Selasa, 29 Juli 2008

CD GodBless-18 Greatest Hits Of GodBless

Album 18 Greatest Hits Of GodBless
Tahun 1992
Logiss Records Inc

Disc #1
01 Balada Sejuta Wajah
02 Damai Yang Hilang
03 Menjilat Matahari
04 Rumah Kita
05 Musisi
06 Anak Kehidupan
07 Sesat
08 Trauma
09 Mistery

Disc #2
01 Raksasa
02 Selamat Pagi Indonesia
03 Huma Diatas Bukit
04 Semut Hitam
05 Setan Tertawa
06 Cendawan Kuning
07 Kehidupan
08 Maret 1989
09 She Passed Away

CD GodBless-The Story of

Album The Story of GodBless
Tahun 1990
Logiss Records Inc

01 Huma Diatas Bukit
02 Musisi
03 She Passed Away
04 Raksasa
05 Kehidupan
06 Cendawan Kuning
07 Setan Tertawa
08 Rumah Kita
09 Menjilat Matahari
10 Sesat

Senin, 28 Juli 2008

CD GodBless-Raksasa

Album Raksasa
Tahun 1989
Logiss Records

01 Maret 1989
02 Menjilat Matahari
03 Misteri
04 Emosi
05 Cendawan Kuning
06 2002
07 Pemburu Ilusi
08 Sang Jagoan
09 Anak Kehidupan
10 Raksasa


Formasi GodBless pada album ini:

    * Achmad Albar-Vocal
    * Eet Syahranie-Guitar
    * Donny Fatah-Bass
    * Jockie Suryoprayogo-Keyboards
    * Teddy Sujaya-Drums

CD GodBless-Semut Hitam

Album Semut Hitam
Tahun 1988
Logiss Records

01 Kehidupan
02 Rumah Kita
03 Semut Hitam
04 Damai Yang Hilang
05 Orang Dalam Kaca
06 Ogut Suping
07 Suara Kita
08 Badut Badut Jakarta
09 Trauma
10 Bla…bla…..Bla…

Formasi GodBless pada album ini:
  • Achmad Albar-Vocal
  • Ian Antono-Guitar
  • Donny Fatah-Bass
  • Jockie Suryoprayogo-Keyboards
  • Teddy Sujaya-Drums

CD GodBless-s/t

Album GodBless
Tahun 1975
PT Pramaqua

01 Huma Di Atas Bukit
02 Rock Di Udara
03 Sesat
04 Eleanor Rigby
05 Gadis Binal
06 Friday On My Mind
07 Setan Tertawa
08 She Passed Away


Formasi GodBless pada album ini:
  • Achmad Albar-Vocal
  • Ian Antono-Guitar
  • Donny Fatah-Bass
  • Yockie Soeryoprayogo-Organ, Electic Piano
  • Teddy Sujaya-Drums

Sabtu, 26 Juli 2008

Happy Birthday Mick!

 

Tanggal 26 Juli  merupakan hari kelahiran pentolan Rolling Stones Mick Jagger.
Lahir di Dartford Inggris 26 Juli tahun 1943, berkarir bersama The Rolling Stones sejak tahun 1962, sampai saat ini masih berlenggak lenggok bersama The Rolling Stones.

Saat kebanyakan pensiunan kita sudah pakai tongkat penopang dan didera masalah kesehatan, diusia 65 (sukar dipercaya) opa Mick Jagger masih menebar racun rock'n'roll ke seantero dunia.

Saya pribadi kenal The Rolling Stones lewat grafiti di tembok Baluwarti di kota Solo, serta majalah aktuil kepunyaan om Saya di tahun 70 an.

Rolling Stones dan Mick Jagger menjadi semacam hero saya di tahun 80 an, gara-gara video betamax lets spend the night together yang berisikan konser Rolling Stones di USA, dan disusul dengan album Tattoo You.
Saat itu label kaset bajakan lokal Billboard, mengeluarkan seri 16 kaset The Rolling Stones, dan ada juga dari label Saturn sehingga semakin membuat saya kesengsem akan pesona band ini. (kamar kost saya penuh poster The Rolling Stones saat itu)


Bersama teman-teman sepermainan tiap nongkrong bareng  sambil genjreng-genjreng gitaran mengalirlah The Spider & the Fly, Sister Morphine, Angie, Waiting on a Friend, Honky tonk Woman, Love in Vain dan lain-lain (ah kapan lagi bisa seperti itu..........)

Paling berkesan ketika Mick Jagger main di Senayan, nekad ngluruk ke Jakarta dari padang dengan duit pas-pasan sekedar untuk bisa melihat MicK Jagger (meskipun tanpa Stones) secara langsung.

