleh hujan. Aroma wangi tanah dan harumnya kembang yang ditanam warga disepanjang jalan sempit diarea kemayoran seolah aromatheraphy yang membangkitkan  kenangan masa kecil.
Gowes beriringan dengan abang loper koran hingga Jalan Garuda yang lengang terasa nikmat. Dan diprapatan Garuda sempat ber say kring dengan goweser sepeda lipet yang berpapasan menuju arah kemayoran.

Pukul 6.00 sampai ke Kantor, markir sepeda, ngabsen, menunggu keringat kering dan mandi sambil dengerin album baru Jakarta Thrash Metal Band "Divine" Anger Thy Giveth.


Sungguh nikmat anugerah Allah.

Jumat, 16 Mei 2008

Ada yang keracunan

Sejak ber B2W awal tahun 2008 dan setelah merasakan manfaatnya, saya berusaha menularkan kegiatan positif ini kepada rekan-rekan kantor. proses peracunan dilakukan melalui pengiriman email beberapa artikel/tulisan mengenai manfaat ber B2W.

Hari ini tgl 16 Mei 2008, saat menuju tempat parkir, saya melihat pemandangan yang asing, ada satu unit sepeda berwarna merah (frame specialized) yang berada disana. segera sandingkan sepeda disampingnya dan mencari tahu siapa gerangan yg punya. Ternyata rekan saya yg sering saya provokasi (pak Mulyono) dari Bintaro pelakunya. Hahahaha, jarak sekitar 23 km ke Kantor ditempuhnya pagi ini.

Selamat datang pak Mul di dunia pergowesan, semoga betah dan terus ber B2W.

Semoga setiap hari bertambah orang yang bersepeda.... Ayo irit BBM, sehatkan badan....

kringgggg, kringggggg, I want to ride my bicycle, I want to ride my Bike......

 

 

Senin, 12 Mei 2008

Kringg.....Kringgggg Rolling Stone edisi Editor's Choice

Pagi ini seperti biasa berangkat ke kantor mancal sepeda, hanya pagi ini agak kesiangan. Biasanya berangkat dari rumah sekitar 5.30 - 6.00 pagi ini molor ke 6.30. Jalanan terasa lebih rame dan asap polutan terasa menusuk hidung dan rongga dada.
Segera kenakan masker dan melaju di jalanan Jakarta.
Terlihat di Jalanan manusia Jakarta yang terburu-buru berpacu dengan waktu, klakson bersahutan untuk minta jalan (udah tahu macet.....), Sepeda motor dan bajaj zigzag mencari celah untuk bergegas.
Kukayuh sepeda dengan santai, melewati gang-gang seputar kemayoran sampai pecenongan. Karena belum sarapan di rumah, terlintas pikiran untuk menikmati sepiring Ketupat Sayur di Jalan Hayam Wuruk dipelataran Gedung BDNI.
Sepiring Ketupat Sayur Labu Siam, Sepotong Tahu dan sebutir telur sudah ditangan, dinikmati ditengah keramaian lalu lintas di Jl. Hayam Wuruk dan Gajah Mada,
Setelah mengisi pencernaan, lanjutkan perjalanan lewat Harmoni, mampir ke agen koran yang banyak terdapat di kawasan tersebut.
Majalah Rolling Stone edisi Editor's Choice berbonus album baru NAIF, Let's Go jadi sasaran, berbandrol 49.500 cukup dibayar 40.000.
Hari ini ngirit lagi, ngirit pertamax dan ngirit 9.000 dari Rolling Stone.
Kringg.....kringggggg

Kamis, 24 April 2008

Federal Stray Cats




Sejak ber B2W mulai awal tahun 2008, terasa manfaat bagi diri saya dimana badan terasa lebih fresh dan fit serta bekas operasi achiles tendon di kaki kanan terasa semakin membaik refleksnya.
Beberapa bulan lalu lihat digudang belakang ada 1 unit sepeda federal stray cat tahun 90 an warna putih yang sudah berkarat dan berantakan seluruh bagiannya.
Dengan Federal ini pas jaman kuliah di Padang awal 90an hampir setiap sore mendaki bukit kearah Bungus (bukit lampu), Serta di Yogya setamat kuliah kearah kaliurang. (hehehehehe sepeda ini sudah berkelana antar kota antar propinsi)


Kebetulan ada rekan di Multiply yang mau oper beberapa part sepedanya seperti shifter, Pedal, rantai dan gear belakang, dan lihat di multiply Om Azwar ttg Federal yg dipermak.
Akhirnya memutuskan untuk permak Sepeda Federal itu, hampir seluruh komponen diganti dan menyisakan rangka saja yg bawaan Federal.
Menyesuaikan dengan warna Shock Depan warna Orange, rangkanyapun dicat dengan warna orange.

Akhirnya Federal inipun menjadi sepeda alternatif untuk ber B2W bergantian dengan si kuning yang digunakan selama ini (thx Om Inu dan Om Tanto atas kiriman bike tagnya).

Oh ya, beberapa alat-alat eks Federal, dipindahkan ke Sepeda blue Mobby, buat sisulung bersekolah dan les.
Sementara sepeda pink barbie sibungsu menyul gak diotak-atik.....

I Want to ride My Bicycle....
I Want to ride My Bike....

kringggg....kring.....