Tampilkan postingan dengan label konser. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label konser. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 September 2013

Mengejar Metallica #1

Lagu Seek & Destroy di hadapan kurang lebih 60 ribu rocker dan metalhead yang memadati Gelora Bung Karno, menandai berakhirnya rangkaian tour Metallica Asia 2013 yang digelar di 8 panggung di 6 negara (dimulai di jepang berakhir di Jakarta). 
Koor lantang sambil mengacungkan tinju 60 ribuan penonton bergema di stadion kebanggaan bangsa Indonesia.
Searching 
Seek and Destroy 
Searching 
Seek and Destroy 
Searching 
Seek and Destroy 
Searching 
Seek and Destroy 

Beruntung saya bisa menikmati 2 konser pamungkas pada rangkaian Tour Asia ini, yaitu tanggal 24 Agustus di Changi dan 25 Agustus di GBK.
Kenapa saya begitu bersemangat dengan konser ini?   Alasannya sederhana saja, Metallica lah yang mengembalikan saya ke jalur music rock. Lho memangnya pernah melenceng?
Mengenal music rock sejak akhir 70 an, diawali dengan Deep Purple, Led Zeppelin, Rolling Stones yang berlanjut dengan Queen, Rush, Scorpions, Toto, Yes, Genesis, The Police dan lai-lain hingga tahun 1987. Seiiring hilangnya era keemasan kaset bajakan sebagai imbas mencak-mencaknya Bob Geldof, selera musik sayapun bergeser lebih suka mendengarkan jazz/fusion, sehingga music rock praktis tidak mengisi lagi kehidupan saya. Rasanya saat itu ada perasaan terlalu tua mendengar music rock. Apalagi saat itu saya sedang fokus dalam pekerjaan sehingga mendengar music menjadi hal yang biasa-biasa saja.
Barulah pada pertengahan tahun 90 an, saat sedang merekonsiliasi pekerjaan dan dalam kebuntuan saya mendengar musik rock yang sangat galak dari speaker aktif di PC staf saya. Musik yang sungguh cepat dan menghunjam....teriakan 
Exit light 
Enter night 
Take my hand 
We're off to never never-land

Sungguh kaget saya dengan musik rock yang saya dengar, cepat, menggelegar yang membuat saya mencari informasi tentang Metallica. Wah ternyata Metallica sudah ada sejak awal 80 an. Kemana saja saya selama ini.......
Periode akhir 90 an berkat Metallica dan internet membuat saya tidak merasa terlalu tua untuk music rock. Milis m-claro membantu saya bertemu dengan orang-orang se usia bahkan diatas usia saya yang masih suka dengan musik rock, saling meracuni lewat barter CD-R pun timbul, sehingga musik rock yang didengar pun semakin luas. 

Saat asia tour diumumkan di www.metallica.com, pada tanggal 20 Juni 2013 Metallica memasukkan negara tetangga Singapore sebagai tempat konser pada tanggal 24 agustus 2013, maka saya segera kasak-kusuk untuk mengagendakan untuk nonton konser pada tanggal 24 Agustus tersebut. 

Dengan bantuan teman-teman di And Indonesia For All (AIFA) sebagai wadah penggemar Metallica, sayapun mendapatkan tiket konser di Singapore, dan masih berharap Jakarta masuk dalam agenda Metallica. Dan akhirnya tanggal 4 July 2013, Metallica juga mengumumkan GBK sebagai destinasi mereka di tanggal 25 Agustus 2013. Sungguh bungah hati saya, harapan menonton Metallica 2 x pun terlintas dibenak saya.

Persiapan

Sebagai persiapan sayapun segera membuat playlist untuk membiasakan diri dengan nomor-nomor yang sering dibawakan saat konser. Dan setiap pulang kantor segera memutar DVD konser Metallica mulai dari Woodstock 1990 hingga Quebec Magnetic. Dari DVD-DVD tersebut rasanya ada beberapa lagu yang selalu muncul dalam setiap konser mereka, seperti: Master of Puppets, Harrvester of Sorrow, Welcome Home (Sanitarium), Sad but True, One, For Whom the Bell Tolls, Nothing Else Matters, Enter Sandman, Creeping Death  dan Seek & Destroy. Sementara untuk album St. Anger dan Death Magnetic paling hanya 1, 2 lagu.

Singapore
Berangkat sabtu pagi tanggal 24 Agustus 2013, dalam antrian check in terlihat beberapa orang berkaos hitam bersablonkan Metallica. Kami pun segera bertegursapa dan saling memperkenalkan diri. Sungguh menyenangkan bisa bersama dan menambah teman hanya bermodalkan kesamaan pakaian..hahahaha..:). Setelah mendarat kami masih bertemu rombongan lain yang menggunakan pesawat berbeda, setelah itu bersama rombongan Jogja yang kebetulan menginap di satu area, kami pun segera naik MRT ke kawasan Geylang. Didalam kereta kamipun juga bertemu dengan rombongan lain dari Malaysia dan Filipina. Setelah meletakkan barang dan sholat, kamipun bergegas ke Stasiun Al Djunied untuk menuju tempat shuttle bus berada yaitu di Expo Hall 3. Setelah clingak-clinguk ketemulah kami dengan rombongan lain dari Indonesia dan segera kami naik Shuttle Bus menuju Changi. Satu bangku dengan metalhead Singapore yang juga mau kesana, berceritalah dia bahwa konser kali ini diselenggarakan di Changi, bukan di Fort Canning atau Singapore Indoor Stadium seperti kebanyakan konser di Singapore, karena banyaknya peminat konser Metallica ini, yang tidak akan tertampung jika diadakan ditempat biasanya. Memang benar, lokasi konser tidak terjangkau oleh MRT maupun bus, sehingga cukup sulit mencapai area tersebut.
Sampai di venue pukul 15.30 waktu setempat masih cukup lengang. Melalui alur yang teratur  seperti hangar, kami segera masuk ke gate 1. Segera melongok ke Official merch dan setelah membeli satu kaos untuk oleh-oleh istri, kami pun sempat ber foto dengan teman-teman AIFA, mas Andi dari Surabaya, teman-teman Jogja serta metalhead Malaysia, yang secara spontan langsung akrab dalam metal brotherhood.

