Minggu, 16 Agustus 2009

Prognite




Progressive Interpretation of The Beatles

By:
- Zeke and the Popo
- TIKA
- In Memoriam
- Reversible Circle
- Imanissimo



On Thursday, 06 August 2009


@ Mario’s Place Cikini
Menteng Huis Lt. 2
Jl. Cikini Raya No. 2-4
Jakarta

Sabtu, 15 Agustus 2009

Cd dzeek-dzeek

Album: dzeek
Tahun: 2009
Dejik Records


tracklist:
01-"Off to The Open Land!!"
02-Somewhere, Somewhere
03-What Now
04-Terlihat
05-The Prior
06-Lercha
07-Malingering
08-Hello
09-Jawdropped
10-Who is The King
11-Bigger Dish
12-Getting Older
13-Tripolar
14-Liv

CD GRIBS-Gondrong Kribo Bersaudara




Album: Gondrong Kribo Bersaudara
Tahun: 2009
Suara Gunung Kelud Records


tracklist:
01-Rocker
02-Lawan!
03-Pejuang
04-Malam Frustasi
05-Ketika
06-Sang Peramal
07-Ruang Besi
08-Klaten
09-Gadis Serigala
10-Serangga Kecil
11-Serigala-Serigala
12-Sinetron Indonesia
13-Rock Bersatu

GRIBS yang artinya Gondrong Kribo Bersaudara adalah band rock Indonesia dari Jakarta. Terbentuk pada tahun 2005 dengan formasi awal Bayu (Vokal), Reza (Bass), Dion (Gitar), dan Ravi (Drum) dengan nama Bala-Bala. Seiring baru terbentuknya Band mereka nekat hendak melakukan live di Kafe Barbados. Sehari sebelum hari H, vokalis mereka, Bayu menyatakan tidak bisa ikut tampil lantaran sakit. Terpaksa Reza harus merangkap juga sebagai posisi vokal pada saat pertunjukan berlangsung. Sehari setelah penampilan perdana mereka di Barbados, Bayu di keluarkan dari band. Selama lima bulan lamanya mereka harus berjalan bertiga sebelum akhirnya Ravi memutuskan untuk hengkang karena tergoda urusan cinta. Lalu Reza dan Dion harus mencari pengganti personil-personil yang menghilang. Akhirnya pilihan jatuhlah pada Arief dan Chandra yang memang masih saudara dekat. Dengan hadirnya dua personil baru ini, Reza memutuskan untuk berubah haluan menjadi vokalis, sedangkan posisi Bass di pegang oleh Arief, dan Drum pada Chandra. Dengan formasi solid empat orang ini mereka gemar melakukan pertunjukkan di Warung Apresiasi, Bulungan. Namun sekali lagi mereka harus di timpa sedikit ujian, Sang drummer, yaitu Chandra, memutuskan keluar dari Band setelah tiga tahun lamanya berjuang bersama. Ia memutuskan untuk berkarier di sebuah Bank ternama di Indonesia. Sekali lagi mereka harus berjalan bertiga. Dengan semangat juang “Anak Muda” yang tak takut mati, mereka bertekad untuk serius berkarya di dunia musik. Sekali lagi, sembari terus berkarya, mereka berusaha mencari personil baru untuk mengisi kekosongan pada Drum. Pada akhirnya mereka bertemu dengan saudaranya Arief yang bernama Rashta, pemain drum sebuah band Hardcore di Jakarta.

Dan pada saat itu nama band mereka ditetapkan menjadi GRIBS yang artinya Gondrong Kribo Bersaudara. Dengan adanya Rashta mengisi kekosongan posisi pada Drum, semakin menambah solid formasi GRIBS.

Vocal : REZANOV 
Guitar : DION ARNALDO 
Bass : ARIEF TRI SATYA 
Drum : RASHTA

Influences : motley crue, loudness, led zeppelin


CD Navicula-Salto

Album: Salto
Tahun: 2009


tracklist:
01-Menghitung Mundur
02-Pantai Mimpi
03-Kau Datang
04-Alien
05-Over Konsumsi
06-Everyone Goes to Heaven
07-Peace Pretenders
08-Kill the Fireflies
09-Raut Wajah Bisu
10-Budi Si Berani Mati
11-Istana Waktu
12-Aware
13-Mensyukuri & Menikmati
14-Terima Kasih


CD Navicula-Alkemis



Album: Alkemis
Tahun: 2005
Sony Music Entertainment Indonesia

tracklist:
01-Supremasi
02-Kau & Aku
03-Kidung Bulan & Matahari
04-Parasit
05-Jiwan Mukti
06-Suram Wajah Megeri
07-Keluarga Tanpa Batas
08-Cosmogony
09-Ubud
10-Aware
11-Jujur & Setia
12-Kali Mati
13-Zat Hijau Daun
14-Pulang
15-Kami No Mori

