Kamis, 24 Juli 2008

Menyeruaknya Psychedelia Pop

Dikutip dari tulisan pengamat musik Denny Sakrie
 
 
Efek Rumah Kaca juga geram pada musik pop yang banyak menyanyikan cinta.
Tahun ini adalah tahun invasi band-band dalam industri musik (pop) Indonesia. Sayangnya, sebagian besar justru terjebak dalam keseragaman. Kulminasinya adalah mencuatnya "inflasi" musik pop hingga penikmat musik mengalami kesukaran membedakan antara satu band dan band yang lain.

Hal itu mengingatkan kita pada dasawarsa 1970-an, yang juga disesaki banyaknya band setelah keran yang dibuka Koes Plus mengalir deras. Saat itu, keseragaman identitas pun terjadi, baik dari struktur penulisan lagu maupun lirik. Remy Silado sempat melontarkan kritik bahwa lagu-lagu pop (band) saat itu sarat dengan kata "mengapa" yang menteror kuping.

Tak jauh beda dengan yang terjadi belakangan ini. Simaklah lirik lagu-lagu dari selaksa band yang dijejali kata-kata "selingkuh", "kekasih gelap", "bagai bintang", "bukan pujangga".

Dan seperti yang telah terjadi, di tengah keseragaman itu toh tetap ada yang berupaya untuk mengikisnya dengan menjejalkan karya-karya yang oleh sebagian khalayak awam dianggap menyimpang. Tapi bukan tak mungkin, ketika keseragaman mencapai titik nadir, suguhan musik pengimbangnya yang kerap beroposisi bisa berubah menjadi trend-setter.

Di tengah maraknya keseragaman, menyeruaklah beberapa band yang kebetulan tercerabut dari komunitas indie, yang mencoba menawarkan konsep yang sebetulnya bukan hal baru: psychedelia pop. Konsep ini merebak di Inggris dan Amerika Serikat di paruh dasawarsa 1960-an. Tersebutlah tiga band indie, yaitu Vox, Zeke and The Popo, dan Efek Rumah Kaca, yang masing-masing baru saja merilis album debut tahun ini.

Vox, band asal Surabaya yang terdiri atas Joseph Sudiro (bas, vokal), Vega Antares Setianegra (vokal, gitar), Donnie Setiohandono (keyboard, vokal), dan Gabriel Mayo Riberu (drum, vokal), merilis album Pada Awalnya (Aksara Records). Zeke and The Popo dari Jakarta, yang terdiri atas Khaseli "Zeke" Gumelar (vokal, keyboard), Iman "Babyfaced" Putra Fattah (gitar, sound device), Leonardo "Mugeni" Ringo (gitar), Yudhi "Sideburns" Harry Noor (bas), dan Amir "Kuro" (drum), meluncurkan album Space in the Headline. Adapun Efek Rumah Kaca, yang terdiri atas Cholil (vokal, gitar), Adrian (bas), dan Akbar (drum), muncul dengan album bertajuk Efek Rumah Kaca, yang mengingatkan kita pada penemuan ilmuwan Joseph Fourier pada 1824, yaitu proses atmosfer memanaskan sebuah planet.

Tak jelas kenapa banyak band indie kini yang terpukau pada atmosfer psychedelia, genre yang condong pada gerakan kultur era 1960-an. Psychedelia adalah fenomena bawah tanah kala itu yang kemudian berubah menjadi overground, terutama setelah nama-nama sohor, seperti The Beatles, mulai menyelusupkan elemen psychedelic dalam album Revolver (1966) dan mencapai puncak dengan Sgt Pepper's Lonely Hearts Club Band (1967). Juga harmoni vokal The Beach Boys dalam album Pet Sounds (1966), yang menjadi inspirasi anak band.

Tak bisa dimungkiri kehadiran elemen psychedelic yang beratmosfer trippy atau alam bawah sadar memang banyak bergumul dalam kitaran efek bunyi-bunyian yang membalut struktur lagu yang memang diakui catchy. Jika ingin mengendus aroma psychedelic dalam sebuah lagu, dipastikan bisa dijumpai anasir seperti suara sitar, glockenspiel, fuzz guitars, efek tape, hingga backward guitar (bunyi gitar yang diputar terbalik).