Bersama Metalhead Malaysia & Jogja (foto Andi Wiyono)

Bersama teman-teman AIFA (foto Lia S.)

Setelah mempersiapkan fisik (minum, pipis dan sebagainya), saya segera masuk antrian gate ke 2 menuju venue. Suasana masih belum begitu rame, sehingga dari sisi kiri panggung saya masih bisa menyusup menuju front row. Untunglah saya sudah rajin nyepeda dan jalan pagi/sore sehingga saya bisa tahan mempertahankan 2 jengkal tanah yang saya pijak hingga konser selesai pada pukul 23.00.
Venue yang berada dipinggir pantai tidak begitu lebar, namun memanjang hingga bisa menampung 25 ribuan penonton yang dibagi dalam festival A didepan dan Festival B dibelakangnya.

Stage (foto Metallica.com)

Setelah menunggu cukup lama, akhirnya pukul 17.00 band pembuka mulai. Saya gak terlalu intens dengan band pembuka pertama, karena IMHO, band metal Indonesia jauh lebih dahsyat dari band ini. Barulah saat band ke 2, Anvil bermain saya mulai bisa menikmati. Namun yang saya tunggu bukan mereka, ya saya menunggu Metallica. Tepat pukul 18.10 Anvil mengakhiri penampilannya dimana gitaris sekaligus vocalisnya, bermain gitar menggunakan dildo.

Anvil

Segera crew Metallica membersihkan panggung, membuka tumpukan speaker yang terbungkus plastik, memasang mike di kiri, tengah, kanan dan bagian tertinggi panggung. Dan tepat pukul 19.20 layar LCD memunculkan clip cowboy di kuburan dengan background lagu The Ecstasy Of Gold. Ya Metallica memulai shownya dengan lagu Hit The Lights yang segera membuat penonton merangsek kedepan. Posisi sayapun bagaikan perahu diterjang ombak besar namun membentur karang tertahan barikade. Disusul Master Of Puppets terjangan gelombang pun kian menjadi sehingga peluh pun mengucur deras. Sepanjang konser tangan mengacung terkepal dan koor bareng sambil menahan terjangan dari belakang sungguh membuat energi terkuras. Untunglah sepanjang konser security Metallica tak henti menyorongkan gelas berisi air, sehingga dehidrasi bisa dihindari. Sungguh tak terkira perasaan saya, menyaksikan Kirk Hammet, James Hetfield dan Rob Trujilo beraksi hanya sekitar 3 meter dihadapan saya. 

Lars Ulrich & Kirk Hammet (foto Metallica.com)

Meskipun sudah berumur, stamina mereka masih edan-edanan. Hanya saja saya merasa diluar permainan dahsyat bass nya, Trujilo sungguh kurang metal. Dengan rambut dikepang, bercelana pendek, ber kaos singlet layaknya pemain basket, terlihat dia lebih seperti musisi hip-hop penampilannya.
Rob Trujilo (foto Metallica.com)

James Hetfield sendiri, dia benar-benar menjadi frontman Metallica. Vocal dan stamina yang terjaga menjadikan dia sang Master yang memandu para metalhead untuk patuh terhadapnya.... 

James Hetfield dihadapan puluhan ribu metalhead (foto metallica.com)

Lagu demi lagu mengalir, dan koor massal terjadi saat Fade To Black dan The Memory Remains. Kemudian terjangan gelombang manusia terjadi saat nomor cepat seperti Blackened, Creeping Death dan tentu saja Seek & Destroy.
Tepat pukul 21.35 Metallica pun mengakhir konsernya, seperti biasa beberapa pick guitarpun beterbangan dari tangan James Hetfield, Kirk Hammet dan Rob Trujilo. Beruntung 3 buah pick dari James Hetfiled cs jatuh ke tangan saya. Sayang Stick drum lars dilempar terlalu jauh dari jangkauan.

