| Start: | Oct 28, '09 7:00p |
| Location: | Senayan, Jakarta |
Selasa, 14 Juli 2009
The Battle of Giant
Rabu, 24 Juni 2009
Ruang untuk Sepeda
http://www.suarapembaruan.com/index.php?detail=News&id=8790
Tulisan Rahardi Ramelan
Jakarta sebagai ibukota negara menjadi sumber dan pusat berbagai kegiatan, baik ekonomi, politik, entertainment, maupun olahraga. Bundaran Hotel Indonesia (HI) dengan Tugu Selamat Datang sudah menjadi ikon Kota Jakarta sejak 1960-an. Menjelang Asian Games 1962, di samping HI dan Gelora Bung Karno, juga diluncurkan stasiun televisi dan pembangunan Velodrom di Rawamangun. Velodrom adalah tempat latihan dan balap sepeda. Tetapi, nasib perkembangan olahraga sepeda sama dengan olahraga lainnya. Hanya dengan memiliki fasilitas stadion, tidak menjadi jaminan bahwa olahraga akan maju. Itulah kenyataan yang dihadapi bangsa ini.
Akhir-akhir ini, olahraga bersepeda diminati banyak penduduk Jakarta dan telah menjadi fashion. Politisi, selebriti, pengusaha, pengurus partai politik, dan lain-lainnya memanfaatkan olahraga bersepeda sebagai cara menunjukkan kedekatannya dengan rakyat. Bundaran HI, Monas, dan Gelora Bung Karno, selain tempat yang paling strategis untuk mengadakan demonstrasi, juga menjadi tempat strategis dalam acara bersepeda. Kelompok-kelompok bersepeda pun bermunculan, seperti Bike to Work, Bike to School, dan Kelompok Sepeda Ontel. Kegemaran bersepeda ini ditunjang oleh perkembangan teknologi dan industri sepeda. Beberapa merek lokal telah berkembang pesat, walupun harus bersaing dengan produk dari Tiongkok dan Taiwan. Sepeda jadul, sepeda ontel, mulai mendapat tempat kembali, mirip peran mobil antik atau vintage.
Sepeda dapat terjangkau oleh semua lapisan, karena harganya sangat bervariasi, dari ratusan ribu sampai puluhan juta rupiah. Berbagai bentuk dan model sepeda berkembang. Bagi rakyat biasa sepeda masih menjadi alat angkut vital untuk menunjang ekonomi mereka, seperti penjual roti, bakso, tukang jahit, dan ojek sepeda. Oleh karena itu, Pemprov DKI Jakarta pernah mempunyai rencana membuat jalur khusus sepeda. Car free day telah dilaksanakan di ruas-ruas jalan tertentu setiap hari Minggu, mulai pukul 06.00 sampai 09.00. Hanya sayangnya, kebebasan bersepeda pada hari itu masih dihantui oleh perilaku pengendara sepeda motor dan mobil, yang tidak mempunyai tenggang rasa. Apakah jalur khusus untuk sepeda akan menjadi solusi?
Kenyataan lainnya yang dihadapi pengendara sepeda, tidak tersedianya tempat penempatan sepeda, baik dekat warung, rumah makan, maupun kafe. Demikian juga di pusat belanja tidak ada fasilitas untuk penempatan sepeda. Penulis pernah dipaksa oleh satpam untuk memindahkan sepeda yang ditempatkan di depan kafe yang menghadap ke jalan di sebuah mal di sekitar Semanggi. Akhirnya hanya diizinkan untuk menempatkan sepeda di tempat penitipan sepeda motor, yang tidak dapat terlihat.
Kantor Publik
Pemda harus tegas meminta pengelola mal, pusat belanja, kafe, restoran, sekolah, kampus, kantor wali kota, kecamatan, dan kelurahan untuk menyediakan fasilitas penempatan sepeda. Semua kantor yang melayani publik, seperti kepolisian, kantor pos, dan kantor pajak, juga harus menyediakan tempat penyimpanan sepeda.