Sungguh gak nyangka dengan pola hidup yg kacau balau di tahun 70an (alcohol  & drugs) ternyata Mick Jagger gak mati muda dan tetep sehat sampai saat ini.
Brian Jones dan Ian stu Stewart (the 6th stones) sudah meninggal, Mick Taylor dan Bill Wyman udah cabut,  namun Jagger dan Stones terus menggelinding meraup dollar dari konsernya (meskipun gak punya album yang meledak lagi).

Menyaksikan DVD nya secara urutan

  • Stones in the Park di thn 60 an
  • Gimme Shelter di thn 70 an
  • Lets Spend The Night Together di thn 80 an
  • Stones at the Max, Voodoo Lounge Live, Bridges To Babylon Tour di thn 90 an
  • Four Flicks serta The Biggest Bang di thn 2000 an

Rasanya gak banyak yg berubah dari penampilan Mick Jagger, gaya panggungnya tetep loncat kiri kanan, lenggok kiri kanan, lari dari ujung panggung ke ujung lainnya. Secara fisik sungguh luar biasa.

Cuman keriput di wajah yang menjadi beda penampilan dulu dan kini....

Di DVD four flicks diuangkap bahwa olahraga (renang, fitness, jogging) serta ballet menjadi rahasia kekuatan staminanya hingga saat ini.

Usia 65 ini akankah Mick Jagger pensiun?

Entahlah...... godaan panggung dan uang begitu menggelora.....
Saya sendiri masih menyimpan mimpi untuk sekali lagi menonton Mick Jagger lengkap bersama Ron Wood, Keith Richards, Charlie Watts sebagai The Rolling Stones (syukur-syukur Bill Wyman mo gabung lagi).

Happy Birthday Mick! Long Live Rock 'N'Roll

Kamis, 24 Juli 2008

'Rock' Majemuk Sang Ikan

Dikutip dari tulisan Pengamat Musik Denny Sakrie

Tatanan musik Tot Licht begitu kaya. Inilah album terbaik progressive rock di negeri ini setelah Guruh Gypsy.

Setelah sukses melambungkan sederet grup papan atas seperti Sheila On 7, Padi, dan Cokelat dengan penjualan jutaan keping, kini Sony Music Indonesia punya "mainan" baru: Progressive Sony atau disingkat PRS. PRS adalah sub-label Sony yang menampung grup-grup musik marginal atau "terpinggirkan" alias tidak bermain dalam jalur pop mainstream. Mereka, grup musik yang tak pernah dijamah industri musik karena muatan idealisme yang dianggap berseberangan dengan selera pasar, digamit oleh Sony Music Indonesia.

Produk perdana PRS adalah Discus, grup progressive rock yang pernah dua kali tampil dalam event progressive rock internasional: ProgDay di North Carolina, Amerika Serikat (2000), Baja Prog di Meksiko (2001). Album pertama Discus, Discus 1St, bahkan dirilis secara internasional oleh sebuah label independen Italia, Mellow Record. Selain dirilis di Indonesia oleh PRS Record, album kedua, Tot Licht, juga dirilis di Jepang oleh Gohan Records dan di Prancis oleh Musea Records.

Seperti album pertamanya, Discus 1St (Chicoira Productions, 1999), grup yang dimotori gitaris Iwan Hasan ini masih percaya pada konsep musik fusi: menggabungkan sedemikian banyak style musik. Dengan basis rock, Discus, yang didukung delapan pemusik, mengadon musiknya dengan anasir jazz, klasik, folk, dan etnik Indonesia. Bahkan mereka pun kini terlihat berani dengan menampilkan sentuhan metal. Simak saja riff-riff gitar Iwan Hasan yang tegas, tebal, dan sarat distorsi. Permainan drum Hayunaji yang powerful serta dipertegas dengan growl (teknik nyanyi menggeram yang menjadi ciri musik metal) yang dilakukan oleh Ombat Nasution, penyanyi grup metal Tengkorak, menjadi bintang tamu pada lagu Breathe.

Anasir musik yang beraneka ragam ini tampaknya diperlakukan sebagai simbolisasi. Untuk lagu yang cenderung bertendensi kritik sosial seperti System Manipulation dan Breathe, simbol bunyi itu jatuh pada sentuhan metal, yang memang memiliki kesan anger. Dalam atmosfer yang lain, Discus memberi ruang untuk bunyi-bunyian instrumen etnik dari Bali, Kalimantan, ataupun Toraja. Cerdiknya, Discus tidak berupaya memempelaikan instrumen Barat dan Timur, tapi lebih mementingkan hadirnya instrumen tradisional sebagai elemen bunyi. Tak jauh seperti pemahaman musik yang pernah dilontarkan pemusik I Wayan Sadra: mainkanlah instrumen etnik itu dengan mengabaikan pakem. Sangat berbeda dengan apa yang pernah dilakukan Eberhard Schoener, pemusik Jerman yang mencoba menggabungkan musik rock dengan gamelan Bali pada album Bali Agung (1976), yang terkesan tempelan belaka.