Pick Guitar


Setlist malam itu adalah:
01 Hit the Lights 
02 Master of Puppets 
03 The Shortest Straw 
04 Ride the Lightning 
05 Fade to Black 
06 The Memory Remains 
07 Broken, Beat & Scarred 
08 Welcome Home (Sanitarium) 
09 Sad but True 
10 ...And Justice for All 
11 One 
12 For Whom the Bell Tolls 
13 Blackened 
14 Nothing Else Matters 
15 Enter Sandman 
Encore
16 Creeping Death 
17 Battery 
18 Seek & Destroy

Segera meninggalkan venue, untuk antri menuju shuttle bus. Sungguh menyiksa...memerlukan waktu lebih dari 1 jam antri untuk bisa masuk ke Shuttle bus.
Siksaan pun belum berakhir, setelah perjalanan lebih dari 30 menit menuju tempat penurunan di Expo ternyata MRT sudah berhenti beroperasi, sementara Taxi harus diorder via telepon, dan cilakanya order dari nomor Indonesia susah untuk direspon. Akhirnya banyak orang, terutama warga non Singapura yang terlantar di Expo Hall. Sungguh diantara letihnya badan, kami dilanda kebingungan karena harus mengejar flight pagi ke Bandara mengejar Metallica di Jakarta.
Beruntung saat numpang buang air kecil di hotel, saya melihat peluang. Pura-pura jadi tamu hotel, sayapun minta tolong resepsionis untuk di orderkan taksi. Dan Alhamdulillah pada pukul 02.30 dinihari kurang dari 5 menit, taksi pun sudah tersedia. Segera menuju Hotel di geylang untuk sekedar mandi dan kembali cabut ke Bandara.
LAMC selaku promotor mungkin tidak memperkirakan akan kekacauan saat banyak penonton di drop pada satu titik. Kota seteratur Singapura disaat MRT sudah tidak beroperasi dan Taksi di rush oleh ribuan manusia menjadi sangat tidak menyenangkan. Sambil menunggu boarding di Changi saya bersyukur hidup di Jakarta yang  ada ojek, omprengan dan sebagainya yang selalu menjadi jalan keluar saat terjadi kebuntuan......


Senin, 31 Desember 2012

Konser tahun 2012

Yes

Tahun 2012 hampir berlalu...seiiring detik-detik pergantian tahun yang terus berdetak.....
Selama tahun 2012 kalo diurut ulang, cukup banyak saya diberi kenikmatan untuk dapat nonton konser yang dapat menyenangkan hati.
Adapun konser yang saya tonton selama tahun 2012 adalah:

20120118-Toxic Holocaust
20120302-Al Jarreau
20120303-The Manhattan Transfer
20120304-Bobby McFerrin
20120304-Phil perry
20120331-Anthrax
20120405-Iron Maidens
20120421-Dream Theater
20120424-YES
20121103-Creed
20121112-Portnoy, Sheehan, McAlpine, Sherinian
20121215-Sting
20121216-Guns N' Roses

Toxic Holocaust

Ada beberapa event yang mestinya nonton, namun meleset gak jadi nonton karena ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan, antara lain Hammersonic Metalfest serta Java Rockin'land yang batal digelar meskipun sudah beli tiketnya.
Konser-konser diatas benar-benar memenuhi harapan, dalam artian memberikan kepuasan setelah menontonnya...

Toxic Holocaust meskipun saya kurang familiar namun di stage kecil di Marios Place, mereka mampu menghadirkan konser yang menghibur, penuh hura-hura dan sedikit huru hara.

Al Jarreau

Al Jarreau, Manhattan Transfer, Bobby McFerrin dan Phil Perry adalah mimpi masa lalu saya saat sangat menyukai musik Jazz/Fusion di pertengahan 80 an..dan berkat Java Jazz Festival saya mampu menggapai mimpi itu.


Phil Perry

The Manhattan Transfer

Anthrax...sungguh tidak diduga...meskipun penonton sepi (mungkin akibat pembatalan tahun sebelumnya), namun sungguh mengagetkan...circle pit yang menggelora sejak pertengahan konser menjadikan konser Anthrax terasa istimewa.
Anthrax

Iron Maidens...yach band cewek pengcover Iron Maiden yang bisa saya tonton 2 kali di tahun 2011, menjadi pemanasan bagi saya sebelum Dream Theater 2 minggu kemudian.

Bulan April selera saya akan musik progressive terpenuhi dengan menonton 2 master musik Progressive, Dream Theater dan YES. 

Dream Theater di tanggal 21 April dengan sound dan tata suara memanjakan..tampil memuaskan dahaga saya akan dedengkot musik Progressive metal ini, dan disambung tanggal 24 April dengan Pionir progressive rock YES. Meski tanpa Jon Anderson YES tetap memukau.
YES

Cukup lama saya puasa konser akibat gagal nonton Hammersonic Fest dan batalnya Java Rockin'land. Bulan November barulah nonton Creed yang menghibur di gandaria City serta PSMS yang melengkapi anggota DT yang gak dateng di 21 April.

Desember awalnya menjadi bulan galau bagi saya karena tanggal 15 Desember 2012 Sting dan G N' R bakal konser bersamaan di dua tempat berbeda. NIbarat pepatah rezeki gak bakal ketuker, ternyata karena sesuatu hal, G N' R menunda konsernya menjadi hari Minggu tanggal 16 Desember 2012. jadilah saya bisa menikmati keduanya.