Akan lebih rasional kalau pengembangan jalur sepeda dimulai di daerah permukiman. Mulailah dengan Menteng, Jakarta Pusat, di sekitar rumah dinas gubernur dan rumah dinas wakil presiden, atau di lingkungan tempat tinggal resmi menteri dan anggota DPR. Lingkungan permukiman elite, seperti Kebayoran Baru, Pondok Indah, Kelapa Gading, dan Pluit, harus menjadi contoh. Gubernur dan wali kota harus secara proaktif membuat perencanaan dan pengaturannya. Pemerintah daerah harus mengeluarkan peraturan agar para pengembang permukiman yang besar wajib menyediakan jalur sepeda. Jangan hanya menyelenggarakan sepeda santai dalam rangka HUT Kota Jakarta atau menjelang pilgub, pilpres untuk mencari simpati pemilih.
Kelompok bersepeda di Jakarta dan sekitarnya sedang berkembang dengan pesat. Mungkin saat ini dirasakan lebih merupakan trend dan fesyen. Bersepeda juga bukan hanya kebugaran dan berolahraga, melainkan bagian dari program mengurangi polusi udara dan suara. Bersepeda berarti juga mendukung dan bagian dari program Jakarta Hijau. Janganlah yang dimanjakan hanya pengendara kendaraan bermotor. Nasib dan kenyamanan pejalan kaki, gerobak dorong, dan pengendara sepeda, sudah saatnya juga mendapatkan perhatian serius.
Saatnya menata ulang peran jalan raya bagi semua pengguna. Kita tunggu keberanian Gubernur DKI bersama wali kota dalam merealisasikan gagasan meningkatkan budaya bersepeda di Jakarta. Masyarakat sudah lama menunggu.
Selamat HUT ke-482 Kota Jakarta.
Penulis mantan Menperindag
Tulisan Rahardi Ramelan
Jakarta sebagai ibukota negara menjadi sumber dan pusat berbagai kegiatan, baik ekonomi, politik, entertainment, maupun olahraga. Bundaran Hotel Indonesia (HI) dengan Tugu Selamat Datang sudah menjadi ikon Kota Jakarta sejak 1960-an. Menjelang Asian Games 1962, di samping HI dan Gelora Bung Karno, juga diluncurkan stasiun televisi dan pembangunan Velodrom di Rawamangun. Velodrom adalah tempat latihan dan balap sepeda. Tetapi, nasib perkembangan olahraga sepeda sama dengan olahraga lainnya. Hanya dengan memiliki fasilitas stadion, tidak menjadi jaminan bahwa olahraga akan maju. Itulah kenyataan yang dihadapi bangsa ini.
Akhir-akhir ini, olahraga bersepeda diminati banyak penduduk Jakarta dan telah menjadi fashion. Politisi, selebriti, pengusaha, pengurus partai politik, dan lain-lainnya memanfaatkan olahraga bersepeda sebagai cara menunjukkan kedekatannya dengan rakyat. Bundaran HI, Monas, dan Gelora Bung Karno, selain tempat yang paling strategis untuk mengadakan demonstrasi, juga menjadi tempat strategis dalam acara bersepeda. Kelompok-kelompok bersepeda pun bermunculan, seperti Bike to Work, Bike to School, dan Kelompok Sepeda Ontel. Kegemaran bersepeda ini ditunjang oleh perkembangan teknologi dan industri sepeda. Beberapa merek lokal telah berkembang pesat, walupun harus bersaing dengan produk dari Tiongkok dan Taiwan. Sepeda jadul, sepeda ontel, mulai mendapat tempat kembali, mirip peran mobil antik atau vintage.
Sepeda dapat terjangkau oleh semua lapisan, karena harganya sangat bervariasi, dari ratusan ribu sampai puluhan juta rupiah. Berbagai bentuk dan model sepeda berkembang. Bagi rakyat biasa sepeda masih menjadi alat angkut vital untuk menunjang ekonomi mereka, seperti penjual roti, bakso, tukang jahit, dan ojek sepeda. Oleh karena itu, Pemprov DKI Jakarta pernah mempunyai rencana membuat jalur khusus sepeda. Car free day telah dilaksanakan di ruas-ruas jalan tertentu setiap hari Minggu, mulai pukul 06.00 sampai 09.00. Hanya sayangnya, kebebasan bersepeda pada hari itu masih dihantui oleh perilaku pengendara sepeda motor dan mobil, yang tidak mempunyai tenggang rasa. Apakah jalur khusus untuk sepeda akan menjadi solusi?