Simaklah introduksi lagu Jalang, yang dibawakan Efek Rumah Kaca, yang menampilkan sebuah backward dari interlude lagunya. Tata musik kelompok ini memang jelas bermuatan anasir psychedelia, apalagi mereka rasanya juga banyak terpengaruh post-rock ataupun shoegaze, subgenre yang berakar kuat pada gerakan psychedelia 1960-an. Efek Rumah Kaca pun cukup cerdas menuliskan lirik. Misalnya, dalam lagu Di Udara, yang bertutur tentang aktivis Munir:

 
Kubisa tenggelam di lautan
Aku bisa diracun di udara
Aku bisa terbunuh di trotoar jalan
Tapi aku tak pernah mati

 
Sebuah paparan lirik yang tak ditemui dalam rimbunnya band-band sekarang, yang hanya menyitir tema cinta yang dangkal. Bahkan trio ini pun geram dengan kondisi industri musik kita sekarang ini dalam lagu Cinta Melulu:

 
Nada nada yang minor
Lagu perselingkuhan
Atas nama pasar semuanya begitu klise

 
Vox bahkan lebih memilih tema persahabatan dalam lagu Ingatkah Pertama:

 
Ingatkah pertama kau terhenti
Dan berjanji untuk mencoba kembali?

Dan Vox sangat terpukau dengan supremasi Beach Boys dan The Beatles. Simaklah nuansa lagu Pada Awalnya, yang mengingatkan kita pada Wouldn't Be Nice-nya Beach Boys (album Pet Sounds). Pada Oh Well, dengan cerdik Vox kembali menyulam aura God Only Knows-nya Beach Boys. Petikan slide gitar pada lagu ini mengingatkan kita pada jati diri George Harrison. Lalu di coda kita diberi ilusi seolah terjebak deja vu All You Need is Love-nya The Beatles dengan tumpukan bunyi-bunyian instrumen tiup yang dimainkan Indra Aziz.

Lagi-lagi aura The Beatles era psychedelic tercium pada lagu Professor Komodo pada album perdana Zeke and The Popo. Kelompok ini sangat tekun menggarap musik, meski terkadang terasa agak berlebihan. Simak saja susupan tiupan saksofon Indra Aziz pada Unrescued World Supposed to Rescued World. Bahkan mereka pun memasukkan unsur orkestral pada interlude yang diarahkan Addie M.S. Sebuah komposisi yang membuat pendengar melayang kehilangan gravitasi. Kemurungan dan keterasingan ala Pink Floyd hingga Radiohead terasa di beberapa komposisi.

Tampaknya Zeke and The Popo memang telah memilih psychedelia sebagai cetak biru musikalnya. Mereka pun menorehkan tag-line pada kemasan albumnya: "an album for lonely people, and for those who are looking for loneliness".

Nah, jika Anda ingin mengasingkan diri dari cengkeraman musik pop (seragam) dari band yang jumlahnya tak terhitung itu, suguhan album dari ketiga band tersebut--Vox, Zeke and The Popo, dan Efek Rumah Kaca--layak disimak.

Denny Sakrie, pengamat musik
Koran Tempo  Minggu, 21 Oktober 2007
 

Selasa, 22 Juli 2008

CD Dewa Budjana-Gitarku

Album Gitarku
Tahun 2007
Sony Music Entertainment Indonesia

01 Kunang-Kunang
02 Dedariku
03 Semarapura
04 Dua Mata
05 Adikku
06 Takana Juo
07 Yang Terindah (live)
08 Papuaku Kini
09 Caka 1922

http://www.dewabudjana.com/v2/discography.php

Gitarku……..hidupku
Gitarku……..kekasihku
Gitarku……..inspirasiku
Gitarku……..karyaku
& kupersembahkan gitarku

You can bring this album to one of your meditation classes, yoga sessions or such, you will find it it’s the right thing to do. Why? It’s relaxing, peace and ease your mind and also your body. This is Dewa Budjana with his guitar releasing second solo album called ‘Gitarku.’