Guns N' Roses Foto from Jakarta Post

Seperti sudah disampaikan diatas, konser tersebut diatas sungguh sangat menghibur bagi saya, namun kalo disuruh mengurut konser mana yang memberi nilai kepuasan tertinggi, maka urutannya adalah sebagai berikut:

  1. Dream Theater
  2. YES
  3. Portnoy, Sheehan, McAlpine, Sherinian
  4. Al Jarreau
  5. Sting
  6. Guns N' Roses
  7. Anthrax
  8. The Manhattan Transfer
  9. Phil perry
  10. Bobby McFerrin
  11. Creed
  12. Toxic Holocaust
  13. Iron Maidens

catatan tahun 2012, sebagai dampak gagalnya konser beberapa band tahun sebelumnya (Motley Crue, Anthrax dll) dimana saya beli ticket presale dan hangus, saya lebih banyak membeli ticket via Calo, dan ternyata lebih memberikan kepastian..:)

Tahun 2013?
Entah band apa yang bakal mampir ke Indonesia, mungkin Journey, mungkin Deep Purple, mungkin Testament, mungkin Slayer, mungkin Rolling Stones dan mungkin Queen ....entahlah....yang jelas Hammersonicfest serta Java Jazz Festival lah yang sudah ada agendanya..JavaJazz Festival bahkan saya sudah beli ticket early birds nya.
Semoga banyak yang bakal konser kemari...semoga

Selasa, 18 Desember 2012

Guns N' Roses-MEIS Ancol, Jakarta, 16 Desember 2012


Guns N' Roses akan konser di Jakarta pada tanggal 15 Desember...wah khabar ini sungguh membuat galau saya yang sudah merencanakan nonton Sting pada tanggal yang sama.

Meskipun saya tidak mengenal GNR pada saat mereka dinyatakan sebagai band paling berbahaya di akhir 80 an (saat itu saya lagi asyik masyuk dengan musik Fusion, sehingga group rock era itu baru saya kenal belakangan). Saya baru mengenalnya saat mereka tampil pada acara Tribute to Freddie Mercury 20 April 1992. Band ini sungguh membuat saya sangat tertarik untuk menyimaknya setelah saya membeli kaset "Appetite for Destruction" yang sungguh mantab...Lagu seperti Welcome to the Jungle, It's So Easy, Nightrain, Mr. Brownstone, Appetite for Destruction, Sweet Child O' Mineserta Rocket Queen sungguh masuk  ke diri saya.

Untuk tanggal 15 Desember, bersama concert mate kami berdiskusi untuk memutuskan konser apa yang akan ditonton, Sting? apa Guns N' Roses?. Pinginnya dua duanya. Sempat terlintas juga pingin nonton Sting di seberang agar bisa dapet ke duanya, namun karena sesuatu hal akhirnya memutuskan nonton Sting saja. Dan sebagai salah satu pertimbangan adalah referensi dari youtube yang memperlihatkan bahwa axl sudah kedodoran dan kurang prima lagi

Biasanya menjelang konser, saya selalu membuat playlist berbekal situs setlist.fm agar bisa lebih masuk saat konser, dan untuk kali ini yang saya siapkan hanya setlist Sting saja, sehingga pol tidak ada persiapan mendengarkan lagu-lagu mereka.

Sabtu siang tanggal 15 Desember menjelang konser Sting saya menyempatkan diri mampir untuk nonton event Rocklinger # 3 di Tugu Proklamasi, HP saya sibuk bergetar karena heboh di twitter, FB dan milis tentang penundaan konser Guns N' Roses, yang akhirnya berujung pada berita Konser Guns N' Roses akan dilaksanakan di MEIS Ancol pada Hari Minggu 16 Desember 2012...wah....wah....wah.....Dan dalam perjalanan ke Ancol untuk nonton Sting sore itu saya sungguh sumringah....
Konser Sting malam itu yang bedurasi 2 jam sungguh sangat memuaskan bagi kami berdua, dan dalam perjalanan pulang kami pun segera merancang strategi untuk nonton besok siangnya. Prinsip In Calo We Trust pun kembali akan menjadi andalan besok.

Minggu siang kami sampai MEIS sekitar 11.30, segera mengontak rekanan andalan dan ketemu dan negoisasi Ticket. Setelah urusan ticket selesai dan berniat  
makan siang, ternyata tempat makan sudah sold out dan sialnya kali ini nggak ada calo untuk urusan ini. Untung ada Indomaret sehingga kamipun bisa menyeduh Popmie sambil menunggu adik ipar yang datang dari Jogja untuk nonton.

Setelah bertegur sapa dengan banyak teman di venue, kami segera antri dan ternyata agak telat masuk, hingga sudah ketinggalan 2 lagu awal. Wah sungguh merasa rugi gak nikmatin vocal prima axl (kami memperkirakan mulai lagu ke 4 axl akan kedodoran). It's So Easy masih dibawakan mulus.
Dengan formasi Frank Ferrer (drum), Tommy Stinson (Bass), Dizzy Reed (keyboard), Chris Pitman dan tiga gitaris Ron "Bumblefoot" Thal,  DJ Ashba, dan Richard Fortus serta Axl di vocal Guns N' Roses tampil prima. Axl beberapa kali berganti jaket dan jazz longgar yang mungkin dimaksudkan untuk menutupi tubuhnya yang mulai tambun. Lagu demi lagu dalam konser tersebut mengalir lancar setelahIt's So Easy, segera disusul Mr. Brownstone, Estranged, dan Rocket Queen yang membuat penonton ikut terlibat dalam konser tersebut apalagi sound dan lighting benar benar memanjakan. Yang paling membuat surprise Axl terlihat konstan dan tidak kedodoran.