Kenyataan lainnya yang dihadapi pengendara sepeda, tidak tersedianya tempat penempatan sepeda, baik dekat warung, rumah makan, maupun kafe. Demikian juga di pusat belanja tidak ada fasilitas untuk penempatan sepeda. Penulis pernah dipaksa oleh satpam untuk memindahkan sepeda yang ditempatkan di depan kafe yang menghadap ke jalan di sebuah mal di sekitar Semanggi. Akhirnya hanya diizinkan untuk menempatkan sepeda di tempat penitipan sepeda motor, yang tidak dapat terlihat.
Kantor Publik
Pemda harus tegas meminta pengelola mal, pusat belanja, kafe, restoran, sekolah, kampus, kantor wali kota, kecamatan, dan kelurahan untuk menyediakan fasilitas penempatan sepeda. Semua kantor yang melayani publik, seperti kepolisian, kantor pos, dan kantor pajak, juga harus menyediakan tempat penyimpanan sepeda.
Akan lebih rasional kalau pengembangan jalur sepeda dimulai di daerah permukiman. Mulailah dengan Menteng, Jakarta Pusat, di sekitar rumah dinas gubernur dan rumah dinas wakil presiden, atau di lingkungan tempat tinggal resmi menteri dan anggota DPR. Lingkungan permukiman elite, seperti Kebayoran Baru, Pondok Indah, Kelapa Gading, dan Pluit, harus menjadi contoh. Gubernur dan wali kota harus secara proaktif membuat perencanaan dan pengaturannya. Pemerintah daerah harus mengeluarkan peraturan agar para pengembang permukiman yang besar wajib menyediakan jalur sepeda. Jangan hanya menyelenggarakan sepeda santai dalam rangka HUT Kota Jakarta atau menjelang pilgub, pilpres untuk mencari simpati pemilih.
Kelompok bersepeda di Jakarta dan sekitarnya sedang berkembang dengan pesat. Mungkin saat ini dirasakan lebih merupakan trend dan fesyen. Bersepeda juga bukan hanya kebugaran dan berolahraga, melainkan bagian dari program mengurangi polusi udara dan suara. Bersepeda berarti juga mendukung dan bagian dari program Jakarta Hijau. Janganlah yang dimanjakan hanya pengendara kendaraan bermotor. Nasib dan kenyamanan pejalan kaki, gerobak dorong, dan pengendara sepeda, sudah saatnya juga mendapatkan perhatian serius.
Saatnya menata ulang peran jalan raya bagi semua pengguna. Kita tunggu keberanian Gubernur DKI bersama wali kota dalam merealisasikan gagasan meningkatkan budaya bersepeda di Jakarta. Masyarakat sudah lama menunggu.
Selamat HUT ke-482 Kota Jakarta.
Penulis mantan Menperindag
Senin, 01 Juni 2009
In The Land of Giant
Seperti biasa, hari senin selalu bersemangat untuk gowes ke kantor, dengan alasan untuk menghilangkan penyakit malas paska weekend an.
Berangkat dari Sumur Batu pukul 5.45 dan telah sampai di parkiran kantor pukul 7.10.
Setelah memarkir my yellow submarine, segera keruangan kerja, mendinginkan badan sambil browsing, setelah itu mandi seger.
Karena belum sarapan dari rumah sekitar pukul 7.30 turun kembali untuk sarapan, dan sempat melihat di halaman parkir sepeda kuning kesayangaku sendirian kejepit diantara puluhan motor yang terparkir.
Minggu, 31 Mei 2009
Bersepeda "Membelah" Jakarta
http://megapolitan.kompas.com/read/xml/2009/05/30/05245594/bersepeda.membelah.jakarta
Bersepeda "Membelah" Jakarta
Oleh ADI PRINANTYO
KOMPAS.com - Lima tahun silam, Toto Sugito (45) praktis sendirian bersepeda sejauh 33,4 kilometer dari rumahnya di Cibubur ke kantornya di Tebet. Tetapi, kini, ia punya sekitar 11.000 ”teman seperjuangan”.