Jumat, 31 Juli 2009

Rahma-Yunara Kayuh Impian dengan Sepeda


http://megapolitan.kompas.com/read/xml/2009/08/01/08533473/Rahma-Yunara.Kayuh.Impian.dengan.Sepeda
Rahma-Yunara Kayuh Impian dengan Sepeda

KOMPAS/DANU KUSWORO

SABTU, 1 AGUSTUS 2009 | 08:53 WIB
MENJADI penyandang tunarungu tak menjadi halangan bagi pasangan suami-istri, Yunara (33) dan Rahma Anggraeni Chibro (28), yang ingin mulai mewujudkan impian untuk keliling Indonesia. Dengan mengayuh sepeda yang terkadang mengeluarkan bunyi ngik-ngik-ngik, mereka mulai gowes dari Bandung, 30 Juni lalu.

Setelah tiga hari di Jakarta, keduanya datang ke Kompas, Kamis (30/7), dengan ditemani Alfa Febriyanto dari Komunitas Pekerja Bersepeda Indonesia, Bike 2 Work Indonesia. Mereka semangat bercerita ingin keliling Indonesia untuk membuktikan penyandang tunarungu pun memiliki kemampuan sama dengan orang normal untuk melakukan segala sesuatu yang luar biasa.

Melewati jalan ramai sepanjang Bandung-Cianjur-Puncak-Bogor-Cibinong-Depok-Jakarta, Rahma ngeri dengan truk, bus, dan sepeda motor yang melaju kencang dan ugal-ugalan. ”Rahma depan. Saya belakang. Truk, bus, angkot (angkutan kota), bemo, sepeda motor tidak bagus. Mobil pribadi bagus (tak ugal-ugalan),” kata Yunara dengan cara bicara kurang lancar.

Selama perjalanan, Rahma-Yunara sering berhenti melihat petunjuk jalan atau bertanya kepada polisi lalu lintas dan pedagang kaki lima untuk mengetahui arah tujuan. Jika tidak ada yang mengerti apa yang mereka tanyakan, Rahma siap dengan pena dan buku. Keduanya terus mengayuh sepeda tanpa sarapan. Jika tiba waktu makan siang, mereka hanya minum air putih dan roti. Makan nasi hanya pada malam hari. ”Kalau sudah gowes, lupa makan,” kata Yunara sambil tersenyum.

Padahal, ransel yang dibawa di pundak lumayan berat karena berisi pakaian, baju pramuka, kaus, sepatu, obat-obatan, vitamin, dan peralatan mandi. Segala macam dokumen penting, seperti ijazah, sertifikat, foto, dan permohonan dukungan moril dan materiil, juga dibawa.

Meski pasangan suami-istri kelahiran Bandung itu masih bisa sayup-sayup mendengar suara klakson, tetap saja tidak luput dari senggolan kendaraan lain. Rahma pernah tertabrak sepeda motor dan Yunara keserempet angkot. Tidak jarang pula keduanya dimaki-maki karena tidak juga minggir meski diklakson berkali-kali. ”Saya bilang maaf, maaf,” kata Rahma.

Rahma-Yunara singgah beberapa hari di Jakarta karena ingin bertemu pejabat. Sejauh ini mereka baru berhasil bertemu Menteri Negara Pemuda dan Olahraga Adhyaksa Dault.

Sulit cari kerja

Ide keliling Indonesia muncul awal tahun ini dan terbentur masalah dana karena baik Rahma maupun Yunara tidak bekerja. Keduanya sehari-hari aktif sebagai pramuka luar biasa tunarungu. Rahma menganggur sejak 6 tahun lalu, sementara Yunara di-PHK 15 tahun lalu.

Kedua mantan atlet nasional kejuaraan khusus penyandang cacat—Rahma atlet lompat jauh dan Yunara atlet lari jarak 100 meter—itu berkali-kali mencoba melamar di pabrik dan ”kerja kantoran”. Namun, mereka selalu ditolak karena perusahaan tidak mau menanggung risiko memiliki karyawan penyandang tunarungu. ”Takut kecelakaan. Tidak dengar,” kata Yunara.

Rahma segera menambahkan, ”Tunanetra kerja bagus. Cacat fisik ada kerja. Tunarungu tidak ada kerja. Saya ingin kerja,” kata Rahma geregetan. Rahma dan Yunara berharap hasil dari keliling Indonesia ini bisa dipakai sebagai modal usaha menjahit.

Berbekal Rp 250.000, keduanya memulai perjalanan. Sebelum berangkat, mereka menitipkan anaknya, Fadhilah Dzulfiani (3), kepada saudara sekaligus pemilik rumah kontrakan mereka di Jalan Jati Menak C4-7 RT 03 RW 06, Margaasih, Bandung.

Jika kangen Zulfi, mereka tinggal mengetik SMS dan mengaktifkan video call di telepon genggam low end karena tidak bisa memanfaatkan fasilitas suara. Keduanya bisa berkomunikasi dengan bahasa isyarat melalui video call dengan teman sesama penyandang tunarungu yang ikut membantu menjaga anak mereka. ”Bisa lihat Zulfi,” kata Rahma yang kerap menuliskan kalimat yang sulit dipahami lawan bicara.

Selain pembuktian diri, Rahma juga ingin mencari ayahnya, Suvenir Chibro, yang tak diketahui kabarnya lagi sejak 2000. Rahma hanya tahu ayahnya kini bekerja di kantor kejaksaan tinggi di Papua. ”Dua puluh tahun ditinggal ayah, ketemu sekali tahun 2000,” tutur Rahma yang ditinggal ayahnya ketika ia berusia 2 tahun. Sepeninggal ayahnya, Rahma demam tinggi dan kehilangan pendengaran.

Rahma-Yunara berharap bisa selesai keliling 33 provinsi selama 1,5-2 tahun. Impian Rahma tak hanya berakhir di situ. Setelah keliling Indonesia, ia ingin mengayuh sepeda hingga ke luar negeri. ”Mau ketemu Obama (Presiden AS Barack Obama). Lama ya. Mungkin 7 tahun ya naik sepeda ke Amerika,” kata Rahma dengan tawa berderai. (LUKI AULIA)

Neil, dari Spanyol Menebar Tawa


http://megapolitan.kompas.com/read/xml/2009/08/01/0912081/Neil..dari.Spanyol.Menebar.Tawa
Neil, dari Spanyol Menebar Tawa

KOMPAS/AMIR SODIKIN
Alvaro Neil

SABTU, 1 AGUSTUS 2009 | 09:12 WIB
Bersama Karma, nama sepedanya, yang membawa beban bagasi 80 kilogram, dia sudah menjelajahi 54 negara. Dari Spanyol, Alvaro Neil menapaki Amerika Selatan, Afrika Selatan, Timur Tengah, dan kini di Asia. Tepatnya di Jakarta.

Misinya satu: membuat orang-orang tersenyum dan tertawa tanpa beban. Baginya, ”dokter spesialis” yang bisa membuat orang bisa tertawa adalah badut.

Ya, Alvaro Neil adalah badut. Dialah badut bersepeda atau bahasa Spanyol-nya, bici clown (www.biciclown.com). Biciclown.com adalah situs web pribadinya.

Dari Malaysia, Neil merapat ke Indonesia lewat Sumatera. Kedatangan Neil di Indonesia menggunakan kapal, dia catat rapi di bukunya, 12 Juni 2009.

Dia menyempatkan diri ke Pulau Nias, menemui dua sahabatnya, kemudian menjelajahi daratan Sumatera yang berbukit-bukit. Barulah, Selasa (28/7), dia sampai di Jakarta.

Di Jakarta, Neil menginap di rumah presenter televisi dan penyiar Radio Motion, Jakarta, Arie Dagienkz. Arie memang khusus menyediakan tempat untuk para pengelana bersepeda.

Rabu (29/7) pagi lewat Radio Motion, Alvaro Neil sudah ikutan mengocok perut para pendengar. Ceplas-ceplos, gaya bicara yang ramai, membuat penyiarnya juga terkekeh-kekeh.

Acara itu adalah yang pertama di Jakarta. Rencananya, dia menggelar pertunjukan badut gratis di Jakarta untuk orang-orang tak beruntung, misalnya narapidana, pasien, dan para anak yatim.

”Tapi, saya tidak punya kontak di Jakarta, jadi belum ada pertunjukan. Kedutaan (Spanyol) tak bisa memberi bantuan banyak,” kata Neil, yang telah menggelar 50 kali pertunjukan di beberapa negara.

Di Indonesia, dia akan tinggal lima hingga enam bulan. Dari Jakarta, ia akan bergerak ke timur menelusuri Pulau Jawa menuju Timor Leste. ”Dari Timor Leste ke Sulawesi, kemudian Filipina, setelah itu Kalimantan,” katanya.

Dia tak punya preferensi politik atau kecenderungan ideologi tertentu. Baginya, misi bersepeda ini mengalir saja.