Guns N' Roses Foto Ully dari http://www.bandistro.com/blog/guns-n-roses-live-jakarta-minggu-16-desember-2012


Penonton kebanyakan aktif saat lagu-lagu dari album lawas dibawakan, dan adem saat lagu-lagu dari album Chinese Democracy.  
Setelah Fortus bersolo gitar GNR kembali menggeber Live And Let Die, This I Love, dan Better,  Axl kembali istirahat saat Tommy Stinson membawakan lagu berjudul Motivation, yang dilanjutkan dengan solo piano Dizzy Reed yang antara lain menyajikan No Quarter-nya Led Zeppelin. 

Axl kembali tampil dengan 2 lagu dari album Chinese Democrazy Catcher In The Rye, Street Of Dreams, yang disambung dengan You Could Be Mine yang kembali menggairahkan penonton yang sebagian mulai adem.

Axl pun beristirahat lagi saat DJ Ashba bersolo gitar instrumentalnya dengan nomor Mi Amor dan langsung membuka intro lagu Guns N' Roses paling gaul Sweet Child O' Mine, sehingga penonton yang datang sekedar lifestyle-pun juga ikut nyanyi, sungguh gegap gempita sekali koor berjamaah ini.
Setelah itu Piano kembali keluar dan kali ini Axl yang memainkan lagu Pink Floyd Another Brick In The Wall Pt.2, sebagai pengantar nomer populer lainnya 
November Rain!. Dan benar kembali koor penonton membahana di MEIS.

Axl kembali istirahat saat Ron "Bumblefoot" Thal yang mengenakan kaos The Who melanjutkan dengan lagu Objectify. Sesaat kemudian dia merangsek ke tengah panggung, dan memberikan kejutan dengan memainkan sepotong National Anthem Indonesia Raya  yang kembali membuat merinding karena spontan penonton menyayikan bersama.

Bumblefoot foto Ully dari http://www.bandistro.com/blog/guns-n-roses-live-jakarta-minggu-16-desember-2012


Kemudian Axl kembali tampil dengan Don't Cry yang dilanjutkan dengan cover The Who The Seeker dismabung dengan lagu populer Civil War, Knockin' On Heaven's Door dan selanjutnya mereka meninggalkan panggung seolah-olah mau bubar dengan Nightrain.

Setelah penonton menggemakan  we want more, curanmor  mereka manggung lagi denganPatience dan ditutup dengan Paradise City yang memuncaki sore itu. Tidak menyangka Guns N' Roses masih sangat menggigit, (tahun lalu saat nonton Slash bersama Myles Kennedy yang tampil di Istora, serasa sudah nonton Guns N' Roses, ternyata belum...baru sekaranglah Nonton Guns N' Roses itu terealisir.

Dua hari yang sangat membahagiakan kami berdua...belum terbayang mau seperti apa konser di tahun 2013, baru JavaJazz Festival yang Insya Allah saya tonton (dan kali ini tidak In Calo We Trust, saya sudah beli tiket early bird mumpung harganya masih bersahabat).

Senin, 17 Desember 2012

Sting-Back to Bass Tour 2012, MEIS Ancol, Jakarta

Ada kegalauan pada diri saya beberapa minggu terakhir, yaitu saat harus memutuskan konser mana yang harus saya tonton. Ya Sting dan Guns N Roses, dua nama yang mengisi bagian hidup saya akan konser pada tanggal yang sama.

Setelah diskusi dengan concert mate, akhirnya kami memutuskan untuk memilih Sting.



Sting sendiri bersama The Police pada tahun 80 an awal saya kenal via kaset, dengan lagu yang relatif gampang nyantol masa-masa SMA saya banyak diisi dengan lagu The Police, disamping Stones dan Queen.
Saat Sting bersolo karir, agak kaget juga saat warna musiknya berubah kewarna Jazz (jenis musik yang saya sukai saat kuliah). Album Dream of Blue turtle yang didukung Kenny Kirkland dan Branford Marsalis sebagai contohnya.
Sejak banyaknya pembatalan konser karena berbagai sebab, saya jadi males untuk beli tiket jauh hari sebelum show. Meskipun ada iming-iming diskon 20% bagi pembeli tiket dengan debet atm sebuah bank, Prinsip in calo we trust lah yang saya pakai. Dalam perjalanan ke MEIS segera saya kontak no referensi seorang teman dan dengan suara ramah dari seberang telp mengalun empuk suara "selamat malam, ada yang bisa saya bantu?", sungguh awal yang baik..kamipun menentukan meeting point.
Dengan nego yang singkat, kami pun setuju dengan harga yang IMHO jauh lebih murah daripada diskon 20% itu, yaitu hampir 50%...ckckckck.
Dan sebelum berpisah dia pun menawarkan tiket untuk konser Gun's N Roses (besoknya ditempat yang sama) yang secara tiba-tiba menunda konser yang dijadwalkan di Lapangan D Senayan....sungguh anugerah yang luar biasa..

Kami pun masuk ke MEIS yang tidak banyak berubah sejak saya terakhir nonton Dream Theater pada 21 April 2012. Dengan modus menyusup sambil bilang misi mas, misi mbak, misi om, misi tante akhirnya saya bisa merapat ke front row meskipun agak kepinggir kanan...