Menyimak musik Discus di album ini, kita seperti tengah menaiki roller coaster. Nyaris tidak ada ruang untuk bernapas. Rhythm dan komposisi melodinya padat. Beat berubah-ubah. Tapi toh mereka tak menampakkan kesan pamer kemampuan. Bahkan dinamika ritme, melodi, dan beat yang tidak konstan ini sepertinya memang diupayakan untuk mendramatisasi tema lirik. Teror musikal semacam ini memang mengingatkan kita pada upaya yang sering dilakukan Frank Zappa. Musik Discus yang bermain tanpa batas musik ini—berlari dari rock, jazz, hingga klasik—memang tak jauh dari apa yang pernah dilakukan pemusik 70-an seperti Frank Zappa ataupun Canterbury Scene, gerakan pemusik Inggris yang berasal dari Canterbury seperti National Health, Egg, Khan, Soft Machine, Matching Mole, yang bereksperimen menampilkan rock dengan dimensi majemuk.

Satu-satunya lagu yang agak menyempal di album ini adalah P.E.S.A.N, yang justru bercorak ear candy. Harmonisasi vokalnya terasa bagai kelompok PAHAMA. Paling tidak, di lagu yang dilatari petikan gitar akustik ini, kebetulan lagu ini ditempatkan pada pertengahan dari susunan 6 lagu album Tot Licht, bisa dijadikan jeda setelah dibombardir deretan lagu yang njelimet. Pada komposisi Music 4.5 Players, Discus menampilkan dialog instrumen biola (Eko Partitur), gitarharpa 21 senar (Iwan Hasan), dan klarinet (Anto Praboe). Sebuah chamber music yang bernuansa kontemporer dan mengingatkan kita pada Dixie Dregs, grup progressive rock-nya gitaris Steve Morse.

Dibanding album sebelumnya, di album Tot Licht ini, selain ingin menyajikan tatanan musik yang kaya dan majemuk, Discus juga ingin serius dalam menggarap tema lirik. Mereka ingin melakukan ekspansi tema, tidak ingin terjebak dalam tema-tema mitologi atau fiksi ilmiah seperti yang menjadi tipikal kelompok-kelompok progressive-rock mainstream di era 70-an seperti Yes atau Genesis. Kritik terhadap perilaku korup, yang masih jadi isu nasional sekarang ini, termaktub dengan lugas dan gamblang pada lagu System Manipulation:

    Ethical manipulation gets justified as such
    Contextual proposition, considered absolute
    You  thinks you're such a noble, you're just another clown
    Manipulate, take advantage, twist meanings as you wish....

Discus pun merasa perlu membolak-balik catatan dua wanita yang tertindas dengan konteks yang berbeda: R.A. Kartini, wanita Jawa yang terbelenggu nilai adat, dan Anne Frank, gadis Jerman Yahudi yang melarikan diri dari holocaust Nazi dan meninggal di Kamp Konsentrasi Belsen pada usia 16 tahun. Dari buku Habis Gelap Terbitlah Terang yang berisikan kumpulan surat-surat Kartini, lalu muncul lagu "Verso Kartini - Door Duisternis tot Licht!". Sedangkan buku harian Anne Frank yang legendaris itu menjadi gagasan utama lagu Anne, yang berdurasi 19,23 menit. Liriknya digarap oleh Fadhil Indra, sang pemencet bilah-bilah kibor.

Kedua lagu ini disajikan dalam gaya naratif dan sedikit berkesan operatic. Lagu ini rasanya punya potensi kuat untuk dikembangkan menjadi semacam opera rock seperti Tommy (Pete Townshend) atau Jesus Christ Superstar (Andrew Lloyd Weber & Tim Rice). Sayangnya, kedua lagu ini terasa sangat mubazir. Padatnya narasi harus tumpang tindih dengan music score yang juga sangat padat. Terlalu menjelas-jelaskan. Sepertinya, Discus tidak begitu yakin pesan dari tema lagu tersebut bisa dipahami pendengarnya. Padahal, dengan hanya menggunakan bunyi-bunyian musik sebagai idiom, sebetulnya Discus mampu bertutur tentang pedihnya penderitaan yang dialami Kartini ataupun Anne Frank, tanpa harus bertutur secara verbal.

Uniknya lagi, Discus menampilkan tematik historis ini dengan interpretasi yang agak nyeleneh. Misalnya, cuplikan surat Kartini terhadap Stella Zeehandelaar dan Ms. Abendanon justru dibacakan oleh suara pria dengan nada geram dan tegas. Atau, gamelan Bali dan kor Kecak menyelimuti aransemen lagu Anne, bukannya musik klasik, musik yang akrab dengan atmosfer Eropa. Dan Tot Licht merupakan album progressive rock terbaik negeri ini setelah Guruh Gipsy, album kolaborasi Guruh Sukarno Putra dengan grup rock Gipsy 27 tahun yang lalu.

* pengamat musik
Majalah Tempo No. 34/XXXII/20 - 26 Oktober 2003