http://www.bisnis.com/servlet/page?_pageid=145&_dad=portal30&_schema=PORTAL30&vnw_lang_id=2&ptopik=B30&cdate=17-MAY-2009&inw_id=673603Tulisan Noerma Komalasari dari Bisnis Indonesia
gambar dari
http://b1ttersweet.files.wordpress.com/2009/04/facebook_sucked_in.jpgDinamika
Menangkal candu facebook
Kehadiran situs jejaring facebook bisa menjadi berkah sekaligus beban bagi sebagian orang. Facebook bisa mempertemukan banyak orang. Namun, ini juga bisa menjadi candu yang merusak konsentrasi anak.
Situs ciptaan Mark Zuckerberg ini menjadi amat menarik karena keunggulannya menjaring ribuan anggota yang bisa saling berinteraksi di dunia maya, membuat orang betah berlama-lama berinteraksi di dalamnya.
Bagi mereka yang sudah dewasa dan bisa mengendalikan diri, berinteraksi di facebook sah saja. Namun, bagaimana jadinya jika anak Anda ikut terjangkit candu facebook?
Tidak bisa dipungkiri terpaan media online sudah bukan barang haram bagi anak-anak. Meski membatasi persyaratan anggotanya hanya untuk orang dewasa di atas usia 18 tahun, tidak sedikit anak-anak yang ikut-ikutan tren bermain facebook.
Salah satu di antaranya adalah Kevin Aeldry. Remaja yang baru berusia 14 tahun ini kini mencandu facebook dengan fasilitas akses yang sudah ditanam di telepon selulernya.
Siang hari sepulang sekolah dia langsung membuka akun yang dimiliki. Konsentrasinya tidak terbagi lagi. Dia asyik benar memperhatikan status dan berita terbaru yang disiarkan teman-temannya.
Perhatian Kevin kini hanya tertuju kepada telepon seluler. Makin lama ini membuat ibundanya jengkel. Ella Haryanto, sang ibu, gemas melihat tingkah anaknya yang tidak fokus saat diajak bicara.
"Konsentrasinya buyar kalau saya ajak ngomong jawabnya lama. Bukan hanya itu, kalau saya minta tolong sesuatu dia enggan karena lengket sama facebooknya."
Kendati belum masuk tahap mengkhawatirkan kehadiran situs jejaring itu cukup merepotkan Ella sebagai orang tua. Padahal saban hari Media Relation Manager PT Panorama Sentra Wisata Tbk ini sudah cukup dipusingkan dengan tetek-bengek urusan kantor.
Kurang pintarnya anak dan remaja membagi waktu karena facebook dan aktivitas di dunia maya lain amat disayangkan. Pengawasan pun pada akhirnya diperlukan agar sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.
Menurut psikolog dari lembaga Propotenzia, Lina E. Muksin, hal pertama yang harus dipahami para orang tua adalah penjiwaan terhadap masalah yang dihadapi. Mereka dituntut tidak gagap teknologi dan ikut bergabung ke dalam facebook.
Ikut aktif
Lewat akun tersebut pada akhirnya mereka dapat masuk dalam kelompok yang dibuat si anak. Dengan catatan, sebelum melakukan hal itu, hendaknya digiatkan terlebih dahulu komunikasi cair yang intensif. Tujuannya agar si anak tidak merasa terancam oleh kehadiran orangtuanya di komunitas facebook yang sama.
Menjadi bagian dari apa yang dikerjakan anak membuat para orangtua dapat mengetahui kegiatan, hal yang sedang dipikirkan dan dirasakan anak. Selain itu mereka cenderung akan lebih mudah mengawasi dan mengontrol anak.
Karena itu, Lina menuturkan orangtua atau pengasuh harus pintar-pintar memilih cara berkomunikasi. Kesalahan di dalam berkomunikasi akan menyebabkan gagalnya pendekatan dengan anak.
"Lebih baik memakai bahasa remaja juga bilang saja mau ikutan juga ke dalam komunitas facebook anak. Dengan menjadi temannya di dalam situs itu, orangtua menjadi tahu misalnya mereka sedang mengalami masalah apa."
Hal kedua yang harus dilakukan adalah memberikan tanggung jawab kepada anak untuk mengatur waktu pribadi. Dengan demikian anak akan piawai menentukan prioritas hal yang harus dikerjakan.
Bentuk beberapa kesepakatan bersama melalui komunikasi yang baik. Kesepakatan tersebut juga dapat ditindaklanjuti dengan pemberian penghargaan dan hukuman, sehingga anak tahu konsekuensi atas apa yang telah dilakukan.
"Jangan sampai facebook berlebihan dan mengganggu aktivitas lain. Tunjukkan juga ke mereka bahwa rahasia tidak boleh diumbar di situs jejaring dan banyak situs yang tidak dapat dipercaya," ujar Lina.
Menyadari bahwa pengawasan dan pembatasan akses ke internet merupakan suatu hal yang diperlukan, Ella kini mengetatkan langkah. Dia mulai menahan telepon seluler anak selama bersekolah dan saat belajar pada malam hari.
Kevin pun hanya dapat menggunakan telepon selularnya pukul 13.00 WIB hingga 18.00 menjelang waktu belajar tiba. Apabila melanggar, Ella tidak segan untuk menarik telepon seluler atau memberikan hukuman yang lebih berat.
Lina mendukung apabila orang tua memberlakukan diet media kepada anak yang mengalami kesulitan membagi waktu dan konsentrasi karena media. Mereka hanya diperbolehkan memakai media total selama 2 jam setiap harinya.
Inilah repotnya menjadi orangtua. Namun, tidak ada salahnya bersaing dengan anak sebelum dia lebih jatuh cinta kepada facebook dibandingkan dengan ayah-ibunya. (noerma.sari@bisnis.co.id)
Noerma Komalasari
Bisnis Indonesia