Didalam suasana sangat sejuk, sehingga menunggu konser yang ngaret tidak terasa capek, Akhirnya pukul 20.45 lampu di dadamkan dan Sting pun menyapa penonton dan langsung menggeber If I Ever Lose My Faith In You.
Selamat Malam Jakartaaaa...setelah sedikit basa basi Sting langsung memainkan nomor lama The Police yang diambil dari album Ghost in the Machine-(1981) Every Little Thing She Does Is Magic.
Pada lagu ke 3 Englishman in New York, spontan penonton melakukan koor massal "I'm an alien I'm a legal alien, I'm an Englishman in New York" dan "Be yourself no matter what they say".
Konser mengalir lagu-demi lagu. Sting yang mengenakan Kaos ketat lengan panjang terlihat ramping dan bugar untuk ukuran orang seusianya. Vocalnya terjaga hingga lagu terakhir.

Karena posisi nonton disisi kanan panggung, settingan penempatan speaker dan amply serta videoman posisi menonton hanya bisa melihat Sting, Dominic Miller (gitar) serta drummer Vinnie Colaiuta yang sudah malang melintang bermain dengan Frank Zappa, Sting, Chick Corea, Jeff Beck, Herbie Hancock, Nik Kershaw hingga Megadeth.
Vinnie Colaiuta tampil mengenakan kaus kutang serta celana training adidas bermain dengan style jazz fusion yang bertenaga.
Mungkin menyadari banyak penggemar dari era The Police, Sting lumayan banyak membawakan nomor the police. Tercatat ada 10 lagu the Police yang ada dalam setlistnya, yaitu:

  • Every Little Thing She Does Is Magic (Ghost in the Machine-1981)
  • Demolition Man (Ghost in the Machine-1981)
  • Driven to Tears (Zenyatta Mondatta-1980)
  • Message In A Bottle (Reggatta De Blanc-1979)
  • Wrapped Around Your Finger (Synchronicity-1983)
  • De Do Do Do, De Da Da Da (Zenyatta Mondatta-1980)
  • Roxanne (Outlandos d'Amour-1978)
  • King Of Pain (Synchronicity-1983)
  • Every Breath You Take (Synchronicity-1983)
  • Next to You (Outlandos d'Amour-1978)

Namun demikian, lagu tersebut dibawakan dengan banyak improvisasi, misalnya Roxanne yang tampil ngejazz dan tetap mampu membuat koor massal, atau lagu yang menurut teman saya seperti lagu anak TK De Do Do Do, De Da Da Da yang diberi unsur violins
Sayang nomor Desert Rose yang bernuansa Timur Tengah tidak seperti aslinya, namun tetap memancing untuk belly dance...:)

Konser ditutup dengan Fragile tepat pukul 22.45, dimana Sting tidak bermain bass, namun memainkan gitar. Ya 2 jam konser yang sungguh menghibur bagi penonton yang memadati MEIS dan terutama bagi kami.
Sambil menunggu parkiran longgar, segera menuju Rasane untuk menikmati Kepiting Asap yang sungguh maknyus itu...

Gambar sisip 2

Malam yang luar biasa....

setlist:
01 If I Ever Lose My Faith In You-Sting-...All This Time-(2001)
02 Every Little Thing She Does Is Magic-The Police-Ghost in the Machine-(1981)
03 Englishman in New York-Sting-Nothing Like The Sun-(1987)
04 Seven Days-Sting-Ten Summoner's Tales-(1998)
05 Demolition Man-The Police-Ghost in the Machine-(1981)
06 I Hung My Head-Sting-Mercury Falling-(1996)
07 The End Of The Game-Sting-Brand New Day-(1999)
08 Fields Of Gold-Sting-Ten Summoner's Tales-(1998)
09 Driven to Tears-The Police-Zenyatta Mondatta-(1980)
10 Heavy Cloud No Rain-Sting-Ten Summoner's Tales-(1998)
11 Message In A Bottle-The Police-Reggatta De Blanc-(1979)
12 Shape Of My Heart-Sting-Ten Summoner's Tales-(1998)
13 The Hounds of Winter-Sting-Mercury Falling-(1996)
14 Wrapped Around Your Finger-The Police-Synchronicity-(1983)
15 De Do Do Do, De Da Da Da-The Police-Zenyatta Mondatta-(1980)
16 Roxanne-The Police-Outlandos d'Amour-(1978)
17 Desert Rose-Sting-Brand New Day-(1999)
18 King of Pain-The Police-Synchronicity-(1983)
19 Every Breath You Take-The Police-Synchronicity-(1983)
20 Next to You-The Police-Outlandos d'Amour-(1978)
21 Fragile-Sting-Nothing Like The Sun-(1987)


Gambar sisip 3

Rabu, 25 April 2012

Wounderous Night-Yes


Inilah group yang sudah saya kenal sejak dulu, namun baru kesampaian nonton secara langsung lebih dari 30 tahun sejak mengenalnya.
Pada kesempatan perayaan ke 44 mereka berkiprah, barulah Indonesia menjadi salah satu tempat tour mereka.
Saat diumumkan tempat mereka konser adalah Ballrom Ritz Carlton Ball room, maka yang terbayang di benak saya adalah tiketnya pasti mahal (untuk ukuran saya), dan kekhawatiran saya terbukti, namun karena ngebet nonton mbahnya prog Rock ya kudu rada maksa untuk bisa nonton.