Apakah ada rencana mengunjungi daerah tertentu? ”Tak ada rencana. Dalam perjalanan, rencana saya adalah tak ada rencana. Apa pun bisa terjadi besok,” katanya.

Mantan pengacara

Sebagian orang, bahkan termasuk ibunya, menganggap apa yang dilakukan Neil itu gila. Namun, dia bersikukuh menjalani proyek pribadi yang diberinya nama MOSAW (Miles of Smiles Around the World) dengan target waktu 10 tahun, 2004-2014.

Dia adalah mantan pengacara yang sudah berpraktik selama lima tahun di Madrid. Lelaki yang mempelajari ilmu hukum dan juga ilmu badut ini menyadari, kekayaan tak berarti apa-apa karena hidup begitu singkat. Ia merasa harus melakukan sesuatu.

Alvaro Neil memilih bersepeda. Dia mulai berkelana ke Swiss dan Amerika Selatan tahun 2001. Seusai menjelajahi 10 negara di Amerika Selatan, pada 2004 ia memutuskan keliling dunia. Ia menjual mobil dan menguras tabungan untuk proyeknya.

Salah satu ”keahlian” Neil adalah mampu bertahan hidup dengan biaya murah. ”Saya tak menginap di hotel, tetapi tinggal di rumah penduduk lokal atau memasang tenda,” katanya.

”Saya hanya makan makanan lokal. Kadang penduduk lokal memberi saya makan, dan donasi,” tambahnya. Mulai dari tempat dingin bersalju hingga panas menyengat, seperti gurun, sudah ia lalui bersama Karma.

Baginya, kecepatan sepeda selaras dengan kecepatan manusia. Apa pun yang terjadi pada kecepatan itu bisa tetap dinikmati. Lalu, apa artinya bersepeda baginya?

”Bersepeda itu cara saya mengerti hidup. Ini adalah cara saya untuk hidup, untuk melihat dunia. Orang banyak membantu saya karena sepeda,” katanya.

Dengan bersepeda, dia merasa bisa mencium bau tanah, merasakan cuaca, dan dekat dengan alam. ”Saya tak suka kecepatan, tak suka kendaraan polutif,” katanya.

Takut bus

Dia tak takut melewati daerah berbahaya, juga tak takut akan kelaparan. ”Jika kita takut penderitaan, kita akan menderita ketakutan selamanya,” ujarnya.

”Saya hanya takut kepada sopir bus dan truk yang ugal-ugalan. Serius, ini menakutkan saya karena ada teman yang meninggal karena tertabrak bus,” katanya.

Apalagi di Indonesia pada umumnya, Neil mengkritik perilaku pengguna jalan yang tak punya rasa hormat kepada pengendara sepeda.

Dengar juga gugatan lainnya. ”Sebagian orang Indonesia itu ramah, tetapi mereka tak peduli lingkungan. Mereka membuang sampah sembarangan. Jakarta yang polutif seperti ini membuat saya sedih,” katanya.

Pesan Neil, jangan remehkan pesepeda. Bagi mereka, bersepeda adalah pilihan ideologi ramah lingkungan dan tak bisa diganggu gugat. Apalagi oleh mereka yang setiap hari mencemari Bumi dengan asap kendaraan.

Ia selalu mencatat kejadian-kejadian unik dan penting, baik di buku harian maupun di situs web. Kabar terbaru dari Neil adalah pertemuannya yang mengejutkan dengan sesama pengelana dunia, Jean Beliveau (www.wwwalk.org).

Beliveau adalah warga Kanada yang juga keliling dunia sejak tahun 2000 dan berencana hingga 2011. Neil pernah bertemu Beliveau di Peru, tujuh tahun lalu. Kini mereka bertemu tak sengaja di warung tegal di daerah Tangerang.

Pengalaman menjengkelkan juga dia ceritakan ketika menapaki jalanan Sumatera dengan tanjakan dan turunan ekstrem. ”Benar-benar tak ada jalan untuk pesepeda,” katanya.

Penduduk lokal juga tak banyak membantu di jalanan Sumatera. Pengendara mobil dan sepeda motor berperilaku buruk. ”Mereka selalu membunyikan klakson setiap saat. Terkadang meneriaki saya saat saya berada di tengah tanjakan,” paparnya.

Di jalan yang dilewati sepanjang 65.089 kilometer, Neil selalu mencatat pengalamannya, baik positif maupun negatif. Sayangnya, di jalan juga, perilaku sesungguhnya sebuah bangsa selalu terkuak. Oleh karena itu, tetaplah tersenyum dan murah hati, jangan ugal-ugalan jika ingin dianggap bangsa yang ramah. (AMIR SODIKIN)