Toto, yang kini memimpin Komunitas Pekerja Bersepeda (Bike to Work Community— B2W) dengan 11.000 anggota, harus rela menerima cibiran dan ”dentuman” perta - nyaan dari lingkungan terdekat saat pertama kali hendak bersepeda ke kantor.
”Istri saya pada awalnya tidak setuju saya ber-B2W karena, selain bahaya lalu lintas yang semrawut, kebetulan dia—yang mempelajari ilmu kesehatan masyarakat —tahu benar bahaya polusi udara bagi kesehatan,” ujar Toto awal pekan ini.
Direktur PT Anggara Architeam, sebuah perusahaan konsultan arsitektur di Tebet Barat, ini tak sekadar bersepeda dari rumah ke kantor, tetapi ke mana pun aktivitasnya setelah berada di kantor. Jika ada rapat siang hari di kawasan Jalan Merdeka Selatan, maka rute Tebet- Merdeka Selatan juga ditempuh dengan sepeda.
Motivasinya? Yang pasti, bersepeda membuatnya terbebas dari stres akibat kemacetan yang setiap saat dan di mana pun bisa terjadi di Jakarta. ”Manfaat lainnya jadi lebih hemat, karena tidak perlu mengeluarkan dana bahan bakar kendaraan. Selain itu, dari sisi lingkungan, kita berperan aktif mengurangi emisi gas buang kendaraan bermotor yang memperparah polusi udara,” kata Toto.
Meski sejak 2005 ia pindah domisili ke Tebet Utara sehingga jarak ke kantornya hanya 2 kilometer, ia tetap konsisten bersepeda minimal 18 kilometer per hari, sepanjang ia bisa.
”Seperti saya bilang, bersepeda bukan hanya dari rumah ke kantor, tetapi selama jarak itu bisa saya tempuh dengan sepeda, saya akan pakai sepeda. Begitu pula soal frekuensi. Kalau bisa ber-B2W tiga hari sepekan, ya saya lakukan. Kalau bisa lebih sering dari itu, kenapa tidak,” tutur Ketua Umum Bike to Work Indonesia itu.
Segala lapisan
”Demam” bersepeda, sebagai bagian dari upaya mengatasi kemacetan, ingin lebih sehat, dan ingin ikut serta mengurangi polusi, pada akhirnya lekas menjalar ke berbagai kalangan. Menurut Ketua Bike to Work Indonesia Ozy F Sjarindra, anggota B2W Indonesia sudah mencapai 11.000 orang, tersebar di seluruh Indonesia. Angka itu merefleksikan pertumbuhan anggota yang pesat karena, pada 2004, anggotanya baru sebatas 150 orang.
Anggotanya sangat beragam, mulai dari office boy sampai kalangan pemilik atau direktur perusahaan besar. Mayoritas anggota berusia 25-40 tahun dan tinggal di beberapa wilayah mulai dari Depok, Tangerang, hingga Bekasi, dan kebanyakan berkantor di pusat Kota Jakarta. Dari kalangan tokoh masyarakat, ada pula beberapa pencandu kegiatan bersepeda, seperti aktor Mathias Muchus, Juru Bicara Kepresidenan Dino Patti Djalal, dan tokoh olahraga otomotif Soebronto Laras.
Makin banyaknya warga Jabodetabek yang naik sepeda juga sedikit banyak didongkrak oleh makin maraknya kegiatan sepeda gembira atau fun bike. Kegiatan fun bike dalam rangka ulang tahun ke-10 harian Warta Kota belum lama ini, misalnya, diikuti 2.500 peserta, setelah panitia menolak ratusan peserta lain yang terlambat mendaftar.
Geliat B2W di beberapa kota luar Jakarta juga sudah berhasil mengupayakan fasilitas bersepeda, seperti di Bandung, yang sukses mempersuasi pemerintah kota untuk membuat lajur khusus sepeda. Ini beda jauh dengan Jakarta, yang belum tentu lima tahun ke depan, atau di era gubernur siapa, bisa punya lajur khusus sepeda.
Ozy menuturkan, keanggotaan B2W tidak eksklusif karena bisa diibaratkan kastanya hanya di ”dengkul”. ”Sepanjang dia mengayuh sepeda untuk menjalankan aktivitas keseharian dengan sepeda, dia anggota B2W. Keanggotaan kami cair sekali karena tidak ada alasan untuk mempersulit penambahan anggota. Makin banyak anggota, artinya Indonesia makin sehat. Kan, sederhananya demikian,” ujar Ozy, Direktur PT Astra International, yang kerap bersepeda dari rumahnya di Bintaro ke kantornya di kawasan Sudirman.
Ia merasakan, setelah sering bersepeda ke kantor, badannya terasa lebih sehat. ”Harus diakui, sebelum aktif bersepeda empat tahun lalu, sedikit-sedikit saya sakit, sedikit-sedikit meriang. Apalagi kalau kena debu,” tutur eksekutif Ibu Kota yang sudah punya hobi bersepeda sejak kuliah S-2 di Amerika Serikat itu. Namun, setelah giat bersepeda, ia kini jarang sakit.
Satu lagi yang menarik, B2W juga bukan monopoli kaum adam. Penggiat sepeda kalangan perempuan juga sudah mulai unjuk gigi. Salah satunya Ita Yulita, Direktur PT Alita Praya Mitra, perusahaan di bidang telekomunikasi dan berkantor di Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan. Ita tak hanya giat berkampanye naik sepeda untuk dirinya, tetapi juga untuk sekitar 200 karyawannya.
Sebagai bagian dari kampanyenya di perusahaan, Ita memberikan fasilitas sepeda gratis kepada semua karyawan. Sepeda itu wajib digunakan untuk pergi ke kantor setiap hari Rabu, yang sejak Oktober 2008 ditetapkan sebagai hari bebas kendaraan bermotor di Alita Praya. Perusahaan itu juga menambah fasilitas shower untuk mandi setelah bersepeda, loker, juga mendirikan bengkel khusus sepeda di kantor.
”Awalnya, banyak karyawan yang ngos-ngosan waktu naik sepeda ke kantor, terutama yang perempuan. Maklum, rumahnya kebanyakan di Cibubur, Depok, dan Bekasi. Tetapi lama-kelamaan mereka bisa menikmati juga,” kata Ita, Jumat (29/5).
Saking ”gila”-nya dengan sepeda, Ita tidak mau karyawannya menyia-nyiakan sepeda gratis itu. Ia akan mengomplain karyawan yang tidak bersepeda pada hari Rabu tanpa alasan yang bisa diterima.
Toto, Ozy, Ita, dan ribuan warga Jabodetabek sudah sekian lama membuktikan, ”membe - lah” Jakarta dengan sepeda banyak faedahnya. Dengan penuh kesabaran mereka melakukan itu meski sering mendapatkan perlakuan yang tidak selayaknya dari pengguna mobil atau sepeda motor. Tetapi, mereka yakin, kesabaran akan menuai buah masa depan: bersepeda makin menjadi gaya hidup.
Bersepeda "Membelah" Jakarta
Oleh ADI PRINANTYO
KOMPAS.com - Lima tahun silam, Toto Sugito (45) praktis sendirian bersepeda sejauh 33,4 kilometer dari rumahnya di Cibubur ke kantornya di Tebet. Tetapi, kini, ia punya sekitar 11.000 ”teman seperjuangan”.
Toto, yang kini memimpin Komunitas Pekerja Bersepeda (Bike to Work Community— B2W) dengan 11.000 anggota, harus rela menerima cibiran dan ”dentuman” perta - nyaan dari lingkungan terdekat saat pertama kali hendak bersepeda ke kantor.
”Istri saya pada awalnya tidak setuju saya ber-B2W karena, selain bahaya lalu lintas yang semrawut, kebetulan dia—yang mempelajari ilmu kesehatan masyarakat —tahu benar bahaya polusi udara bagi kesehatan,” ujar Toto awal pekan ini.
Direktur PT Anggara Architeam, sebuah perusahaan konsultan arsitektur di Tebet Barat, ini tak sekadar bersepeda dari rumah ke kantor, tetapi ke mana pun aktivitasnya setelah berada di kantor. Jika ada rapat siang hari di kawasan Jalan Merdeka Selatan, maka rute Tebet- Merdeka Selatan juga ditempuh dengan sepeda.
Motivasinya? Yang pasti, bersepeda membuatnya terbebas dari stres akibat kemacetan yang setiap saat dan di mana pun bisa terjadi di Jakarta. ”Manfaat lainnya jadi lebih hemat, karena tidak perlu mengeluarkan dana bahan bakar kendaraan. Selain itu, dari sisi lingkungan, kita berperan aktif mengurangi emisi gas buang kendaraan bermotor yang memperparah polusi udara,” kata Toto.
Meski sejak 2005 ia pindah domisili ke Tebet Utara sehingga jarak ke kantornya hanya 2 kilometer, ia tetap konsisten bersepeda minimal 18 kilometer per hari, sepanjang ia bisa.
”Seperti saya bilang, bersepeda bukan hanya dari rumah ke kantor, tetapi selama jarak itu bisa saya tempuh dengan sepeda, saya akan pakai sepeda. Begitu pula soal frekuensi. Kalau bisa ber-B2W tiga hari sepekan, ya saya lakukan. Kalau bisa lebih sering dari itu, kenapa tidak,” tutur Ketua Umum Bike to Work Indonesia itu.
Segala lapisan
”Demam” bersepeda, sebagai bagian dari upaya mengatasi kemacetan, ingin lebih sehat, dan ingin ikut serta mengurangi polusi, pada akhirnya lekas menjalar ke berbagai kalangan. Menurut Ketua Bike to Work Indonesia Ozy F Sjarindra, anggota B2W Indonesia sudah mencapai 11.000 orang, tersebar di seluruh Indonesia. Angka itu merefleksikan pertumbuhan anggota yang pesat karena, pada 2004, anggotanya baru sebatas 150 orang.
Anggotanya sangat beragam, mulai dari office boy sampai kalangan pemilik atau direktur perusahaan besar. Mayoritas anggota berusia 25-40 tahun dan tinggal di beberapa wilayah mulai dari Depok, Tangerang, hingga Bekasi, dan kebanyakan berkantor di pusat Kota Jakarta. Dari kalangan tokoh masyarakat, ada pula beberapa pencandu kegiatan bersepeda, seperti aktor Mathias Muchus, Juru Bicara Kepresidenan Dino Patti Djalal, dan tokoh olahraga otomotif Soebronto Laras.
Makin banyaknya warga Jabodetabek yang naik sepeda juga sedikit banyak didongkrak oleh makin maraknya kegiatan sepeda gembira atau fun bike. Kegiatan fun bike dalam rangka ulang tahun ke-10 harian Warta Kota belum lama ini, misalnya, diikuti 2.500 peserta, setelah panitia menolak ratusan peserta lain yang terlambat mendaftar.
Geliat B2W di beberapa kota luar Jakarta juga sudah berhasil mengupayakan fasilitas bersepeda, seperti di Bandung, yang sukses mempersuasi pemerintah kota untuk membuat lajur khusus sepeda. Ini beda jauh dengan Jakarta, yang belum tentu lima tahun ke depan, atau di era gubernur siapa, bisa punya lajur khusus sepeda.
Ozy menuturkan, keanggotaan B2W tidak eksklusif karena bisa diibaratkan kastanya hanya di ”dengkul”. ”Sepanjang dia mengayuh sepeda untuk menjalankan aktivitas keseharian dengan sepeda, dia anggota B2W. Keanggotaan kami cair sekali karena tidak ada alasan untuk mempersulit penambahan anggota. Makin banyak anggota, artinya Indonesia makin sehat. Kan, sederhananya demikian,” ujar Ozy, Direktur PT Astra International, yang kerap bersepeda dari rumahnya di Bintaro ke kantornya di kawasan Sudirman.
Ia merasakan, setelah sering bersepeda ke kantor, badannya terasa lebih sehat. ”Harus diakui, sebelum aktif bersepeda empat tahun lalu, sedikit-sedikit saya sakit, sedikit-sedikit meriang. Apalagi kalau kena debu,” tutur eksekutif Ibu Kota yang sudah punya hobi bersepeda sejak kuliah S-2 di Amerika Serikat itu. Namun, setelah giat bersepeda, ia kini jarang sakit.
Satu lagi yang menarik, B2W juga bukan monopoli kaum adam. Penggiat sepeda kalangan perempuan juga sudah mulai unjuk gigi. Salah satunya Ita Yulita, Direktur PT Alita Praya Mitra, perusahaan di bidang telekomunikasi dan berkantor di Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan. Ita tak hanya giat berkampanye naik sepeda untuk dirinya, tetapi juga untuk sekitar 200 karyawannya.
Sebagai bagian dari kampanyenya di perusahaan, Ita memberikan fasilitas sepeda gratis kepada semua karyawan. Sepeda itu wajib digunakan untuk pergi ke kantor setiap hari Rabu, yang sejak Oktober 2008 ditetapkan sebagai hari bebas kendaraan bermotor di Alita Praya. Perusahaan itu juga menambah fasilitas shower untuk mandi setelah bersepeda, loker, juga mendirikan bengkel khusus sepeda di kantor.
”Awalnya, banyak karyawan yang ngos-ngosan waktu naik sepeda ke kantor, terutama yang perempuan. Maklum, rumahnya kebanyakan di Cibubur, Depok, dan Bekasi. Tetapi lama-kelamaan mereka bisa menikmati juga,” kata Ita, Jumat (29/5).
Saking ”gila”-nya dengan sepeda, Ita tidak mau karyawannya menyia-nyiakan sepeda gratis itu. Ia akan mengomplain karyawan yang tidak bersepeda pada hari Rabu tanpa alasan yang bisa diterima.
Toto, Ozy, Ita, dan ribuan warga Jabodetabek sudah sekian lama membuktikan, ”membe - lah” Jakarta dengan sepeda banyak faedahnya. Dengan penuh kesabaran mereka melakukan itu meski sering mendapatkan perlakuan yang tidak selayaknya dari pengguna mobil atau sepeda motor. Tetapi, mereka yakin, kesabaran akan menuai buah masa depan: bersepeda makin menjadi gaya hidup.
Sabtu, 16 Mei 2009
Menangkal candu facebook
http://www.bisnis.com/servlet/page?_pageid=145&_dad=portal30&_schema=PORTAL30&vnw_lang_id=2&ptopik=B30&cdate=17-MAY-2009&inw_id=673603
Tulisan Noerma Komalasari dari Bisnis Indonesia
gambar dari http://b1ttersweet.files.wordpress.com/2009/04/facebook_sucked_in.jpg
Dinamika
Menangkal candu facebook
Kehadiran situs jejaring facebook bisa menjadi berkah sekaligus beban bagi sebagian orang. Facebook bisa mempertemukan banyak orang. Namun, ini juga bisa menjadi candu yang merusak konsentrasi anak.
Situs ciptaan Mark Zuckerberg ini menjadi amat menarik karena keunggulannya menjaring ribuan anggota yang bisa saling berinteraksi di dunia maya, membuat orang betah berlama-lama berinteraksi di dalamnya.
Bagi mereka yang sudah dewasa dan bisa mengendalikan diri, berinteraksi di facebook sah saja. Namun, bagaimana jadinya jika anak Anda ikut terjangkit candu facebook?
Tidak bisa dipungkiri terpaan media online sudah bukan barang haram bagi anak-anak. Meski membatasi persyaratan anggotanya hanya untuk orang dewasa di atas usia 18 tahun, tidak sedikit anak-anak yang ikut-ikutan tren bermain facebook.
Salah satu di antaranya adalah Kevin Aeldry. Remaja yang baru berusia 14 tahun ini kini mencandu facebook dengan fasilitas akses yang sudah ditanam di telepon selulernya.
Siang hari sepulang sekolah dia langsung membuka akun yang dimiliki. Konsentrasinya tidak terbagi lagi. Dia asyik benar memperhatikan status dan berita terbaru yang disiarkan teman-temannya.
Perhatian Kevin kini hanya tertuju kepada telepon seluler. Makin lama ini membuat ibundanya jengkel. Ella Haryanto, sang ibu, gemas melihat tingkah anaknya yang tidak fokus saat diajak bicara.
"Konsentrasinya buyar kalau saya ajak ngomong jawabnya lama. Bukan hanya itu, kalau saya minta tolong sesuatu dia enggan karena lengket sama facebooknya."
Kendati belum masuk tahap mengkhawatirkan kehadiran situs jejaring itu cukup merepotkan Ella sebagai orang tua. Padahal saban hari Media Relation Manager PT Panorama Sentra Wisata Tbk ini sudah cukup dipusingkan dengan tetek-bengek urusan kantor.
Kurang pintarnya anak dan remaja membagi waktu karena facebook dan aktivitas di dunia maya lain amat disayangkan. Pengawasan pun pada akhirnya diperlukan agar sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.
Menurut psikolog dari lembaga Propotenzia, Lina E. Muksin, hal pertama yang harus dipahami para orang tua adalah penjiwaan terhadap masalah yang dihadapi. Mereka dituntut tidak gagap teknologi dan ikut bergabung ke dalam facebook.
Ikut aktif
Lewat akun tersebut pada akhirnya mereka dapat masuk dalam kelompok yang dibuat si anak. Dengan catatan, sebelum melakukan hal itu, hendaknya digiatkan terlebih dahulu komunikasi cair yang intensif. Tujuannya agar si anak tidak merasa terancam oleh kehadiran orangtuanya di komunitas facebook yang sama.
Menjadi bagian dari apa yang dikerjakan anak membuat para orangtua dapat mengetahui kegiatan, hal yang sedang dipikirkan dan dirasakan anak. Selain itu mereka cenderung akan lebih mudah mengawasi dan mengontrol anak.
Karena itu, Lina menuturkan orangtua atau pengasuh harus pintar-pintar memilih cara berkomunikasi. Kesalahan di dalam berkomunikasi akan menyebabkan gagalnya pendekatan dengan anak.
"Lebih baik memakai bahasa remaja juga bilang saja mau ikutan juga ke dalam komunitas facebook anak. Dengan menjadi temannya di dalam situs itu, orangtua menjadi tahu misalnya mereka sedang mengalami masalah apa."
Hal kedua yang harus dilakukan adalah memberikan tanggung jawab kepada anak untuk mengatur waktu pribadi. Dengan demikian anak akan piawai menentukan prioritas hal yang harus dikerjakan.
Bentuk beberapa kesepakatan bersama melalui komunikasi yang baik. Kesepakatan tersebut juga dapat ditindaklanjuti dengan pemberian penghargaan dan hukuman, sehingga anak tahu konsekuensi atas apa yang telah dilakukan.
"Jangan sampai facebook berlebihan dan mengganggu aktivitas lain. Tunjukkan juga ke mereka bahwa rahasia tidak boleh diumbar di situs jejaring dan banyak situs yang tidak dapat dipercaya," ujar Lina.
Menyadari bahwa pengawasan dan pembatasan akses ke internet merupakan suatu hal yang diperlukan, Ella kini mengetatkan langkah. Dia mulai menahan telepon seluler anak selama bersekolah dan saat belajar pada malam hari.
Kevin pun hanya dapat menggunakan telepon selularnya pukul 13.00 WIB hingga 18.00 menjelang waktu belajar tiba. Apabila melanggar, Ella tidak segan untuk menarik telepon seluler atau memberikan hukuman yang lebih berat.
Lina mendukung apabila orang tua memberlakukan diet media kepada anak yang mengalami kesulitan membagi waktu dan konsentrasi karena media. Mereka hanya diperbolehkan memakai media total selama 2 jam setiap harinya.
Inilah repotnya menjadi orangtua. Namun, tidak ada salahnya bersaing dengan anak sebelum dia lebih jatuh cinta kepada facebook dibandingkan dengan ayah-ibunya. (noerma.sari@bisnis.co.id)
Noerma Komalasari
Bisnis Indonesia
Senin, 11 Mei 2009
Langganan:
Postingan (Atom)