Seperti strategi nonton konser lainnya, untuk menekan budget (mengingat bulan Maret dan April padat event yang pingin ditonton) maka yang harus dilakukan adalah membeli presale/early bird dengan harga yg bisa 50% lebih murah, atau mengandalkan calo. Untuk kali ini saya memutuskan presale dengan asumsi kayaknya gak bakal ada calo.

Setelah beruntun dipuaskan oleh gelegar Anthrax, Iron Maidens dan Dream Theater, tanggal 24 yang dinantipun datang.  Pada konser yang biasanya dipadati oleh massa berbaju hitam bersablonkan hal-hal yang berbau band, malam ini lebih banyak yang hadir necis. Kalopun menggunakan kaos, mereka rata-rata mengenakan kaos YES / yang berbau prog, mMeskipun ada yang hadir dengan kaos Sodom..:)
Sambil menunggu teman, beberapa kali didekati calo yang berpenampilan necis, oalahhhhh tak pikir gak ada calo...ternyata teman-teman ini hadir di segala medan.
Pukul 20.15 masuk ke venue, sesuai tiket kelas kambing yang saya beli, kami masuk ke deretan paling belakang, dan segera  mengambil posisi buat motret yang terenak tanpa mengganggu penonton lain (boleh juga ni konser, membebaskan penonton bawa camera apapun).
Kelas Silver lumayan padat, sementara kelas gold & platinum terihat lengang.  Antar kelas dibedakan pagar-pagaran yang dengan mudah dilompati, saya membatin pasti akan terjadi agresi.
Tepat pukul 20.40 lampu padam, tanpa band pembuka YES memulai pertunjukannya yang dibuka dengan Yours Is No Disgrace, saat itulah agresi terjadi....penonton deretan belakang segera merangsek ke depan hahahahaha.

Nyaris tak ada distorsi  Steve Howe menjadi bintang malam itu.  Gitaris veteran yang terlihat ringkih di usia kini terlihat begitu menguasai alat petik yang tersedia ( ada beberapa  alat petik berbeda yang dimainkannya), dari  Gibson ES 175, Fender Strat, Mandolin, Gitar Akustik, Gibson Les Paul hingga Fender Steel guitar.  Saat bersolo gitar akustik di nomor Solitaire dan Clap terlihat begitu luar biasanya tangan dan jemari Steve Howe.
Steve Howe
Tanpa Jon Anderson, sebagian orang menganggap Yes bukanlah Yes, namun malam itu Jon Davison (sebagai vokalis pengganti Benoit Davis) tampil menawan dan terlihat paling segar dibandingkan manula yang lain. Tampil berbaju seperti motif batik, dia mampu mengisi karakter vocal melayang Jon anderson

Chris Squire sendiri sebagai member YES yang tidak tergantikan, anteng membetot Rickenbacker sekaligus backing vocal, dan sesekali memaminkan harmonica. 

White & Squire

Geoff Downes seperti terkepung oleh mainannya yang beragam, sungguh banyak mainan disekelilingnya, namun perasaan saya gak banyak improvisasi suara dari peralatannya. Beberapa penonton membandingkannya dengan Rick Wakeman.

Sementara Alan White seperti tidak bertenaga (atau saya terlalu membandingkan dengan Mike Mangini beberapa hari sebelumnya?)
Alan White

Namun overall YES tampil selayaknya dedengkot Progressif Rock,  pertunjukan mengalir lancar hampir sepanjang dua seperempat jam berlalu tanpa terasa, (mungkin hanya saat bagian Fly From Here terasa datar).
Setelah Fly from Here yang rada membosankan, penonton yang rata-rata berusia diatas 40 tahun kembali dipancing gairahnya dengan Wonderous Stories, Into The Storm, Heart Of The Sunrise dan memuncak saat lagu sejuta umat dari album 90125 yang tidak berkarakter YES, namun banyak menjadi awal perkenalan orang dengan YES pun dimainkan. Apalagi kalau bukan Owner Of A Lonely Heart, gitar sedikit distorsi dengan bass genit membungkus vocal Jon Davidson yang kali ini agak kurang senyawa.
Setelah Starship Troopers, merekapun berpamitan. Dan seperti biasa setelah teriakan we want moore, demi moore, kevin moore, curanmor berkumandang, YES kembali ke stage dan memungkas malam itu dengan Roundabout.

Kembali malam special bagi saya terjadi, satu lagi band yang saya mimpikan untuk saya tonton, dapat saya nikmati.
Terima kasih YES, variant, teman-teman thelinks, i-rock, m-claro dan proclaro.
Sabtu 28 April hammersonic Fest menunggu...\m/
I-Rock!

ProClaro
setlist:
Yours Is No Disgrace
Tempus Fugit
I've Seen All Good People
Life on a Film Set
And You And I
Steve Howe Solo Guitar: 
          Solitaire
          Clap

Fly From Here - Overture
Fly From Here - Pt. I - We Can Fly
Fly From Here - Pt. II - Sad Night at the Airfield
Fly From Here - Pt. III - Madman at the Screens
Fly From Here - Pt. IV - Bumpy Ride
Fly From Here - Pt. V - We Can Fly Reprise
Wonderous Stories
Into The Storm
Heart Of The Sunrise
Owner Of A Lonely Heart
Starship Trooper
encore:
Roundabout


Minggu, 22 April 2012

Dream Theater Live in MEIS, Ancol, Jakarta


Dream Theater, ya band yang sangat dinanti kehadirannya di Indonesia, akhirnya menuntaskan hutangnya kepada penggemarnya di Indonesia....
Sempat merencanakan konser di awal 2000 an namun dengan alasan travel warning, konser itu dibatalkan meskipun tiket sudah terjual.




