Selasa, 30 Desember 2008

Kok pada lahir 1 Januari??

Beberapa hari ini tiap lihat inbox di MP, kok di Upcoming Events pas  Thursday, January 1. banyak banget yang birthday?

ini memang tgl Ultah
atau
pas buat akun di MP cuman nyomot tgl 1 Januari ya?


yang jelas siap-siap ngucapin met ultah massal   

Senin, 29 Desember 2008

Jl. Surabaya 28 Desember 2008


Sea Breeze

Mampir ke jl. Surabaya gak banyak CD Indonesia yg tersedia, lumayan dapet 3 single Queen, 2 album Deep Purple, GRP artist serta beberapa CD lokal

Senin, 22 Desember 2008

Soto Brutu

Pagi ini, sesuai Jadwal setiap Selasa dan Jum'at saya biasanya ber B2W ke kantor. Saat siap-siap tiba-tiba gerimis rata turun membasahi bumi. Segera ambil raincoat warna Ijo Pupus dan merapikan backpack, dan memasukkan baju kedalam box.
Sepeda, hmmm karena hujan saya pilih sepeda Federal yang sudah berumur 18 tahun, untuk tunggangan hari ini, dengan pertimbangan Federal ini terpasang ban yang cocok dengan kondisi jalan yang basah (hehehehe, emang Lewis Hamilton doang yang pake ban basah, ban kering).
Setelah minum air madu hangat racikan Istri, segera gowes perlahan menyusuri jalan basah. Sepanjang perjalanan gerimis rata membasahi muka, berulangkali terpaksa berhenti untuk ngelap kaca mata (coba kalo kacamata ada wipernya), angin dingin terasa kencang membawa butiran gerimis menerjang badan.


Sesampainya Juanda III, mampir ke Warung Soto, dan segera memesan :
  • 1 porsi "Soto Brutu",
  • setengah porsi nasi putih,
  • 1 tusuk sate telor puyuh dan
  • segelas teh tawar hangat.

Rasa brutu nya, kenyil-kenyil mak nyusss, ditimpa kuah soto panas sungguh mantabbbb ditengah udara dingin pagi.

Soto ini dilidah saya sungguh cocok..., kalo mau nyoba silahkan mampir ke Jl. Juanda III di depan Bayu Buana Travel.

Buka setiap hari dari jam 6.00 WIB sampai sekitar jam 14.00 WIB. Kecuali hari minggu tutup.

Nyepeda dan Nyoto memang paduan yang pas...

Ibu

Meskipun kemarin beli CD Efek Rumah Kaca-Kamar Gelap dan Queen + PR the cosmos rock, namun di tanggal 22 Desember  bertepatan hari Ibu, saya cuman pingin muter lagu tentang Ibu. Banyak lagu yang bercerita tentang sosok yang luar biasa ini, namun saya selalu meneteskan air mata setiap mendengar lagu ciptaan Iwan Fals ini.
Meresapi vocal getir Iwan Fals dan petikan gitar akustik Ian Antono, terasa ada kegetiran, kebahagiaan, dan rasa kagum luar biasa yang muncul dihati,
"dengan apa ku membalas"

Ibu

Cipt  : Iwan Fals
Album :‘1910’
Tahun :1988


Ribuan kilo
Jalan yang kau tempuh
Lewati rintang
Untuk aku anakmu

Ibuku sayang
Masih terus berjalan
Walau tapak kaki
Penuh darah penuh nanah

Seperti udara
Kasih yang engkau berikan
Tak mampu kumembalas
Ibu.....
Ibuu.....

Ingin ku dekat
Dan menangis dipangkuanmu
Sampai aku tertidur
Bagai masa kecil dulu

Lalu doa doa
Baluri sekujur tubuhku
Dengan apa membalas
Ibu.....
Ibuu.....


Ribuan kilo
Jalan yang kau tempuh
Lewati rintang
Untuk aku anakmu

Ibuku sayang
Masih terus berjalan
Walau tapak kaki
Penuh darah penuh nanah

Seperti udara
Kasih yang engkau berikan
Tak mampu kumembalas
Ibu.....
Ibuu.....


Kamis, 18 Desember 2008

Sosok. Om Toto Sugito-Antipemanasan Global


http://cetak.kompas.com/sosok
Toto, Antipemanasan Global

Kompas
Kamis, 18 Desember 2008

NINOK LEKSONO

Pada masa lalu, tak banyak yang bisa diceritakan tentang aktivitas bersepeda. Sebagai moda transportasi, dulu, bersepeda merupakan hal yang wajar karena belum banyak kendaraan bermotor dan jarak yang harus ditempuh relatif tak jauh sehingga dari segi waktu pun bersepeda nyaman saja. Popularitas bersepeda turun seiring tersedianya transportasi kendaraan bermotor. Kini, bersepeda justru tampil dengan nilai dan kearifan lain.

Bersepeda tak saja menghadirkan gaya hidup sehat, tetapi juga menyampaikan pesan prolingkungan. Itu karena bersepeda berkontribusi pada pengurangan penggunaan bahan bakar minyak (BBM). Bahkan, lebih jauh, bersepeda itu merespons anjuran untuk menanggulangi pemanasan global karena aktivitas tanpa BBM berarti tak melepaskan gas rumah kaca yang menjadi biang utama fenomena pemanasan global.

Alasan yang bersifat praktis, bersepeda lebih lincah dalam menembus kemacetan lalu lintas di kota-kota besar.

Itulah yang diamati Toto Sugito (45), Ketua Umum Bike to Work (B2W), komunitas pengguna sepeda ke kantor (atau kegiatan lain).

Landasan aktivitas yang logis dari sejumlah argumen tersebut membuat anggota komunitas terus bertambah. Kelompok ini pun tak hanya eksis di Jakarta, tetapi juga di kota-kota lain di Indonesia. Menurut Toto, anggota B2W di berbagai kota mencapai 10.000-an.

Bersepeda pada satu sisi lalu tampak sebagai suatu gaya hidup modern. Di sini juga tersirat niat tulus untuk bersikap baik terhadap Sang Bumi.

Menengok kembali awal B2W, Toto yang untuk kiprahnya mendapat penghargaan dari Swiss Contact dan ”Indonesia Berprestasi” dari XL ini mengatakan, ide pendirian B2W muncul setelah ia semakin prihatin dengan kondisi polusi udara, keterbatasan tempat parkir, dan kemacetan. Toto—sebelumnya ia pencinta sepeda gunung—lalu mencoba moda transportasi alternatif untuk ke kantor. Jalur Cibubur-Tebet, Jakarta Selatan, lalu menjadi rute hariannya sejak 2004.

Pada awalnya, sang istri keberatan Toto bersepeda ke kantor karena alasan polusi udara sangat tinggi. Jalan keluarnya, Toto memakai masker yang bermutu baik.

Setelah merasakan manfaatnya, Toto kemudian memperkenalkan ”bersepeda ke kantor” tersebut kepada teman-teman dekatnya. Ternyata sambutan mereka positif. Oleh karena itu pula, tahun 2005 Toto lalu menghimpun komunitas pekerja bersepeda dalam B2W.

Tidak butuh waktu lama, komunitas ini berkembang menjadi tren baru di kalangan eksekutif muda. Malah berikutnya, gaya hidup bersepeda ini meluas pula di kalangan remaja, bahkan juga ke kalangan mereka yang berusia lanjut.

Keluarga dari sebagian anggota komunitas ini, yang semula sempat meragukan, kini justru ikut pro terhadap aktivitas bersepeda yang dipelopori Toto. Kendaraan utama anak pertama dia yang belakangan kuliah di Bandung juga sepeda. Adapun kedua anak Toto yang lain baru menggunakan sepeda sebagai alat olahraga.

Penitipan sepeda

Toto memimpikan B2W dapat berkembang menjadi komunitas serupa yang sukses seperti di Kanada dan banyak negara Eropa, khususnya Belanda. Di negara-negara itu, meski sarana transportasi bermotor pribadi dan umum sangat baik, banyak warga yang memilih menggunakan sepeda untuk menunjang aktivitas sehari-hari mereka.

Di dekat stasiun kereta api, banyak terlihat area parkir sepeda. Selain pertimbangan kesehatan dan nonpolusi, secara transportasi, sepeda pun bisa menjadi pengumpan (feeder) bagi aktivitas commuting (ulang-alik, pergi-pulang, rumah-tempat bekerja yang cukup jauh).

Bukankah peran serupa juga masuk akal bagi busway yang belakangan dipromosikan di kota-kota besar Indonesia? Tentu saja masih diperlukan penyediaan fasilitas penitipan sepeda yang bisa diandalkan, bila hal tersebut hendak dikembangkan di Indonesia. Namun secara ide, hal itu masuk akal.

Berbicara tentang tolok ukur kesuksesan B2W di Indonesia, hal ini, menurut Toto, tidak semata bisa dicerminkan oleh banyaknya anggota komunitas, tetapi juga seberapa jauh bersepeda dapat menjadi gaya hidup masyarakat Indonesia.

”Artinya, masyarakat kita menjadi sadar betul akan masalah polusi udara dan hubungannya dengan perubahan iklim, juga bagaimana energi atau BBM yang ada bisa dihemat untuk generasi selanjutnya,” kata Toto.

Bila kesadaran tersebut telah dipahami masyarakat luas, tentu tidak akan sulit untuk menambah anggota komunitas bersepeda.

B2W dalam hal ini mengajak masyarakat menggunakan sepeda tidak hanya sebagai alat olahraga dan/atau rekreasi, tetapi juga sebagai alat transportasi yang ramah lingkungan sekaligus menyehatkan bangsa.

Dalam posisi ini, sepeda memang tergolong unik karena peran mendukung mobilitas muncul seiring dengan peran menyehatkan, sekaligus peran memelihara lingkungan.

Jalur khusus

Toto yang sehari-hari bekerja sebagai direktur di sebuah perusahaan konsultan arsitektur ini punya cara mudah dalam mengampanyekan kegiatan bersepeda, yakni melalui 3M.

”3M itu maksudnya: Mulai bersepeda dari diri sendiri, Mulai bersepeda dari jarak terdekat, dan Mulai bersepeda sekarang juga.”

Toto menyadari bahwa aktivitas bersepeda di perkotaan bukannya bebas dari tantangan. Selain udara penuh debu, banyak kota besar di Indonesia belum atau tidak punya jalur khusus sepeda. Bahkan, kata dia, sudah ada pengendara sepeda yang menjadi korban kecelakaan lalu lintas karena berbagi jalan dengan kendaraan bermotor besar dan kecil.

Maka, wajarlah kalau salah satu harapan komunitas B2W adalah tersedianya jalur khusus untuk sepeda.

Jalur yang akan membuat aktivitas bersepeda bisa dilakukan dengan aman sehingga menjadi insentif bagi mereka yang ingin bergabung dalam komunitas ini, tetapi masih meragukan keamanan aktivitas bersepeda.

Di luar tantangan yang ada, Toto yakin, ide bersepeda besar faedahnya tidak saja bagi individu bersangkutan, tetapi juga untuk masyarakat, bahkan bagi kelestarian lingkungan Bumi.

Panitia ”Indonesia Berprestasi Awards” menilai, apa yang dilakukan Toto Sugito memiliki kekhasan yang relevan dengan permasalahan yang tidak saja dihadapi masyarakat Indonesia, dalam hal ini terkait dengan lalu lintas perkotaan yang semakin macet dan terkena polusi, tetapi juga dengan upaya bersama seluruh umat manusia untuk menanggulangi pemanasan global yang berakibat mengerikan.

Selasa, 16 Desember 2008

ProgNite

Start:     Dec 19, '08 7:30p
Location:     Viky Sianipar Music center, Jl. Minangkabau Timur # 43, Jakarta
info dari milis m-claro:

Indonesian Proggresive Society kembali menyelenggarakan Proggresive Nite
Menampilkan :
- Glosalia
- Prophet
- Votel Roffs
- IMANISSIMO

Waktu:
Jumat - 19 Desember 2008
mulai Pk. 19.30 - s.d. selesai

Tiket ( FDC ):
Umum .......................Rp 50.000,-
Mahasiswa/Pelajar ..... Rp 25.000,-

Senin, 15 Desember 2008

Extreme World Tour 2008-Take Us Alive, Tennis Indoor Senayan, Jakarta




Beberapa gambar lo-res diambil pake HP-SonEr serie G