“I’ve always wanted to make a new age kind of album. Doing that you can also have a mean to contemplate and reflecting. That’s why all the compositions that I wrote in this album were intentionally made so simple. I’ve lessen using complicated improvisation and mainly distortion,” express Budjana. Budjana plays ‘Gitarku’ as a reflection of his life journey. Reflecting the peace of his music carrier for years and the good relationships among Indonesian and global musicians.

“I’ve done, learned all kinds of music genre. From Indra Lesmana’s jazz to my recent group GIGI. The loud, distortion sound I pour on GIGI and now I want to reveal my other side. And this is my other side.”

‘Gitarku’ spent one year in a making (1999-2000). Nine songs are all written with a clear concept and theme. “Kunang-Kunang” burst an enchanting harmonization composition from a guitar, Indonesian flute, percussion and a bit of synth touches. A personification of all God creatures that are rarely to find in metropolitan city.

Produce By: SONY Music Entertainment Indonesia

Executive Producer: SONY Music Entertainment Indonesia

All Songs Composed, Arranged & Produced by: Dewa Budjana

String Arr. on Takana Juo by: Dewa Budjana

String Arr. on Caka 1922 by: Aminoto Kosim

Recorded & Mixed at: DB Home Studio

Recording Engineer: Dewa Budjana (except drum track taken by Nandar)

Mixing Engineer: Rudra "The King of Dial"

Mastered by: Hok Lay

Mastered at: Musica Mastering

Production Coordinator: GIGI Management

(www.gigionline.com / gigi@cbn.net.id)

Cover Design & Photography: Jay Subiyakto & Dimas Djayadiningrat

Layout: V-nergi

CD Dewa Budjana-Home


Album Home

Tahun 2005
Sony Music Entertainment Indonesia
Manufactured by PT. Sony Music Indonesia

01 Temple Island
02 On The Way Home
03 Lost Paradise
04 Malacca Bay
05 Dreamland
06 Dancing Tears
07 Bunga yang Hilang
08 Devananda

http://www.dewabudjana.com/v2/discography.php

Home is where the heart is, some say. For others, it is where the hurt is. But be it the source of joy or pain, each of us must long for a familiar place, a place to go back to …a sanctuary.

Many have lost that very place, like our brothers and sisters, the victims of tsunami. Others’ homes continue to be hit by savage attacks, including the recent tragedy in my hometown Bali.

This record aims at uttering my deepest sorrow and compassion. I hope time can heal our wounds, and we can finally find our way home. Home in the harmony with nature, and home in the world without hatred and sheer bigotry.

Executive producer : SONY BMG music ent. Indonesia
Producer : db
All Songs composed/arranged and edited by : db
Manager : Dhani Pette for Post entertainment
US Musicians Coordinator : Peter & Mutzy Erskine
Peter Erskine appears Courtesy of Fuzzy Music
Engineered by
- db
- Kraig Zarkoz (Puck Std , Santa Monica)

Live recorded on May 19th 2005 , for track (Temple Island/Bunga Yg Hilang/Dreamland/Lost Paradise)
- Rich Breen (Puck Std , Santa Monica)

Overdub on August 18th 2005 , for track (Dancing Tears/Malaka Bay/On The way Home)
- Deny (Pregine Std , Bali)

Overdub Gangsa
Mixed by : Stephan Santoso at Slingshot Studio
Mastered by : Khoe Hok Laij at Slingshot Studio
Cover Concept , Art and Design : Dedidude

CD Dewa Budjana-Samsara

Album Samsara

Tahun 2003
Sony Music Entertainment Indonesia
Manufactured by PT. Sony Music Indonesia

01 Nikki iku
02 Rerad rerod
03 Early mornin'
04 Lonely
05 Shambala
06 Lovina
07 Januari
08 Last forest
09 Souvereign hill

http://www.dewabudjana.com/v2/discography.php

Samsara is the Cycle of existence (birth, life and rebirth) conditioned by karma, it is the wheel of suffering that characterized the phenomenon we call life......

Pertengahan Februari ini Dewa Budjana kembali merilis solo albumnya berjudul SAMSARA. Yang istimewa dari album ini adalah proses tak berkesudahan dari musikalitas Budjana sendiri dan juga para musisi kondang tanah air dan mancanegara yang terlibat di dalamnya. Ia mulai mengerjakan album ini di bulan November 2001.

Executive Producer:
SONY Music Entertainment Indonesia

All Songs Composed, Arranged & Produced by:
Dewa Budjana

Publisher:
SONY Music Entertainment Indonesia

Engineer:
Dewa Budjana for all track on mobile recording exept Peter Erskine & Dave Carpenter taken by Dan Pinder at Puck (erskine) Studio

Edited by: Dewa Budjana

Final Edited & Mix by:
Stephen Santoso at Slingshot Studio Jakarta

Mastered by: Khoe Hok Laij at Musika Mastering

Production Coordinator :
Dhani Pette for GIGI Management

Assistant : Diedieth "Bloegh"

Art Work : Rama Vinergi

Photographer : Firdaus Fadlil

Senin, 21 Juli 2008

Digipack atau Jewel, pilih yang mana?

Saat ini dipasaran CD, sering ditemui CD yg dirilis beda tampilan kemasan. Ada yg berformat Jewel Case yg pake kotak bening, dan ada yang berformat digipack yang kayak buku.

Beberapa CD yg saya beli dalam format digipack diantaranya:

  • Death Vomit-The Prophecy
  • Sore-Centralisimo & Ports of Lima
  • Seringai-Serigala Militia
  • Slank-The Big Hips & Slow but Sure
  • Mocca-My Diary
  • Trisum
  • D’Cinnamons-Good Morning
  • Efek Rumah Kaca-ERK
  • Iwan Fals-In Love
  • dlsb/lspt

 CD yg lain umumnya dalam format Jewel Case.

Diluar materi musiknya, saya pribadi lebih suka dalam format Jewel Case yang IMHO lebih gampang & enak disimpan dan terkesan lebih rapih serta mudah dalam pencarian.

Bagaimana pilihan anda….?

Minggu, 20 Juli 2008

Discus di Jakarta Rock Parade 12 Juli 2008




Jakarta Rock Parade yg disetting jadi acara rock lintas generasi merupakan konsep yg bagus, 4 panggung yang ok (park stage, rock lounge stage, tennis outdoor dan tennis indoor) lighting yang keren, sayang dalam pelaksanaan banyak melesetnya.

Karcis yg cukup mahal (200 rb harian + 200 rb special stage) mungkin menjadi salah satu faktor sepinya penonton.
Gw pribadi juga melihat tiadanya magnet besar yg bisa menarik massa (bayangin kalo Iron Maiden bisa hadir...hehehehe ngimpi bener gw....), yg membuat orang segen dateng ke even ini.
melihat lineup Gw cuman pingin dateng di hari ke 3 Minggu 13 Juli, cuman pas Sabtu kok kebetulan anak-anak dan orang rumah pada nonton Dinos Alive di plaza tenggara, jadi ya sekalian aja nonton di Sabtu 12 Juli.
Terjadi stagnasi antar panggung, akibat beberapa band batal tampil. Cuman gw masih puas dengan tampilnya Tengkorak, Trauma, The SIGIT, Lain, Ucok AKA dan Discus yang tampil tanpa Kiki Caloh.
Karena gak bawa kamera, ini ambil beberapa gambar Discus hasil jepretan rekan Troy Norman.

CD Discus-...tot licht!



Album ...tot licht!
Tahun 2003
Interpid Music
Produced by Andi Julias, except "Music 4.5 Players" by Iwan Hasan & Andi Julias

01 System Manipulation
02 "Breathe" feat Ombat Nasution (Tengkorak)-Growl
03 P.E.S.A.N feat Andy Julias
04 Verso Kartini -Door Duisternis Tot Licht!-
05 Music 4.5 Players
06 Anne (adopted by the diary of Anne Frank/Dagboekopen)
07 Misfortune Lunatic feat Godfried L. Tobing on Vocals         

Discus:
  • Fadhil Indra
  • Iwan Hasan
  • Kiki Caloh
  • Anto Praboe
  • Eko Partitur
  • Hayunaji
  • Krisna Prameswara
  • Nonnie