Sabtu 21 April 2012, sejak sore area pantai Carnaval sudah dipenuhi orang-orang yang kebanyakan ber kaos hitam bersablonkan Dream Theater.
Pukul 17.30 antrian telah mengular kearah tangga mall baru Ancol Beach City tempat Mata Elang Indoor Stadium berada, meskipun informasinya pintu baru dibuka pukul 19.00, namun karena amburadulnya penataan maka waktu buka pintupun molor cukup lama. Sungguh menyiksa calon penonton yang antri berdiri.
Untunglah beberapa space mall itu telah ada beberapa cafe/warung, saya pun memilih cangkruk gabung dengan beberapa temen di warung kopi.

Saat pintu di buka, panitia pun tampak tidak berdaya, tidak ada body checking maupun pemeriksaan barang bawaan (meskipun di pemberitahuan ada larangan membawa kamera dll), sehingga tidak ada filter lagi.
Saat lolos dari gerbang, dan naik ke lt 3, juga terjadi bottle neck pada escalator, sehingga berpotensi chaos. Untunglah penonton konser Rock di Indonesia sudah terbiasa tertib, sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Bangunan di Ancol Beach City sendiri belum 100% rampung, sehingga masih berantakan, ditambah dengan tidak ada pemeriksaan maka penonton dengan tiket apapun leluasa kian kemari pindah posisi (kasihan yang udah beli tiket mahal, namun gak dapet tempat duduk).
Saya sendiri masuk ke festival, dan langsung disergap dengan suasana yang sejuk mak nyes..., Kelas festival yang cukup besar pun dipadati oleh ribuan penonton.

Dibuka dengan penampilan Andy McKee, gitaris yang bermain solo akustik dengan gitar double neck yang bisa berfungsi sebagai perkusi, bas, melodi dan ritem, 

Andy McKee tampil cukup menarik, namun penonton bukan datang untuk dia, saat dia meletakkan gitar para penonton bertepuk tangan gemuruh mengira Dream Theater segera masuk, dan berubah menjadi teriakan “huuuuuuuuu” yang panjang ketika ternyata dia hanya mengganti gitar untuk memainkan lagu lainnya. hahahaha jan lucu polll

Akhir-nya sekitar 21:01 Dream Theater pun masuk, setelah didahului intro tapes dan suara sendawa yang menjadi bagian Brigdes in The Sky yang disambung dengan  "6.00".  Kelar lagu 6.00 LaBrie pun menyapa penonton "..hello Jakarta" dan dilanjutkan dengan nomor "Build me Up, Break me Down", "Surrounded" dan "The Root of all Evil".

Pertanyaan apakah drummer baru Dream Theater bisa menggantikan Portnoy pun terjawab saat Mike Mangini melakukan drum solo. Adanya drum cam di peralatan drum Mike Mangini yang serem, sangat membantu penonton dalam menilai kehandalan Mangini. Bagaikan tarantula berkaki 8, Mangini memainkan drum dengan kecepatan Tarantula menyergap serangga.

Setelah solo drum kemudian lanjut dengan "A Fortune in Lies" serta nomor progresif dari album baru "Outcry".

Basa-basi sebentar untuk mendinginkan suasana, dua nomor akustik dimainkan duet LaBrie dan Petrucci, "Silent Man" dan "Beneath the Surface"
Personil Dream Theater kembali tampil lengkap saat menngeber "On the Back of Angels", War Inside my Head" dan"The Test that Stumped Them All". Mungkin untuk memberi kesempatan Mangini istirahat, John Petrucci & Jordan Rudess melakukan solo.
Setelah itu lagu yang ditunggu-tunggu pun datang "The Spirit Carries On" yang biasanya ada vocalis latar cewek, kali ini backing vocalnya adalah hampir seluruh penonton yang hadir..:)

Setelah Breaking all Illusions Dream Theater pun pura-pura pamit dan teriakan we want more, demi moore, curanmor pun segera berkumandang. Dan sebagai encore Dream Theater pun menggeber "Pull me under"
Satu lagi konser yang bikin orgasme saya lakonin...penampilan prima, lighting yang luar biasa, sound yang lumayan menutup ketidak siapan panitia.
Terima kasih DT, Variant dan rekan-rekan IDTFC, i-rock, m-claro, thelinks atas malam special itu

Setlist:
  • Dream Is Collapsing (Hans Zimmer song)
  • Bridges in the Sky 
  • 6:00
  • Build Me Up, Break Me Down 
  • Surrounded 
  • The Root of All Evil 
  • Mike Mangini Drum Solo 
  • A Fortune in Lies 
  • Outcry 
  • The Silent Man 
  • Beneath the Surface 
  • On the Backs of Angels 
  • War Inside My Head 
  • The Test that Stumped Them All 
  • The Spirit Carries On 
  • Breaking All Illusions 

Encore: